Arsip untuk bungkus kategori

Tentang Catatan Hujan…

Posted in bungkus on Januari 11, 2008 by bungkusterasi

Tentang Catatan Hujan

Kau tau, mungkin tak seharusnya aku menuliskan ini. Mungkin baiknya aku diam saja. Atau aku tuliskan apa yang telah diperintahkan dosenku. Menulis berita. Atau apa saja, asal jangan bersifat pribadi. Di blog ini, yang nyatanya hanya manifestasi dari sebuah tugas. Walaupun kadang aku bertanya, apakah aku demikian tak berharga, sehingga aku tak boleh menuliskan hidupku sendiri? Di blogku sendiri?

Dan akhirnya aku memutuskan untuk tetap menuliskannya.

Kaulah yang pertama kali menuliskan itu. Sebuah catatan. Tentang hujan. Hujan di bulan November. Di sore itu, ketika hujan turun dengan sangat deras. Sore itu, ketika aku terbangun dari sebuah tidur. Ketika aku tak menemukan siapa-siapa. Dan ketika hujan. Entah mengapa, tiap kali aku menemukan ketiganya, jantungku langsung berdetak hebat. Hingga aku kesakitan…

Selalu, setelah itu aku akan menangis. Dan aku akan menghubungimu. Selalu. Padamu, yang selalu mengatakan kalau the future is unwritten. Dan aku yang saat itu berkata, kalau masa depanmu bukan tak tertuliskan, tapi hanya belum kau tuliskan. Dan memang kaulah yang akan menuliskannya. Dan sambil bercanda, aku berkata kalau nanti aku akan ikut corat-coret dalam catatan hidupmu. Biar cacatanmu tak terlalu rapi.

Dalam hujan itu, aku berkata padamu kalau aku sangat ketakutan. Rasanya seperti hendak pergi tanpa bisa mengucapkan sesuatu pada orang yang kita cintai. Kau pun berkata, bahwa saat itu kau pun sedang mengalami kesendirian yang sangat. Dan kau bilang, lagi-lagi kau ingin menikmatinya.

Kau saat itu berlagak bijaksana. Aku kesal. Kau bilang, apa bedanya sendiri dan tak sendiri? Kesepian dan keramaian? Kau bilang dua hal itu bukanlah hal yang terpisah…Itu katamu. Memang bagus. Tapi sayang, kata-kata itu hanya cocok untuk deretan sebuah puisi. Sementara di sini dadaku bergetar dengan hebat. Hingga aku kesakitan…

Apa saat itu kau mengerti?

Entah. Mungkin kau hanya ingin menghiburku saat itu, sehingga kau tak bisa merasakan apa yang aku rasa. Mungkin di hujan itu kau sedang bersama teman-temanmu. Atau sedang asyik membaca buku. Atau sedang berada dalam sebuah angkutan umum, seperti biasanya, selalu ketika aku menelepon. Atau seperti katamu dulu, kau mungkin ingin menonton film berbau romantis. Dan aku menebak kalau kau pasti sedang ingin menonton film Kuch-Kuch Hota Hai. Dan kau menggerutu karena tebakanku itu, sehingga membuatku tertawa. Tentu saja aku hanya menggoda. 

Tapi aku tak tau saat itu kau sedang apa…

*****

          Aku memang baru membaca tulisanmu. Karena itu aku baru mengetahui, bahwa sore itu kau sedang berada di depan sebuah komputer. Menuliskan kesendirianmu. Saat aku menghubungimu, karena di sore itu ada hujan yang membuatku takut.  

          Di sana kau tuliskan, kalau hujan membuatmu dingin. Langit magrib yang beranjak gelap sudah didahului kelabu awan hujan. Dinginnya membuat tanganmu berpelukan. Kau berusaha memeluk badanmu.

Kau bilang dinginnya memengaruhi perasaanmu, menjadi sentimentil. Tapi kalau sentimentil yang kau punyai hanya sesaat, maka aku menyukai yang sesaat itu. Sesaat, ketika kau mengatakan kalau mungkin saat itu kita sedang berjalan di atas pelangi, saat aku mengajakmu berjalan di atas pelangi. Sesaat, ketika aku bertanya, kalau nanti aku sudah menemukan sebuah pelangi, apa kau mau berjalan-jalan denganku? Dan kau mengiyakan.

Aku menyukainya. Karena pada saat itu hujan tak lagi terasa menyakitkan. 

Dan setelah itu hujan berhenti. Aku membuka pintu rumahku, dan mencium bau tanah yang masih basah. Sore pun sudah beranjak malam. Dan kau pun sudah ingin beranjak pergi. Sendiri, ditemani alunan musik, dan sebotol bir.

Saat itu kau mengatakan bahwa bagiku, mungkin hujan itu menyakitkan. Tapi mungkin hujan sedang memberikan sesuatu untukku. Menemani kesendirianku…

Hujan itu telah menemaniku. Aku merasa lebih lega…

Itu yang kau tuliskan dalam catatan hujanmu. Saat itu aku pun merasakan hal yang sama.

Tapi kata Pam, ini bulan Desember. Dan hujan turun lagi. 

Akankah aku memiliki catatan hujan yang sama?

Iklan Makin Menjadi….Gila?

Posted in bungkus on Januari 10, 2008 by bungkusterasi

Sekarang sepertinya semua orang sudah mulai hilang tata karma. Sepertinya aku terlalu mengeneralisasi…maaf kalau ada yang tersinggung. Tidak bermaksud bersikap sinis, tapi memang itu keadaan yang tampak.
Aku paling malas kalau melihat iklan2 yang ada saat ini. Sampai2 aku tertawa muak melihat mereka yang mulai saling menghina, saling menjatuhkan, mencari kesalahan dari saingan produk mereka satu sama lain.
Bayangkan saja, sekarang tuh paling susah cari iklan bermutu. Dan lucunya, kenapa semua iklan2 yang ku anggap bagus adalah iklan rokok ya? Sepertinya orang2 perusahaan rokok tidak merokok….sehingga mereka masih bisa berpikir dengan jernih. Hahahaha.
Nah, bagaimana dengan iklan kartu provider yang saat ini nampaknya sudah mulai angkat senjata. Siap berperang….serbu…!!!
Setiap keluar iklan baru, pasti menjelekkan provider yang jadi saingannya yang mampu menawarkan sesuatu yang baru dan lebih baik.
Misalnya iklan esia. Kalian ingat iklan yang bintangnya agus ringgo itu? Weleh2, semua kartu provider lain tak luput untuk dibantai habis…
Lanjut ke iklan xl, juga sama saja.
Fren, ga jauh beda…
Mentari, sedikit main halus. Ah, tapi…
Apalagi? Entahlah aku juga kurang ingat.
Yang langsung ditembak ditempat adalah iklan jamu. Sepertinya itu iklan baru…pertama kali lihat, “Gila nih iklan, berani banget.”
Bayangkan dengan sangat jujur ia menyerang jamu tolak angin. Sudah sangat kita ketahui bahwa jamu ini mempunyai sebuah slogan yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia yaitu, “orang pintar, minum tolak angin.”
Lha kok, muncul iklan baru dari produk yang sejenis yang slogannya, “minum jamu kok harus pintar?” (Nah lho!!!, berani banget kan? Gw rasa tolak angina, pasti langsung mati di tempat) kurang lebih slogannya seperti itu. Eh, nama produknya apa ya…Bintang Angin ya??? (Pake acara lupa!!)
Aku bukan anak periklanan, jadi aku kurang tau, apakah masih ada batasan yang tidak boleh dilanggar dalam sebuah iklan?
Apakah masih ada tatakrama?

Suatu siang di gedung DPRD…

Posted in bungkus on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

Gedung pemerintahan itu tampak lengang. Siang itu pintunya terkunci, dan tidak ada wartawan yang biasanya selalu duduk bercengkrama di tangga. Disana memang berisik. Tapi bukan karena aktivitas pegawai negeri yang baru-baru ini muncul di televisi gara-gara kepergok membolos. Suara berisik itu datangnya dari tukang bangunan yang asyik memanggul bata, atau menghancurkan beton-beton di halaman gedung. Entahlah, aku tak tau apa lagi yang harus diperbaiki dari gedung mewah berpagar tinggi itu.

Para kuli bangunan itu tampak lelah, dan juga melupakan satu hal: shalat Jum’at. Ah, andai Tuhan bisa langsung menurunkan rezeki yang cukup pada mereka, mungkin di siang ini mereka sedang berada di dalam mesjid yang sejuk, sambil mendengarkan khotbah yang itu-itu saja. Namun Tuhan nampaknya ingin menunjukkan sesuatu lain. Atau mungkin Tuhan tak ingin kehilangan pengikutnya, sehingga ia tak pernah mencukupkan kebutuhan manusia? Karena kalau sudah cukup, apalagi yang hendak manusia minta? Tapi sayang, Tuhan lupa satu hal. Manusia sekarang lebih suka bekerja daripada terus meminta. Toh ini bukan zaman nabi Musa, saat makanan bisa turun dari langit secara cuma-cuma. Yang diturunkan langit siang itu hanya sengatan matahari yang membuat para wanita bergidik dan enggan menginjakkan kaki ke luar rumah. 

Aku mengikuti saja kemana kakiku ingin melangkah. Berjalan di samping kepongahan gedung pemerintah, yang bahkan untuk melihat ke dalamnya saja aku tak bisa. Ada terpal yang menghalanginya, agar tak ada yang bisa melihat saat mereka bercakap-cakap di taman, atau baru masuk ke kantor menjelang jam 11 siang.

Langkahku tertahan di sebuah persimpangan jalan. Seorang wanita berkerudung putih berpakaian lusuh menyulut sebatang rokok, yang kemudian diikuti pria yang duduk di sebelahnya. Wanita itu tersenyum padaku, dan beberapa saat kemudian aku sudah duduk bersama mereka.

“Tuh di pameran banyak botol kosong!” sahut wanita tua yang duduk di sebelahku. Ternyata ia berbicara pada pria botak bertopi yang saat itu duduk tepat di hadapanku. Tangannya membawa kantong plastik yang mungkin berisi makanan. Karung putih berisi botol aqua yang baru berisi setengah, adalah hasil kerjanya hingga siang itu.

“Ah, ku satpam teu kenging ka ditu!” sahut wanita yang lain. Alasannya sudah bisa kutebak. Pemulung dan orang miskin seperti mereka pasti selalu dicurigai. Tapi ternyata bukan itu yang kudengar. “Satpam juga seneng ngumpulin botol aqua mbak, buat dijual lagi. Sama seperti kita!” sahut pria botak yang ternyata berasal dari Purworejo itu. Dan aku hanya menghela nafas. Berat.

Lampu merah di persimpangan jalan menyala kembali. Seorang pria tua, beserta wanita (yang juga tua) beranjak dari tempat duduknya di sampingku. Mereka langsung mendatangi mobil-mobil, mengulurkan mangkuk kosong yang hanya berisi beberapa kepingan receh. Kepingan itu hanya sekedar pemancing rasa iba dari para pengendara. Di belakang saku celana mereka, entahlah sudah berapa uang yang berhasil mereka kumpulkan. Sambil menadahkan mangkuk, mereka berharap Lebaran akan segera tiba. “Banyak yang ngasih uang soalnya…” sahut mereka penuh harap.

Tapi ini bukan lebaran. Hanya sebuah siang yang panas. Panas siang itu membuat para pengendara enggan membuka jendela mobilnya. Beberapa orang mahasiswa berpakaian rapi lewat tepat di hadapan kami. Di depanku, dan dua orang pemulung yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Mereka berlalu tanpa membungkukkan badan, ataupun menganggukkan kepala. Hanya lewat, yang mengakibatkan pria botak asal Jawa itu harus pindah dari trotoar yang didudukinya. Kami semua menggeleng sambil tertawa, “Dasar mahasiswa!!”. 

Aku pun berlalu, beranjak dari tempat dudukku dan menuruti langkah kakiku lagi. Di depan Gasibu, aku memerhatikan orang-orang yang lalu lalang siang ini. Pria botak tadi lewat di hadapanku. Membawa karung, yang baru terisi setengah. Ia menatapku tanpa sebuah senyuman. Hanya sebuah anggukan. Dan aku membalas anggukannya, sambil ia berlalu pergi. “Semoga beruntung…” sahutku dalam hati.

      

 

 

Kenapa Ayam Menyebrang Jalan?

Posted in bungkus on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

KENAPA AYAM MENYEBRANG JALAN ?????

Sebagai jurnalis, ini beberapa jawaban yang gw tebak dari :

Guru TK: supaya sampai ke ujung jalan

PLATO: untuk mencari kebaikan yang lebih baik

POLISI: beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa

ARISTOTELES: karena merupakan sifat alami dari ayam

KAPTEN JAMES T.KIRK: karena dia ingin pergi ke tempat yang belum pernah ia datangi

MARTIN LUTHER KING, JR: saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyebrang jalan tanpa mempertanyakan kenapa.

MACHIAVELLI: poin pentingnya adalah ayam menyebrang jalan! Siapa yang peduli kenapa! Akhir dari penyebrangan akan menentukan motivasi ayam itu.

FREUD: fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyaman seksual kalian yang tersembunyi.

GEORGE W.BUSH: kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami.tidak ada pihak tengah di sini!

DARWIN: ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.

EINSTEIN: Apakah ayam itu meyebrang jalan atau jalan yang bergerak dibawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri.

NELSON MANDELA: Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyebrang jalan! Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati

THABO MBEKI: kita harus mencari tau apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan.

MUGABE: Setelah sekian lama jalan dikuasai petani kulit putih, ayam miskin yang tertindas telah menanti terlalu lama agar jalan itu diberikan kepadanya dan sekarang dia menyebranginya dengan dorongan ayam-ayam veteran perang. Kami bertekad mengambil alih jalan tersebut dan memberikannya pada ayam, sehingga dia bisa menyebranginya tanpa ketakutan yang diberikan oleh pemerintahan inggris yang berjanji akan mereformasi jalan itu. Kami tidak akan berhenti sampai ayam yang tidak punya jalan itu punya jalan untuk diseberangi dan punya kemerdekaan untuk menyeberanginya!

ISAAC NEWTON: Semua ayam di bumi ini kan menyebrang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.

SUTIYOSO: itu ayam pasti ingin naik busway

HARMOKO: Berdasarkan petunjuk Presiden

BENNY MOERDANI: Selidiki! Apakah ada unsur subversif?

GUS DUR: Gitu Aja Kok Repot?

MEGAWATI  SOEKARNOPUTRI: Ayamnya pasti Wong Cilik. Dia Jalan Kaki toh.

ABURZAL BAKRIE: Pasti Ayam Ngungsi Dari Lapindo 

SAHAT SAHALA TUA SARAGIH: Pertanyaanmu dangkal….

Ustt…Ada yang Beol di Selokan!?

Posted in bungkus on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

Ada yang pernah liat orang beol alias berak alias pub di selokan ga?

Jangan sampe deh. Ga lagi-lagi!

Suatu hari, gw bareng sama temen2 kampus melewati jalan di sekitar stasiun kereta api Bandung (gw lupa nama tempatnya). Kapan tepatnya, gw juga lupa. Intinya, gw liat ada seseorang yang lagi beol di selokan. Pertama kali liat, gw belum ngeh kalau tu orang lagi pub. Gw kira dia cuma lagi jongkok aja. Masa iya sih beol di tengah kota…kan ga banget.

Pas gw dah ngelewatin tuh orang, baru gw sadar kalo dia itu sedang beol. Dan yang bikin gw makin syok (amit-amit cabang bayi) duh, gw ngeliat tuh tai ngejuntai gitu dari pantatnya. Yaks! Gw yakin kalau perempuan itu pasti gila. Dandanan dia sih mendukung. Bajunya berantakan (untung masih pake baju). Emang sih, walaupun di tengah kota, siang bolong, tapi kebetulan di jalan itu lagi sepi orang.

Gara-gara mau ke toilet bayar!Menyebalkan! Kita doakan saja ia kembali ke saluran yang benar…amin

Nb: Maaf ga ada fotonya. Jijay gw…padahal waktu itu gw bawa kamera. Tapi, duh…ga banget…

Bertemu dengan Becak Pejuang

Posted in bungkus on Desember 21, 2007 by bungkusterasi

Nyentrik Abizz

Abdurrahim. Lelaki tua ini usianya sudah lebih dari setengah abad, 72 tahun. “Saya sudah bersama dengan becak ini sejak zaman Pak Soekarno,” katanya. Walaupun ia sudah menikah dan mempunyai anak, jiwa berpetualang Abdurrahim tidak pernah pudar. Baru setiap sekitar satu bulan, ia pulang ke kediamannya di daerah Majalaya, Bandung. Kehidupan sehari-harinya ia penuhi dengan berkeliling Indonesia bersama dengan becaknya.

Saya bersama dengan teman-teman sekampus, tidak sengaja bertemu dengan Abdurrahim di perempatan Jalan Braga, Bandung. Penampilannya yang Nyentrik Abizzz, membuat dia menjadi pusat perhatian. Bak pejuang, Abdurrahim berpakaian layaknya ABRI, dengan pakaian hijau loreng-loreng. Agar tampak serasi, becaknya ini juga ia cat dengan warna yang seragam.

Walaupun sudah tua, Abdurrahim terus mengenjot pedal becak tanpa kenal lelah. Entah apa yang ingin ia perjuangan saat ini. Sekedar ingin mencari perhatian saja, tampaknya lebih dari itu. Kita tunggu sepak terjangnya.