mereka bilang SEMANGAT!

Posted in Uncategorized on Maret 4, 2009 by bungkusterasi

ini tulisan gw, curhatan gw, bukan nisa…hehehe melanjutkan blog milik bersama ^_^

catatan orang yang kelelahan

beberapa hari yang lalu, gw stress! pernah lo merasa tidak memiliki arti? itu yang gw rasain saat itu. tidak memiliki arti untuk orang lain, bahkan setelah lo udah ngasih semuanya: pikiran, tenaga, juga materi. semuanya! (apalagi yang bisa gw kasih? karena udah semuanya). juga tidak memiliki arti buat diri sendiri, karena gw ngerasa apa yang udah gw lakuin, semuanya tak memiliki arti, sia-sia, gw ga berguna.

kebanyakan orang berpikir: itulah gunanya kita memiliki teman, sahabat, keluarga, juga pacar (hehe, gw ga punya pacar deng). mereka berusaha menyemangati kita, sesuai dengan fungsinya. dan betapa mereka begitu berarti di saat kita dalam kondisi yang paling parah. tapi, itu tidak gw rasakan. bagi gw, itu menyiksa.

gw tidak butuh semangat: “Semangat! Kamu bisa”, “gw yakin lo kuat, Semangat!”, “oyo fat, Semangat! lw bukan orang yang lemah”, “blablabla, Semangat! lalalalala”.  semangat itu berubah menjadi siksaan. gw pun berpikir: “oooo gw harus lebih berusaha lagi”, “gw mampu, ini masih belum cukup”. al hasil, gw terkapar.

“tali itu harus dikundurkan,” sayang, begitu seharusnyagw lelah. Semagnat! (terus tarik, biar putus sekalian!) itu maksudnya?!! kalian cukup bilang, dan seharusnya kalian bilang: “udah fat, udah cukup”, “kamu sudah cukup berusaha”, “istirahat”. itu yang gw butuh kan. 

kepada teman-teman yang dengan cinta kasihnya terus menopangku dan menyemangatiku. maaf… gw tidak paham

Aku ingin….

Posted in Uncategorized on Maret 7, 2008 by bungkusterasi

Aku ingin sekali melarikan diri…Dari diriku, dan segala tentangku. Tapi aku tak menemukan tempat untuk bersembunyi…..

Dilarang minum kopi….

Posted in Uncategorized on Maret 2, 2008 by bungkusterasi

Ayah    : Kopi lagi…kopi lagi…dikasih taunya bandel nih anak!

Aku diem

Ayah    : Skalian aja sama rokoknya Nis!

Aku      : Nantangin, nyuruh, atau ngasih saran? Tapi idenya boleh juga… (dalam hati. Kalo diomongin langsung, takut digorok!)

lebih-keren.gif

Tampaknya di bawah sistem yang tak memperbolehkan perempuan melakukan apapun selain yang digariskan, perempuan juga harus membebaskan dirinya sendiri dari apapun yang mencegahnya untuk melakukan sesuatu hanya karena ia seorang perempuan… (PAM)

Andreas yang Kutemui Waktu Itu…

Posted in Uncategorized on Maret 2, 2008 by bungkusterasi

Foto Andreas yang kuambil dari blognya. Hihihi….

Malam itu Andreas asyik memasak pancake untuk anaknya, ketika aku dan seorang kawan memutuskan untuk bertandang dari Bandung. Di apartemennya, Andreas menyambut kami dengan sangat ramah, walau kedua tangannya tak henti menyiapkan ini dan itu. Anak semata wayangnya yang asyik menonton televisi datang mengambil pancake hangat yang sengaja Andreas buat. Andreas tersenyum senang.

Dua orang yang dikenal malas mandi, malas mendengarkan dosen, dan malas mengerjakan tugas, tiba-tiba saja dengan semangat menggebu ingin bertemu dengan orang-orang yang namanya hanya sering disebut di buku. Bandung – Senayan – Utan Kayu – Senayan – Bandung, rasanya seperti berangkat dari kamar kosan ke kampus.

Kini Andreas duduk di hadapanku. Kaus putihnya senada dengan parasnya yang selalu menimbulkan respek. Sikapnya yang antusias membuat kami merasa sangat diperhatikan. Sorot matanya sangat ramah. Tapi di panasnya malam Jakarta, Andreas malah bercerita tentang keluarganya.

Kecintaan pada anak semata wayangnya, Norman, yang tak bisa ia sembunyikan, mantan istri pertamanya yang tak kunjung ia mengerti, hingga baby sitter Norman yang ternyata dipecat mantan istrinya pagi tadi. “She is the only light, the only candle in the darkness…” Seingatku, itu yang dituliskan Norman pada Komisi Perlindungan Anak tentang baby sitter itu. Dan kini ia telah pergi.

Saat mengungkapkan semuanya, tiba-tiba dalam sorot matanya yang ramah, kulihat ada kepedihan…

Tapi aku memang tak bisa berkata apa-apa. Aku mengutuk diriku karena tak mampu melakukan apapun untuknya. Apa yang mampu kulakukan hanya satu, mengirimkan beberapa pesan singkat ketika aku berada dalam bus, yang mungkin tak akan mengubah apapun baginya.

Sial. Aku malah teringat kepedihanku sendiri. Jalanan masih tampak gelap, dan hanya menyisakan lampu sorot mobil untuk kupandang. Hampa. Untuk menghibur diri, aku mengingat sebuah lagu yang selalu kunyanyikan ketika aku merasa tertekan. Memutar lagu lama itu kembali dalam benakku…

“There’s nothing here for me on this barren road/There’s no one here while the city sleeps and all the shops are closed/Can’t help but think of the times I’ve had with you/Pictures and some memories will have to help me through,”

“Aku cuma seorang ayah yang kerepotan mengurus anak semata wayangnya…” Itu isi sms dari Andreas. Saat itu aku tahu bahwa hidup ini kadang menjadi berat untuk ia lalui dengan segala kemandirian dan prestasinya yang mengagumkan…

*****

Sebelum malam itu aku dan kawanku tersenyum simpul. Sebabnya, siang hari sebelum kami mendatangi apartemen Andreas, secara tak sengaja kami berpapasan dengannya. Kulihat ia berjalan sambil mengapit lengan putranya, Norman. Dua orang itu kemudian berhenti di pinggir jalan sambil menikmati es tebu. Sungguh pemandangan yang semakin sulit didapatkan di pinggiran kota Jakarta. Ah, andai saja kami membawa kamera…

Malamnya kami bertiga berbincang akrab, sambil sesekali diiringi canda tawa. Lengan kirinya yang bertato, tetap saja tak bisa menghapuskan kesan ramah pada orang yang sangat menikmati hidupnya sebagai wartawan ini.

Sesudah bertandang ke kediamannya kami berdua merasa girang. Diemas, terutama. Karena ia sudah memimpikan bertemu Andreas sejak lama. Ia mengucapkan terima kasih pada Andreas, dan berjanji akan menjadi wartawan yang hebat. Tiba-tiba saja ia mengikrarkan diri tidak akan bermalas-malasan seperti yang biasa kami lakukan. Padahal beberapa jam yang lalu aku masih tertawa cekikikan melihat Diemas yang dimarahi ayahnya, karena IPK-nya jeblok.

Aku sendiri memang sangat girang bisa bertemu dengan orang hebat, yang membuatku sadar bahwa masih ada jurnalis yang tidak tunduk hanya pada uang. Jurnalis yang bukan tukang. Jurnalis yang ramah, yang masih sempat membuatkan pancake untuk putra semata wayangnya… Yang paling membuatku girang tentu karena akhirnya aku berani turun menggunakan lift! Padahal sudah beberapa tahun ini aku berusaha menghindar kalau harus berurusan dengan gedung tinggi. Aku sampai melompat-lompat kegirangan dalam lift, saat aku tau aku berhasil mengatasi rasa takutku. Untung saat itu hanya Diemas yang melihat…

Saat itu aku belajar untuk tidak mengizinkan rasa takut menghalangiku menemukan saat-saat terbaik dalam hidup…

*****

Dalam bis,

Malam itu, rasa senang dan sakit bercampur menjadi satu…

Seperti aku yang mengeluarkan air mata ketika tertawa, mungkin bahagia dan rasa sakit memang datang beriringan dari sisi paling misterius dari dalam diri manusia. Ketika memikirkan itu aku jadi teringat ocehan seorang teman. “Trus mau ngapain lagi kalo nggak ketawa-ketawa? Seenggaknya dari situ berarti kita masih punya harapan hidup dan nggak menyerah atau memilih mati…”

Sms terakhirku tak dijawab Andreas. Bosan menunggu, dalam bis aku tertidur sambil tersenyum menyeringai. Hidup memang kadang harus dilawan…

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak…

Posted in Terasi, Uncategorized on Februari 15, 2008 by bungkusterasi

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak, maka mungkin aku harus bertanya pada siang itu, saat sebuah tangan menggenggam tanganku. Tanganmu. Memang, memang bukan untuk apa-apa. Hanya untuk dijabat.

Dan kau tersenyum…

Kita bicara soal cinta. Memang bukan berdua. Banyak. Ketika aku di sana dan menjadi sebuah bilangan, menatap setiap orang yang bertutur, membicarakan satu hal. Cinta. Lalu mengapa saat itu hanya aku yang terdiam?

Entahlah… ada yang terasa menyekat dan mencegahku untuk membicarakan sesuatu yang ingin kubagi berdua saja. Denganmu, yang tak pernah mempunyai kontrak apapun. Denganku, yang siang itu masih menjadi sebuah bilangan.

Hari itu siang. Memang tak terik. Tapi mengapa aku malah teringat malam? Sebuah malam, yang kuingat itu adalah hari Senin. Ya, pikiranku malah melayang ke sana. Ke dua malam sebelum ulang tahunmu, dan aku yang sedang berada di sebuah ruangan. Gelap, sambil meraba roll film yang tak bisa disentuh oleh cahaya. Ia tak bersinar, apalagi berwarna. Tak pernah berujar, tapi selalu berbicara tentang sesuatu. Tak menjanjikan keindahan, namun di dalamnya tersimpan sebuah kenangan…

Aku merabanya dengan sangat hati-hati, takut kalau cahaya akan membakar sesuatu yang berada di dalamnya. Seperti seorang bayi kecil yang begitu akan kulindungi, bukan karena jasadnya yang rapuh. Tapi karena dalam kerapuhannya itu, ada sesuatu yang ingin kulindungi. Sebuah cinta. Jikalau cinta itu memang bukan sebuah kontrak…

Karena dalam gulungan itu, yang kini menjadi deretan panjang roll film, ada wajahmu yang sedang tersenyum menatap kamera. Atau menatapku, yang diam-diam mengawasimu di balik lensa kecil itu?

Sudah berjam-jam aku di tempat itu. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi aku masih tetap tinggal. Menyelesaikan potretmu, menembaknya dalam kamar gelap, berharap ada sesosok wajah yang keluar dari sebuah kertas putih. Wajahmu.

Aku ingin menyelesaikannya, dan memberikan potret itu pada seseorang yang dua hari kemudian akan berulang tahun. Aku berharap ia akan senang, saat aku mengatakan bahwa aku yang mengerjakan semua. Mengambil gambarnya, mencucinya dalam sebuah tabung, menembaknya di sebuah kamar gelap, mencetak gambar wajahnya, walau hasilnya tak sempurna. Aku cuma ingin ia tau kalau aku sudah berusaha…

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak, lalu apa arti malam itu? Saat aku begitu ngotot untuk melakukan semuanya sendirian. Di malam yang aku tak meminta apapun darimu, tak membuat kontrak, dan pikiranku hanya padamu saja, yang beribu jarak terpaut denganku saat itu.

Di depan sana Vino masih saja berbicara. Kau juga. Tapi aku masih berpikir, benarkah aku tak tulus? Dan pertanyaan lain yang sama besar juga ikut menghantuiku. Atau apa aku benar-benar tulus? Entahlah….

Rasanya aku menjadi terlalu jahat kalau yang kurasakan ternyata hanya untuk sebuah kontrak. Seakan semua menjadi berpusat pada aku saja, dan kau hanya pelengkap untuk menambal segala yang kurang dari aku. Dan aku akan meninggalkanmu, kalau ternyata kau tak bisa mengisi yang kurang itu. Tapi apa memang seperti itu?

Entahlah… tapi ketika memikirkanmu, seperti Chairil, aku membayangkan sedang berjalan di sebuah pantai dan bayanganmu yang tiba-tiba muncul di sampingku. Kau tersenyum. Tiba-tiba saja kita menjadi begitu sangat dekat…

Seperti kau yang berkata akan berjalan bersamaku, maka aku melihat kau menggenggam tanganku. Bukan untuk dijabat, tapi benar-benar digenggam. Bagiku itu berbicara banyak.

Dan kita kembali berjalan, menghadapi apa yang ada di depan sana. Mungkin yang akan kukatakan saat itu ialah maaf, bukan maksudku untuk membagi nasib…

Namun kau tak berbicara sepatah kata pun. Kau hanya menggeleng pelan dan tersenyum. Genggamanmu semakin erat, seolah berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Bahwa kau masih ada di sampingku, dan belum beranjak pergi…

Karena itu aku menjadi kuat…

Kalian membicarakan tentang kepemilikan dalam cinta. Kalau aku ingin memilikimu, dan kau menganggapnya salah, mungkin ini memang sebuah dosa. Tapi yang kutau, ini cinta…

*****

14 Februari 2008,Untuk seseorang yang ingin selalu kumiliki dalam hati, agar ia tak pernah merasa terkekang…

NB: akhirnya aku tak menyerahkan foto itu. Tiba-tiba saja sebelum aku ingin memberikannya, negatif foto itu hilang. Jadi aku cuma punya foto itu satu. Mungkin Tuhan ingin aku menjaga yang satu itu. Jadi biar aku saja yang menyimpannya…

 

Di Sisi-Sisi Rel Kereta Api Bandung-Jogja

Posted in Terasi on Februari 8, 2008 by bungkusterasi

Apakah bangsa kita sangat miskin? duh, sepertinya itu hanya pertanyaan yang dibuat-buat….(udah deh Fat, ga usah belagak ga tau gitu).

Sumpah gw kaget banget, masa iya sih di desa…pliZ, itu hanya sebuah desa, bukan jakarta, bukan bandung, bukan pula jogja…hanya desa kecil yang masih bisa dihitung jumlah penduduk yang tinggal di sana…

Di saat anak-anak lain pergi ke sekolah, kenapa mereka malah dengan muka yang memelas berdiri di samping keretaku yang sedang berhenti. Meminta-minta, mencari rasa belaskasihan, menarik perhatian…

Terlihat ironis ketika ku melihat di sisi kiriku, anak-anak berseragam merah-putih sedang berjalan beramai-ramai…sambil tertawa riang…ketika kemudian mataku menoleh ke arah sebaliknya, maka hal sebaliknya pulalah yang aku lihat…

“Pak…minta uang pak…Bu minata uang bu…”

Terus-menerus sampai kemudian keretaku berjalan meninggalkan kekecewaan mereka, karena aku yang sok merasa peduli tidak melakukan apapun…Kasian Aku, Kasian Mereka

Tentang Catatan Hujan…

Posted in bungkus on Januari 11, 2008 by bungkusterasi

Tentang Catatan Hujan

Kau tau, mungkin tak seharusnya aku menuliskan ini. Mungkin baiknya aku diam saja. Atau aku tuliskan apa yang telah diperintahkan dosenku. Menulis berita. Atau apa saja, asal jangan bersifat pribadi. Di blog ini, yang nyatanya hanya manifestasi dari sebuah tugas. Walaupun kadang aku bertanya, apakah aku demikian tak berharga, sehingga aku tak boleh menuliskan hidupku sendiri? Di blogku sendiri?

Dan akhirnya aku memutuskan untuk tetap menuliskannya.

Kaulah yang pertama kali menuliskan itu. Sebuah catatan. Tentang hujan. Hujan di bulan November. Di sore itu, ketika hujan turun dengan sangat deras. Sore itu, ketika aku terbangun dari sebuah tidur. Ketika aku tak menemukan siapa-siapa. Dan ketika hujan. Entah mengapa, tiap kali aku menemukan ketiganya, jantungku langsung berdetak hebat. Hingga aku kesakitan…

Selalu, setelah itu aku akan menangis. Dan aku akan menghubungimu. Selalu. Padamu, yang selalu mengatakan kalau the future is unwritten. Dan aku yang saat itu berkata, kalau masa depanmu bukan tak tertuliskan, tapi hanya belum kau tuliskan. Dan memang kaulah yang akan menuliskannya. Dan sambil bercanda, aku berkata kalau nanti aku akan ikut corat-coret dalam catatan hidupmu. Biar cacatanmu tak terlalu rapi.

Dalam hujan itu, aku berkata padamu kalau aku sangat ketakutan. Rasanya seperti hendak pergi tanpa bisa mengucapkan sesuatu pada orang yang kita cintai. Kau pun berkata, bahwa saat itu kau pun sedang mengalami kesendirian yang sangat. Dan kau bilang, lagi-lagi kau ingin menikmatinya.

Kau saat itu berlagak bijaksana. Aku kesal. Kau bilang, apa bedanya sendiri dan tak sendiri? Kesepian dan keramaian? Kau bilang dua hal itu bukanlah hal yang terpisah…Itu katamu. Memang bagus. Tapi sayang, kata-kata itu hanya cocok untuk deretan sebuah puisi. Sementara di sini dadaku bergetar dengan hebat. Hingga aku kesakitan…

Apa saat itu kau mengerti?

Entah. Mungkin kau hanya ingin menghiburku saat itu, sehingga kau tak bisa merasakan apa yang aku rasa. Mungkin di hujan itu kau sedang bersama teman-temanmu. Atau sedang asyik membaca buku. Atau sedang berada dalam sebuah angkutan umum, seperti biasanya, selalu ketika aku menelepon. Atau seperti katamu dulu, kau mungkin ingin menonton film berbau romantis. Dan aku menebak kalau kau pasti sedang ingin menonton film Kuch-Kuch Hota Hai. Dan kau menggerutu karena tebakanku itu, sehingga membuatku tertawa. Tentu saja aku hanya menggoda. 

Tapi aku tak tau saat itu kau sedang apa…

*****

          Aku memang baru membaca tulisanmu. Karena itu aku baru mengetahui, bahwa sore itu kau sedang berada di depan sebuah komputer. Menuliskan kesendirianmu. Saat aku menghubungimu, karena di sore itu ada hujan yang membuatku takut.  

          Di sana kau tuliskan, kalau hujan membuatmu dingin. Langit magrib yang beranjak gelap sudah didahului kelabu awan hujan. Dinginnya membuat tanganmu berpelukan. Kau berusaha memeluk badanmu.

Kau bilang dinginnya memengaruhi perasaanmu, menjadi sentimentil. Tapi kalau sentimentil yang kau punyai hanya sesaat, maka aku menyukai yang sesaat itu. Sesaat, ketika kau mengatakan kalau mungkin saat itu kita sedang berjalan di atas pelangi, saat aku mengajakmu berjalan di atas pelangi. Sesaat, ketika aku bertanya, kalau nanti aku sudah menemukan sebuah pelangi, apa kau mau berjalan-jalan denganku? Dan kau mengiyakan.

Aku menyukainya. Karena pada saat itu hujan tak lagi terasa menyakitkan. 

Dan setelah itu hujan berhenti. Aku membuka pintu rumahku, dan mencium bau tanah yang masih basah. Sore pun sudah beranjak malam. Dan kau pun sudah ingin beranjak pergi. Sendiri, ditemani alunan musik, dan sebotol bir.

Saat itu kau mengatakan bahwa bagiku, mungkin hujan itu menyakitkan. Tapi mungkin hujan sedang memberikan sesuatu untukku. Menemani kesendirianku…

Hujan itu telah menemaniku. Aku merasa lebih lega…

Itu yang kau tuliskan dalam catatan hujanmu. Saat itu aku pun merasakan hal yang sama.

Tapi kata Pam, ini bulan Desember. Dan hujan turun lagi. 

Akankah aku memiliki catatan hujan yang sama?

Iklan Makin Menjadi….Gila?

Posted in bungkus on Januari 10, 2008 by bungkusterasi

Sekarang sepertinya semua orang sudah mulai hilang tata karma. Sepertinya aku terlalu mengeneralisasi…maaf kalau ada yang tersinggung. Tidak bermaksud bersikap sinis, tapi memang itu keadaan yang tampak.
Aku paling malas kalau melihat iklan2 yang ada saat ini. Sampai2 aku tertawa muak melihat mereka yang mulai saling menghina, saling menjatuhkan, mencari kesalahan dari saingan produk mereka satu sama lain.
Bayangkan saja, sekarang tuh paling susah cari iklan bermutu. Dan lucunya, kenapa semua iklan2 yang ku anggap bagus adalah iklan rokok ya? Sepertinya orang2 perusahaan rokok tidak merokok….sehingga mereka masih bisa berpikir dengan jernih. Hahahaha.
Nah, bagaimana dengan iklan kartu provider yang saat ini nampaknya sudah mulai angkat senjata. Siap berperang….serbu…!!!
Setiap keluar iklan baru, pasti menjelekkan provider yang jadi saingannya yang mampu menawarkan sesuatu yang baru dan lebih baik.
Misalnya iklan esia. Kalian ingat iklan yang bintangnya agus ringgo itu? Weleh2, semua kartu provider lain tak luput untuk dibantai habis…
Lanjut ke iklan xl, juga sama saja.
Fren, ga jauh beda…
Mentari, sedikit main halus. Ah, tapi…
Apalagi? Entahlah aku juga kurang ingat.
Yang langsung ditembak ditempat adalah iklan jamu. Sepertinya itu iklan baru…pertama kali lihat, “Gila nih iklan, berani banget.”
Bayangkan dengan sangat jujur ia menyerang jamu tolak angin. Sudah sangat kita ketahui bahwa jamu ini mempunyai sebuah slogan yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia yaitu, “orang pintar, minum tolak angin.”
Lha kok, muncul iklan baru dari produk yang sejenis yang slogannya, “minum jamu kok harus pintar?” (Nah lho!!!, berani banget kan? Gw rasa tolak angina, pasti langsung mati di tempat) kurang lebih slogannya seperti itu. Eh, nama produknya apa ya…Bintang Angin ya??? (Pake acara lupa!!)
Aku bukan anak periklanan, jadi aku kurang tau, apakah masih ada batasan yang tidak boleh dilanggar dalam sebuah iklan?
Apakah masih ada tatakrama?

Seseorang minta restu..

Posted in Terasi on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

Seseorang minta restu. Kemarin, melalui  sms pada ibuku. Ia mau mengikuti ujian masuk universitas di kota. Pagi ini, seseorang datang ke rumahku. Pukul setengah enam, dengan berbaju hitam. Ia minta ayahku mentransfer energi. Biar SPMB-nya lancar, sahutnya…

            Dari balik kain gorden biru aku mengintip mereka. Ayahku, dan seorang teman lama yang sedang meminta energi. Keduanya tampak khusuk. Dengan mata terpejam, ayahku menempelkan tangannya ke pundak temanku. Pundaknya hitam, karena terlapisi baju yang dikenakannya. Sementara temanku, dengan mata terpejam tampak khusuk menengadahkan tangan. Seperti sedang berdoa saja…

            Ini bukan klenik, aku tau. Hanya penyembuhan alami seperti yang biasa kusaksikan di TVRI. Namun aku baru tau, kalau ternyata pengobatan juga manjur untuk kehidupan seseorang. Seseorang yang hendak beranjak ke kota.

            Di televisi, kusaksikan beribu orang sedang mengadu nasibnya untuk masuk ke universitas. Berjuta, malah…Angka kemiskinan memang ternyata hanya statistik. Ia tak bisa dibuktikan jika kita melihat orang-orang yang tidur di sebuah tenda di pinggir rel kereta. Ia juga tak bisa dijabarkan oleh orang-orang yang  berlomba masuk universitas yang nampaknya semakin membludak saja. Inilah Indonesia, kurasa…

            SBA kampusku masih tetap berjubel. Komputernya masih tetap satu. Penanganannya masih tetap lambat, dan seenaknya saja. Bahkan semester kemarin aku sempat dikirimi surat keterangan bahwa aku belum membayar SPP. Tidak tanggung-tanggung, di belakangnya tertera surat pengunduran diri jika aku tak sanggup membayar. Pastinya aku menjadi bulan-bulanan orang tuaku, karena saat SMP aku pernah menyelewengkan uang SPP selama 8 bulan. Kurasa mereka mengira aku melakukannya lagi. Nampaknya mereka belum mengerti bahwa manusia adalah makhluk yang tak stagnan…

            SBA di kampusku malu, karena ternyata aku memang sudah membayar. Kesalahan administrasi, sahut mereka. Dan ternyata di SBA banyak surat bertebaran seperti surat yang dilayangkan padaku. Aneh, kesalahan atau sebuah kebodohan kah? Karena saat aku hendak mengambil kartu UAN, namaku masih tertera sebagai salah seorang mahasiswa yang belum membayar. “SBA emang udah ass hole dari sananya..” aku berseloroh agar tidak emosi.

            Lucu, jika aku ingat salah satu cerita kawan sekampusku yang lain. “Pas masuk ke Unpad, dijanjiin gedung baru. Eh, gak taunya cuma gedung lama punya fakultas farmasi lagi… Padahal aku kan anak MIPA!” temanku pernah bercerita sambil tertawa mengenang masa-masanya. Mau tau kondisinya? Gedung itu ada di depan fakultas Farmasi, dengan lantai bukan keramik yang pecah di sana-sini. Dengan mengenaskan, ia juga bercerita ia harus menggunakan zat yang kadaluarsa untuk praktikum. “Anjrit, maenya urang kudu make hiji mokroskop ku sapuluh urang!” sahutnya mencak-mencak.

            Tapi buat apa mencak-mencak? Yang namanya kampus emang udah ass hole dari sononya! Bahkan seseorang pernah bercerita kalau di tempatnya pernah ada teman yang lulus saat sidang bukan karena skripsinya, tapi karena ia bisa bermain sulap! Dosen sekarang mudah dibohongi, makanya manfaatkanlah.. Toh yang kita incar memang hanya nilai dan gelar kan?

            Lucunya, aku yang kini berafiliasi dengan persma kampusku, beberapa bulan kemarin pernah membuat liputan tentang pembangunan Himendra, rektor lama kampusku yang namanya sulit sekali dieja. Aku sempat bertanya, untuk apa? Seperti biasa, aku menggunakan alasan birokrat kampus mah emang udah ass hole dari sananya! Trus mau apa? Dan dengan entengnya temanku berkata,”Buat review untuk rektor selanjutnya.”

Hahahaha…. !! Aku ingin sekali mengatakan kalau temanku itu naif! Orang yang hanya datang setahun sekali di depan mahasiswa untuk berpidato itu, mana sempat baca laporan mahasiswa? Permisi mas, udah berapa tahun ada di Unpad? Sayangnya dia tak pernah menjawab, karena aku memang tak pernah bertanya….

            Ini, ini kampusku yang setahun sekali menjadi putri yang diperebutkan berjuta pria haus cinta dari berbagai penjuru dunia. Di kampusku ada orang India juga. Dia selalu pakai tutup kepala, yang katanya tak pernah dicuci. Pasti baunya sama seperti sepatuku, sepatu belel yang hanya beberapa kali dicuci.

            “Kenapa ya, masih ada orang yang mau masuk ke Unpad?” suatu kali aku pernah bertanya . Dan Daleu, dosen  dari jurusan antropologi menjawab, “Kampus tuh ibaratnya pabrik pencipta tenaga kerja. Yang dibutuhin mahasiswa sekarang cuma jurusan yang bagus, yang lapangan kerjanya juga bagus. Masalah fasilitas jelek mah, gak jadi soal..” Aku mengangguk. Aku mengerti alasan mengapa semua orang seakan tak peduli…

            Lalu mengapa pagi tadi seseorang minta restu pada ibuku, dan meminta energi dari ayahku? Demi uangkah? Agar ia bisa masuk universitas di kota, hidup sukses dan bahagia…kaya-raya, foya-foya, dan masuk surga… Teuing ah, lieur!!!      

Benarkah Kita Sebuah Bangsa?

Posted in Terasi on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

Ketika berbicara tentang sebuah bangsa, maka kita akan kembali pada polemik yang hingga kini tak ada habisnya. Jika ada yang menganggap bahwa bangsa merupakan sebuah kesatuan, banyak orang mempertanyakan: kesatuan yang mana? Siapa yang merasa bersatu? Apalagi jika kita berbicara tentang kemajuan atau kebangkitan sebuah bangsa: untuk siapakah sebuah bangsa itu bangkit?

            Sebuah bangsa lahir, sebuah bangsa terbentuk, namun kita jarang bertanya untuk apa. Ben Anderson, menyebutkan bahwa sebuah bangsa adalah sebuah komunitas yang digagas, sebuah kebersamaan yang diimajinasikan (imagined community). Karena satu kebetulan sejarah, maka ada satu bangsa yang bernama Indonesia. Kebetulan sejarah itu memang bukan suratan takdir, tapi dalam kebetulan sejarah itu terdapat sekelompok orang yang merasa bernasib sama. Untuk itulah mereka berjuang, mengumandangkan gambaran bahwa yang kebetulan itu bukanlah kebetulan, dan komunitas bersama yang diimpikan itu bukan sekedar gagasan. Mereka punya satu harapan untuk bersama-sama membentuk hidup yang lebih baik. Mungkin karena itulah sebuah bangsa lahir.

            Berbicara tentang apa itu bangsa adalah sebuah wacana yang terlalu muluk untuk kita bicarakan saat ini, mungkin. Pada awalnya memang ada sekelompok orang yang menggagas impian tentang sebuah bangsa. Tapi yang kita saksikan baru-baru ini, ketika sekelompok elemen masyarakat semakin terpisah dengan elemen yang lain tanpa sebuah impian bersama, itulah gambaran bangsa. Orang memang bisa merasa senasib ketika mereka sama-sama menderita,  namun mereka menjadi lupa akan kebersamaan itu ketika mereka punya satu kepentingan tertentu yang biasanya bersifat pribadi. Di sini bangsa tak ubahnya hanya seperti sebuah permainan politik, dengan pameo-nya yang terkenal: “tidak ada lawan ataupun kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi“. 

Bangsa dan Nasionalisme: Antara Masa Lalu dan Masa Kini

            Mengapa kita masih berbicara tentang sebuah bangsa – apalagi tentang arti dari nasionalisme – tak lain karena memang harus diakui kita masih kurang menyadari tentang bagaimana hidup bersama di bawah satu teritori yang kita cap sebagai bangsa. Tanpa kesadaran itu, yang nampak hanya sekelompok orang yang hidup bersama, namun tak ada kebersamaan di antara mereka.

            Ada yang sedikit berbeda antara nilai bangsa dengan nasionalisme-nya pada awal bangsa ini terbentuk, dengan nasionalisme yang berkecamuk saat ini. Nasionalisme zaman dulu dibentuk dengan sebuah kesadaran untuk saling berbagi dalam komunitas bersama yang disebut bangsa. Kita bisa melihat bagaimana sejumlah anak priayi Jawa yang tengah mencicipi privelese bersekolah tinggi dalam suasana kolonial awal abad ke-20, mampu berbicara tentang nasib rakyat kecil.

            “Sudah sejak dulu, pelajar-pelajar STOVIA telah membicarakan gagasan bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan rakyat kita, terutama rakyat kecil…“ Itulah yang mereka katakan, sekelompok orang yang tidak melarat namun berbicara akan penderitaan rakyat yang tak mereka rasakan. Sementara kalangan priayi tinggi lain mendirikan perkumpulan eksklusif dengan nama Sedya Mulya, mereka yang terkumpul dalam Budi Utomo, tak hanya berbicara tentang “rakyat kecil“, melainkan juga tentang “persaudaraan nasional”. Yakni suatu persatuan umum di Hindia Belanda, “tanpa perbedaan ras, jenis kelamin, ataupun kepercayaan“.

 Jelas apa yang mereka katakan bukan kalimat retoris belaka, seperti yang sering kita lihat saat ini terutama menjelang Pemilu. Mereka merupakan cerminan perasaan untuk ikut memiliki sebuah peninggalan yang kaya. Satu kenangan kolektif tempat berbagi sesal yang membekas, dan meneruskan warisan untuk terus membangun apa yang telah mereka perjuangkan. Mereka adalah orang yang hadir ketika menemukan bahwa sebagai bumi putera, mereka hidup sengsara di bawah ketiak “si menir“.

Namun bagaimana nasionalisme saat ini? Zaki Laidi, dalam A World Wihout Meaning mengatakan bahwa nasionalisme saat ini anti-universalis. Di dalamnya, tak akan ada lagi sekelompok anak priayi Jawa yang mau memikirkan nasib rakyat kecil. Nasionalisme ini tak punya tujuan akhir yang yakin akan bisa diterima kelompok lain.

Kiranya apa yang dikatakan Laidi benar adanya. Apa yang dianggap sah oleh orang Aceh atau Papua tak pernah digagas oleh para birokrat yang tinggal di Jakarta. Nasionalisme jenis ini tak bisa memahami, mengapa harus ada pembangunan di daerah yang bukan menjadi tempat lalu lalang para investor. Ia mengerat-erat yang besar menjadi bagian kecil dengan saling menonjolkan perbedaan masing-masing: antara Jawa dan bukan Jawa, antara birokrat dan rakyat, juga antara “si kaya” dan “si miskin”.

Ia mengangkat tinggi segala hal yang memisahkan diri dari orang lain di dekat kita. Akibatnya, pertalian dengan orang lain hanya dianggap sebagai buatan. Ia palsu, dan kita semakin sulit membedakan mana yang benar-benar murni rasa bersama, dan mana yang topeng belaka.

Nasinalisme ini menampik semua yang universal. Dalam proses antiuniversalitas-nya, banyak manusia yang telah menjadi korban “kebengisan” nasionalisme. Jutaan manusia yang disebut orang Indonesia dibunuh dan diusir dari rumah mereka oleh manusia yang juga disebut orang Indonesia. Daerah-daerah dikerat sesuai dengan kepentingan masing-masing. Ada yang bertugas untuk memproduksi hasil alam, ada juga yang hanya menikmatinya. Yang merasa dirugikan, akhirnya membuat nasionalisme sendiri: menjadi nasionalisme ala Aceh atau nasionalisme ala Papua. Inilah yang terjadi. Satu negeri dengan berjuta nasionalisme.

             Namun sepertinya dari awal memang yang universal dalam sebuah bangsa itu tak pernah ada. Arti kata senasib sepenanggungan, pada zaman penjajahan pun pernah menjadi nisbi. Nyatanya, yang merasa senasib sepenangungan hanyalah orang yang sama-sama menderita. Kaum menak, pengusaha, ataupun pejabat jaman kolonial mungkin tak merasakan itu. Kalaupun ada yang ikut berjuang, mungkin hanya segolongan. Beda lapisan sosial memang kadang berarti beda penderitaan.    

            Kontradiksi semakin melebar jika kita menanyakan, apakah bangsa itu? Sekelompok orang yang tinggal di bawah jembatan layang mungkin menyangsikan keberadaan dirinya dalam sebuah bangsa. Terlalu muluk, bagi mereka yang hanya menumpang hidup di sebuah teritori yang sudah di-cap milik sebuah bangsa. Jika ada hasrat untuk hidup bersama, siapakah yang berhasrat itu? Lagi-lagi, jika kita ingin meminta pendapat kaum miskin yang paling disulitkan sepanjang sejarah, mungkin mereka akan menggeleng. Keinginan mereka telah tenggelam dalam monopoli ukuran yang atas nama bangsa disebut sebagai kepentingan nasional.

            Pada akhirnya mungkin kita pun bingung, karena sebab apakah sebuah bangsa dan negara itu terbentuk? Dan untuk siapa? Namun toh kebingungan itu tak membuat kita berhenti untuk membuat sebuah bangsa itu ada. Kita tinggal memutuskan saja, hendak seperti apa, dan dengan apa kita membentuknya…