Tentang Catatan Hujan
Kau tau, mungkin tak seharusnya aku menuliskan ini. Mungkin baiknya aku diam saja. Atau aku tuliskan apa yang telah diperintahkan dosenku. Menulis berita. Atau apa saja, asal jangan bersifat pribadi. Di blog ini, yang nyatanya hanya manifestasi dari sebuah tugas. Walaupun kadang aku bertanya, apakah aku demikian tak berharga, sehingga aku tak boleh menuliskan hidupku sendiri? Di blogku sendiri?
Dan akhirnya aku memutuskan untuk tetap menuliskannya.
Kaulah yang pertama kali menuliskan itu. Sebuah catatan. Tentang hujan. Hujan di bulan November. Di sore itu, ketika hujan turun dengan sangat deras. Sore itu, ketika aku terbangun dari sebuah tidur. Ketika aku tak menemukan siapa-siapa. Dan ketika hujan. Entah mengapa, tiap kali aku menemukan ketiganya, jantungku langsung berdetak hebat. Hingga aku kesakitan…
Selalu, setelah itu aku akan menangis. Dan aku akan menghubungimu. Selalu. Padamu, yang selalu mengatakan kalau the future is unwritten. Dan aku yang saat itu berkata, kalau masa depanmu bukan tak tertuliskan, tapi hanya belum kau tuliskan. Dan memang kaulah yang akan menuliskannya. Dan sambil bercanda, aku berkata kalau nanti aku akan ikut corat-coret dalam catatan hidupmu. Biar cacatanmu tak terlalu rapi.
Dalam hujan itu, aku berkata padamu kalau aku sangat ketakutan. Rasanya seperti hendak pergi tanpa bisa mengucapkan sesuatu pada orang yang kita cintai. Kau pun berkata, bahwa saat itu kau pun sedang mengalami kesendirian yang sangat. Dan kau bilang, lagi-lagi kau ingin menikmatinya.
Kau saat itu berlagak bijaksana. Aku kesal. Kau bilang, apa bedanya sendiri dan tak sendiri? Kesepian dan keramaian? Kau bilang dua hal itu bukanlah hal yang terpisah…Itu katamu. Memang bagus. Tapi sayang, kata-kata itu hanya cocok untuk deretan sebuah puisi. Sementara di sini dadaku bergetar dengan hebat. Hingga aku kesakitan…
Apa saat itu kau mengerti?
Entah. Mungkin kau hanya ingin menghiburku saat itu, sehingga kau tak bisa merasakan apa yang aku rasa. Mungkin di hujan itu kau sedang bersama teman-temanmu. Atau sedang asyik membaca buku. Atau sedang berada dalam sebuah angkutan umum, seperti biasanya, selalu ketika aku menelepon. Atau seperti katamu dulu, kau mungkin ingin menonton film berbau romantis. Dan aku menebak kalau kau pasti sedang ingin menonton film Kuch-Kuch Hota Hai. Dan kau menggerutu karena tebakanku itu, sehingga membuatku tertawa. Tentu saja aku hanya menggoda.
Tapi aku tak tau saat itu kau sedang apa…
*****
Aku memang baru membaca tulisanmu. Karena itu aku baru mengetahui, bahwa sore itu kau sedang berada di depan sebuah komputer. Menuliskan kesendirianmu. Saat aku menghubungimu, karena di sore itu ada hujan yang membuatku takut.
Di sana kau tuliskan, kalau hujan membuatmu dingin. Langit magrib yang beranjak gelap sudah didahului kelabu awan hujan. Dinginnya membuat tanganmu berpelukan. Kau berusaha memeluk badanmu.
Kau bilang dinginnya memengaruhi perasaanmu, menjadi sentimentil. Tapi kalau sentimentil yang kau punyai hanya sesaat, maka aku menyukai yang sesaat itu. Sesaat, ketika kau mengatakan kalau mungkin saat itu kita sedang berjalan di atas pelangi, saat aku mengajakmu berjalan di atas pelangi. Sesaat, ketika aku bertanya, kalau nanti aku sudah menemukan sebuah pelangi, apa kau mau berjalan-jalan denganku? Dan kau mengiyakan.
Aku menyukainya. Karena pada saat itu hujan tak lagi terasa menyakitkan.
Dan setelah itu hujan berhenti. Aku membuka pintu rumahku, dan mencium bau tanah yang masih basah. Sore pun sudah beranjak malam. Dan kau pun sudah ingin beranjak pergi. Sendiri, ditemani alunan musik, dan sebotol bir.
Saat itu kau mengatakan bahwa bagiku, mungkin hujan itu menyakitkan. Tapi mungkin hujan sedang memberikan sesuatu untukku. Menemani kesendirianku…
Hujan itu telah menemaniku. Aku merasa lebih lega…
Itu yang kau tuliskan dalam catatan hujanmu. Saat itu aku pun merasakan hal yang sama.
Tapi kata Pam, ini bulan Desember. Dan hujan turun lagi.
Akankah aku memiliki catatan hujan yang sama?