Seseorang minta restu. Kemarin, melalui sms pada ibuku. Ia mau mengikuti ujian masuk universitas di kota. Pagi ini, seseorang datang ke rumahku. Pukul setengah enam, dengan berbaju hitam. Ia minta ayahku mentransfer energi. Biar SPMB-nya lancar, sahutnya…
Dari balik kain gorden biru aku mengintip mereka. Ayahku, dan seorang teman lama yang sedang meminta energi. Keduanya tampak khusuk. Dengan mata terpejam, ayahku menempelkan tangannya ke pundak temanku. Pundaknya hitam, karena terlapisi baju yang dikenakannya. Sementara temanku, dengan mata terpejam tampak khusuk menengadahkan tangan. Seperti sedang berdoa saja…
Ini bukan klenik, aku tau. Hanya penyembuhan alami seperti yang biasa kusaksikan di TVRI. Namun aku baru tau, kalau ternyata pengobatan juga manjur untuk kehidupan seseorang. Seseorang yang hendak beranjak ke kota.
Di televisi, kusaksikan beribu orang sedang mengadu nasibnya untuk masuk ke universitas. Berjuta, malah…Angka kemiskinan memang ternyata hanya statistik. Ia tak bisa dibuktikan jika kita melihat orang-orang yang tidur di sebuah tenda di pinggir rel kereta. Ia juga tak bisa dijabarkan oleh orang-orang yang berlomba masuk universitas yang nampaknya semakin membludak saja. Inilah Indonesia, kurasa…
SBA kampusku masih tetap berjubel. Komputernya masih tetap satu. Penanganannya masih tetap lambat, dan seenaknya saja. Bahkan semester kemarin aku sempat dikirimi surat keterangan bahwa aku belum membayar SPP. Tidak tanggung-tanggung, di belakangnya tertera surat pengunduran diri jika aku tak sanggup membayar. Pastinya aku menjadi bulan-bulanan orang tuaku, karena saat SMP aku pernah menyelewengkan uang SPP selama 8 bulan. Kurasa mereka mengira aku melakukannya lagi. Nampaknya mereka belum mengerti bahwa manusia adalah makhluk yang tak stagnan…
SBA di kampusku malu, karena ternyata aku memang sudah membayar. Kesalahan administrasi, sahut mereka. Dan ternyata di SBA banyak surat bertebaran seperti surat yang dilayangkan padaku. Aneh, kesalahan atau sebuah kebodohan kah? Karena saat aku hendak mengambil kartu UAN, namaku masih tertera sebagai salah seorang mahasiswa yang belum membayar. “SBA emang udah ass hole dari sananya..” aku berseloroh agar tidak emosi.
Lucu, jika aku ingat salah satu cerita kawan sekampusku yang lain. “Pas masuk ke Unpad, dijanjiin gedung baru. Eh, gak taunya cuma gedung lama punya fakultas farmasi lagi… Padahal aku kan anak MIPA!” temanku pernah bercerita sambil tertawa mengenang masa-masanya. Mau tau kondisinya? Gedung itu ada di depan fakultas Farmasi, dengan lantai bukan keramik yang pecah di sana-sini. Dengan mengenaskan, ia juga bercerita ia harus menggunakan zat yang kadaluarsa untuk praktikum. “Anjrit, maenya urang kudu make hiji mokroskop ku sapuluh urang!” sahutnya mencak-mencak.
Tapi buat apa mencak-mencak? Yang namanya kampus emang udah ass hole dari sononya! Bahkan seseorang pernah bercerita kalau di tempatnya pernah ada teman yang lulus saat sidang bukan karena skripsinya, tapi karena ia bisa bermain sulap! Dosen sekarang mudah dibohongi, makanya manfaatkanlah.. Toh yang kita incar memang hanya nilai dan gelar kan?
Lucunya, aku yang kini berafiliasi dengan persma kampusku, beberapa bulan kemarin pernah membuat liputan tentang pembangunan Himendra, rektor lama kampusku yang namanya sulit sekali dieja. Aku sempat bertanya, untuk apa? Seperti biasa, aku menggunakan alasan birokrat kampus mah emang udah ass hole dari sananya! Trus mau apa? Dan dengan entengnya temanku berkata,”Buat review untuk rektor selanjutnya.”
Hahahaha…. !! Aku ingin sekali mengatakan kalau temanku itu naif! Orang yang hanya datang setahun sekali di depan mahasiswa untuk berpidato itu, mana sempat baca laporan mahasiswa? Permisi mas, udah berapa tahun ada di Unpad? Sayangnya dia tak pernah menjawab, karena aku memang tak pernah bertanya….
Ini, ini kampusku yang setahun sekali menjadi putri yang diperebutkan berjuta pria haus cinta dari berbagai penjuru dunia. Di kampusku ada orang India juga. Dia selalu pakai tutup kepala, yang katanya tak pernah dicuci. Pasti baunya sama seperti sepatuku, sepatu belel yang hanya beberapa kali dicuci.
“Kenapa ya, masih ada orang yang mau masuk ke Unpad?” suatu kali aku pernah bertanya . Dan Daleu, dosen dari jurusan antropologi menjawab, “Kampus tuh ibaratnya pabrik pencipta tenaga kerja. Yang dibutuhin mahasiswa sekarang cuma jurusan yang bagus, yang lapangan kerjanya juga bagus. Masalah fasilitas jelek mah, gak jadi soal..” Aku mengangguk. Aku mengerti alasan mengapa semua orang seakan tak peduli…
Lalu mengapa pagi tadi seseorang minta restu pada ibuku, dan meminta energi dari ayahku? Demi uangkah? Agar ia bisa masuk universitas di kota, hidup sukses dan bahagia…kaya-raya, foya-foya, dan masuk surga… Teuing ah, lieur!!!
