Suatu siang di gedung DPRD…

Posted in bungkus on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

Gedung pemerintahan itu tampak lengang. Siang itu pintunya terkunci, dan tidak ada wartawan yang biasanya selalu duduk bercengkrama di tangga. Disana memang berisik. Tapi bukan karena aktivitas pegawai negeri yang baru-baru ini muncul di televisi gara-gara kepergok membolos. Suara berisik itu datangnya dari tukang bangunan yang asyik memanggul bata, atau menghancurkan beton-beton di halaman gedung. Entahlah, aku tak tau apa lagi yang harus diperbaiki dari gedung mewah berpagar tinggi itu.

Para kuli bangunan itu tampak lelah, dan juga melupakan satu hal: shalat Jum’at. Ah, andai Tuhan bisa langsung menurunkan rezeki yang cukup pada mereka, mungkin di siang ini mereka sedang berada di dalam mesjid yang sejuk, sambil mendengarkan khotbah yang itu-itu saja. Namun Tuhan nampaknya ingin menunjukkan sesuatu lain. Atau mungkin Tuhan tak ingin kehilangan pengikutnya, sehingga ia tak pernah mencukupkan kebutuhan manusia? Karena kalau sudah cukup, apalagi yang hendak manusia minta? Tapi sayang, Tuhan lupa satu hal. Manusia sekarang lebih suka bekerja daripada terus meminta. Toh ini bukan zaman nabi Musa, saat makanan bisa turun dari langit secara cuma-cuma. Yang diturunkan langit siang itu hanya sengatan matahari yang membuat para wanita bergidik dan enggan menginjakkan kaki ke luar rumah. 

Aku mengikuti saja kemana kakiku ingin melangkah. Berjalan di samping kepongahan gedung pemerintah, yang bahkan untuk melihat ke dalamnya saja aku tak bisa. Ada terpal yang menghalanginya, agar tak ada yang bisa melihat saat mereka bercakap-cakap di taman, atau baru masuk ke kantor menjelang jam 11 siang.

Langkahku tertahan di sebuah persimpangan jalan. Seorang wanita berkerudung putih berpakaian lusuh menyulut sebatang rokok, yang kemudian diikuti pria yang duduk di sebelahnya. Wanita itu tersenyum padaku, dan beberapa saat kemudian aku sudah duduk bersama mereka.

“Tuh di pameran banyak botol kosong!” sahut wanita tua yang duduk di sebelahku. Ternyata ia berbicara pada pria botak bertopi yang saat itu duduk tepat di hadapanku. Tangannya membawa kantong plastik yang mungkin berisi makanan. Karung putih berisi botol aqua yang baru berisi setengah, adalah hasil kerjanya hingga siang itu.

“Ah, ku satpam teu kenging ka ditu!” sahut wanita yang lain. Alasannya sudah bisa kutebak. Pemulung dan orang miskin seperti mereka pasti selalu dicurigai. Tapi ternyata bukan itu yang kudengar. “Satpam juga seneng ngumpulin botol aqua mbak, buat dijual lagi. Sama seperti kita!” sahut pria botak yang ternyata berasal dari Purworejo itu. Dan aku hanya menghela nafas. Berat.

Lampu merah di persimpangan jalan menyala kembali. Seorang pria tua, beserta wanita (yang juga tua) beranjak dari tempat duduknya di sampingku. Mereka langsung mendatangi mobil-mobil, mengulurkan mangkuk kosong yang hanya berisi beberapa kepingan receh. Kepingan itu hanya sekedar pemancing rasa iba dari para pengendara. Di belakang saku celana mereka, entahlah sudah berapa uang yang berhasil mereka kumpulkan. Sambil menadahkan mangkuk, mereka berharap Lebaran akan segera tiba. “Banyak yang ngasih uang soalnya…” sahut mereka penuh harap.

Tapi ini bukan lebaran. Hanya sebuah siang yang panas. Panas siang itu membuat para pengendara enggan membuka jendela mobilnya. Beberapa orang mahasiswa berpakaian rapi lewat tepat di hadapan kami. Di depanku, dan dua orang pemulung yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Mereka berlalu tanpa membungkukkan badan, ataupun menganggukkan kepala. Hanya lewat, yang mengakibatkan pria botak asal Jawa itu harus pindah dari trotoar yang didudukinya. Kami semua menggeleng sambil tertawa, “Dasar mahasiswa!!”. 

Aku pun berlalu, beranjak dari tempat dudukku dan menuruti langkah kakiku lagi. Di depan Gasibu, aku memerhatikan orang-orang yang lalu lalang siang ini. Pria botak tadi lewat di hadapanku. Membawa karung, yang baru terisi setengah. Ia menatapku tanpa sebuah senyuman. Hanya sebuah anggukan. Dan aku membalas anggukannya, sambil ia berlalu pergi. “Semoga beruntung…” sahutku dalam hati.

      

 

 

Buruh, Ayah, dan aku…

Posted in Terasi on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

aksi.jpg

Menjelang Magrib

Di sebuah sekretariat serikat kerja perburuhan, sore itu aku duduk-duduk bersama beberapa orang anggota serikat kerja. Hanya duduk bermalas-malasan, sambil sesekali bercanda ataupun berbincang-bincang tak tentu arah. Sementara di depan kami, salah seorang kawan terlihat asyik menonton acara anak di TPI. Awalnya kukira itu film “Eneng dan Kaus Kaki Ajaib”, film yang selalu kutertawakan namun entah mengapa kutonton juga. Tapi ternyata bukan. Film Entong. Dan aku hanya tertawa melihat kawanku yang berusia 30-an itu masih terlihat asyik menyaksikannya.

Yah, menonton televisi memang bukan soal acaranya bagus atau tidak. Tak usah terlalu banyak berdebat tentang hiburan yang mendidik setelah kita menonton acara Misteri Ilahi atau setelah kita melihat banyak ibu yang ‘menjual’ anaknya lewat sebuah kontes menyanyi di sebuah stasiun televisi swasta. Karena memang bodoh jika kita ingin mencari hiburan mendidik lewat stasiun yang dikuasai korporat berbadan tambun itu. Tak usah banyak berfikir lah! Kita hanya tinggal duduk yang manis, lalu menonton. Sesekali boleh juga kita tertawa. Menertawakan kekonyolan kita, atau apa yang kita tonton.

Sore itu aku sesekali bercerita bahwa rata-rata temanku menjadi buruh pabrik setelah keluar dari sekolahnya. Aku memang bukan ingin menceritakan teman-temanku yang tampaknya ‘menikmati’ profesi mereka sebagai buruh, atau salah satu temanku yang senang karena ditaksir salah seorang mandor muda berkebangsaan Cina. Hanya saja aku memang sulit melihat apa yang disebut para intelektual sebagai sebuah bentuk ‘ketertindasan’. Pada wajah-wajah itu, yang setiap gajian sibuk membeli parfum, ponsel, atau sepatu baru (walaupun aku tau mereka membelinya bukan di mall yang mewah, tapi hanya di lapak-lapak depan pabrik tempat mereka bekerja).

Karena itu aku sempat ilfil dan mengurungkan niat saat hendak mewawancarai mereka. “Aduh, meuni carentil kitu! Males euy ngadatanganna oge..” kira-kira begitulah sebabnya sampai aku terpaksa permisi dari tempatku mengamati para buruh yang harus memperlihatkan isi tas pada petugas keamanan sebelum mereka meninggalkan pabrik. Bodoh! Memang apa yang bisa mereka curi?

Akhirnya aku lebih memilih duduk di trotoar depan pabrik, bersama dua orang pengemis tua. Salah satunya buta. Jujur, saat itu aku lebih simpati pada mereka berdua ketimbang para buruh yang siang itu tampak asyik bercanda. Rasanya pikiranku telah mengasosiasikan ketertindasan dengan wajah murung, lelah, dan tak berdaya. Aku sempat lupa bahwa kebahagiaan memang bisa menjelma di mana saja, bahkan di ruang tergalap sekalipun.

Hermawan, advokat dari Perhimpunan Rakyat Pekerja yang saat itu duduk di hadapanku menjelaskan bahwa serikat buruh PT. Kahatex yang pernah kudatangi memang sudah kuat. Sehingga jika ada kebijakan dari perusahaan bisa langsung dikontrol. Itulah sebabnya setiap pekerja memang butuh serikat pekerja. Aku mengangguk setuju. Bagi negara yang pendidikannya rendah seperti saat ini, dan dimana kepala para atasan hanya diisi oleh bagaimana caranya mencapat keuntungan besar, memang sulit membuka ruang diskusi. Hak tawar hanya bisa didapat dengan kekuatan massa, dengan serikat pekerja sebagai penyangganya.

Aku rasa memang ini bukan cuma soal buruh. Ini soal pengkotak-kotakan istilah buruh karyawan, atau pekerja. Ini soal mengapa pemecatan, kontrak kerja, dan gaji yang rendah hanya menjadi masalah buruh. Dan empat tahun yang lalu, ayahku yang mantan pegawai PT Dirgantara Indonesia (PT. DI) itu membuktikannya. Persis seperti apa yang dikatakan mas Hermawan sore itu.

“Karena ada pengkotak-kotakan, mereka merasa aman. Gak mungkin terkena PHK. Waktu kita aksi mereka juga santai-santai aja di kantor. Akhirnya mereka kena PHK juga kan. Giliran itu terjadi, baru mereka aksi dan menuntut solidaritas. Bagus sih, mereka udah sadar. Tapi sayang mereka terlambat. Saat itu mereka baru sadar kalau kemungkinan dipecat bisa terkena pada siapa saja, selama memang hak tawar paling tinggi ada di majikan.”

Lagi-lagi aku harus mengangguk. Hal ini semakin menyadarkanku pada satu hal: setiap orang memang hanya mau berjuang ketika ia merasa hal itu relevan dengan hidupnya. Ketika hal itu dianggap sebagai permasalahannya… Dan tenggelam lah semua orang dengan permasalahannya masing-masing. Kita semua teralienasi.

Oh iya, baru-baru ini aku mendapat tugas menulis feature dengan tema yang absurd: penderitaan. Semua orang berbondong-bondong mewawancarai pengemis, anak jalanan, buruh, atau orang korban PHK. Seakan mahasiswa-mahasiswa itu tau persis bahwa mereka memang menderita. Mereka luput akan satu hal yang menjadi semangat orang-orang seperti itu untuk terus hidup: perjuangan… (aku bisa berbicara seperti ini, karena aku pun bagian dari mereka. Ingat, ayahku pun korban PHK. Tanpa pesangon).

Dan kepada mereka, ingin sekali kukatakan, “Ah, sok tau kalian!”

Kenapa Ayam Menyebrang Jalan?

Posted in bungkus on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

KENAPA AYAM MENYEBRANG JALAN ?????

Sebagai jurnalis, ini beberapa jawaban yang gw tebak dari :

Guru TK: supaya sampai ke ujung jalan

PLATO: untuk mencari kebaikan yang lebih baik

POLISI: beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa

ARISTOTELES: karena merupakan sifat alami dari ayam

KAPTEN JAMES T.KIRK: karena dia ingin pergi ke tempat yang belum pernah ia datangi

MARTIN LUTHER KING, JR: saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyebrang jalan tanpa mempertanyakan kenapa.

MACHIAVELLI: poin pentingnya adalah ayam menyebrang jalan! Siapa yang peduli kenapa! Akhir dari penyebrangan akan menentukan motivasi ayam itu.

FREUD: fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyaman seksual kalian yang tersembunyi.

GEORGE W.BUSH: kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami.tidak ada pihak tengah di sini!

DARWIN: ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.

EINSTEIN: Apakah ayam itu meyebrang jalan atau jalan yang bergerak dibawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri.

NELSON MANDELA: Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyebrang jalan! Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati

THABO MBEKI: kita harus mencari tau apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan.

MUGABE: Setelah sekian lama jalan dikuasai petani kulit putih, ayam miskin yang tertindas telah menanti terlalu lama agar jalan itu diberikan kepadanya dan sekarang dia menyebranginya dengan dorongan ayam-ayam veteran perang. Kami bertekad mengambil alih jalan tersebut dan memberikannya pada ayam, sehingga dia bisa menyebranginya tanpa ketakutan yang diberikan oleh pemerintahan inggris yang berjanji akan mereformasi jalan itu. Kami tidak akan berhenti sampai ayam yang tidak punya jalan itu punya jalan untuk diseberangi dan punya kemerdekaan untuk menyeberanginya!

ISAAC NEWTON: Semua ayam di bumi ini kan menyebrang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.

SUTIYOSO: itu ayam pasti ingin naik busway

HARMOKO: Berdasarkan petunjuk Presiden

BENNY MOERDANI: Selidiki! Apakah ada unsur subversif?

GUS DUR: Gitu Aja Kok Repot?

MEGAWATI  SOEKARNOPUTRI: Ayamnya pasti Wong Cilik. Dia Jalan Kaki toh.

ABURZAL BAKRIE: Pasti Ayam Ngungsi Dari Lapindo 

SAHAT SAHALA TUA SARAGIH: Pertanyaanmu dangkal….

Ustt…Ada yang Beol di Selokan!?

Posted in bungkus on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

Ada yang pernah liat orang beol alias berak alias pub di selokan ga?

Jangan sampe deh. Ga lagi-lagi!

Suatu hari, gw bareng sama temen2 kampus melewati jalan di sekitar stasiun kereta api Bandung (gw lupa nama tempatnya). Kapan tepatnya, gw juga lupa. Intinya, gw liat ada seseorang yang lagi beol di selokan. Pertama kali liat, gw belum ngeh kalau tu orang lagi pub. Gw kira dia cuma lagi jongkok aja. Masa iya sih beol di tengah kota…kan ga banget.

Pas gw dah ngelewatin tuh orang, baru gw sadar kalo dia itu sedang beol. Dan yang bikin gw makin syok (amit-amit cabang bayi) duh, gw ngeliat tuh tai ngejuntai gitu dari pantatnya. Yaks! Gw yakin kalau perempuan itu pasti gila. Dandanan dia sih mendukung. Bajunya berantakan (untung masih pake baju). Emang sih, walaupun di tengah kota, siang bolong, tapi kebetulan di jalan itu lagi sepi orang.

Gara-gara mau ke toilet bayar!Menyebalkan! Kita doakan saja ia kembali ke saluran yang benar…amin

Nb: Maaf ga ada fotonya. Jijay gw…padahal waktu itu gw bawa kamera. Tapi, duh…ga banget…

Luka Itu Mengerikan

Posted in Terasi on Desember 26, 2007 by bungkusterasi

Nani 

Kuingat hari itu hari minggu. Tidak mendung. Suasananya sejuk, berawan, angin sepoi-sepoi bertiup, membuat diri terus merasa nyaman dengan alam. Hari itu, Minggu, 11 Nopember 2007, aku datang ke  kediamannnya, di Kompleks Pasir Jati, Bandung. Sendirian. Tiba pukul empat sore, baru pulang hampir tengah malam. Sendirian.

Nani (42), ibu dua anak, satu suami. Hanyalah perempuan biasa pada awalnya. Sakit yang ia derita membuatku yakin bahwa ia bukanlah seorang perempuan biasa.

Nani menderita kanker payudara stadium empat lanjut. Sudah tiga tahun ia merasakan keganasan dari penyakit ini. Membuatnya sentantiasa akrab dengan kasur, berbaring, dan tak kuat menahan fisik yang semakin berkurang daya tahannya.

Ketika sampai di rumahnya, aku banyak berbicara dengan anak pertamanya, Puspa (20). Ia satu kampus denganku di Unpad, tapi beda jurusan.

Puspa banyak bercerita. Entah. mungkin bisa kukatakan cerita sedih, karena memang membuat mataku berkaca-kaca. Aku ingin menangis, tapi kutahan. Mungkin bisa kukatakan cerita inspirasi, karena memang membuatku merasakan perjuangannya. Mungkin bisa kukatakan cerita yang bagus, karena memang apa yang disampaikannya sangat menarik. Tapi kuyakin, ini tidak bisa kukatakan cerita lucu atau cerita yang menyenangkan, karena aku memang tidak bisa tertawa.

Nani masih enggan untuk diajak bertemu. Kata Puspa, ibundanya ingin beristirahat. Aku tidak keberatan. Menjelang malam, aku merasa sedikit resah. Beberapa keluarga suami Puspa datang. Aku lupa mengatakan, saat ini Puspa sedang hamil tiga bulan. Nani makan malam ditemani keluarga menantunya. Banyak tawa di sana. Saling melempar kata-kata lucu, saling mengejek, terlihat senyum, dan terdengar suara-suara riang, penuh canda tawa.

Tiba saat Nani untuk digantikan perban pada luka di payudara kirinya. Aku meminta izin untuk ikut serta dalam proses itu. Kuingat Puspa berkata, “Belum siap,” itu saja. Aku pasrah, yah…apa boleh buat.

Aku bertanya lagi, merasa kurang puas, “Ibunya ga mau ya….?”

“Bukan begitu, ibu ga masalah. Tapi Fatianya takut ga siap,” jelas Puspa. Ternyata sejak tadi aku salah paham. Bukan ibunya yang belum siap, tapi aku. Seketika kukatakan, “Bismillah, insyallah siap.”

Aku lemas saat itu juga. Saat perban yang melapisi luka itu dibuka. Allahhu akbar. Nani masih bisa tertawa. Beberapa kali ia memang meringis. Pasti sakit. Tapi, sumpah aku tidak bohong, ia benar-benar tersenyum, bahkan tertawa.

Apa yang bisa aku katakan tentang luka itu? Entahlah, kemampuanku untuk mendeskripsikannya mungkin akan terdengar dilebih-lebihkan, atau malah tidak seperti apa yang sebenarnya, tapi aku akan berusaha.  

Payudara kiri Nani sudah tidak ada. tidak ada lagi kulit yang melindungi daging di dalamnya. Ada bagian-bagian yang berwarna putih, bernanah. diakui Nani luka itu seringkali berbau anyir. Seperti kawah gunung berapi. Daging-daging merah, tidak ada kulit yang melapisi, seperti luka koreng yang tak berkesudahan. Mengerikan.

Nani sangat kuat. Nani ingin sembuh. Terus berjuang. Berdoa dan berdoa. Aku berharap yang terbaik untuknya.  

Bertemu dengan Becak Pejuang

Posted in bungkus on Desember 21, 2007 by bungkusterasi

Nyentrik Abizz

Abdurrahim. Lelaki tua ini usianya sudah lebih dari setengah abad, 72 tahun. “Saya sudah bersama dengan becak ini sejak zaman Pak Soekarno,” katanya. Walaupun ia sudah menikah dan mempunyai anak, jiwa berpetualang Abdurrahim tidak pernah pudar. Baru setiap sekitar satu bulan, ia pulang ke kediamannya di daerah Majalaya, Bandung. Kehidupan sehari-harinya ia penuhi dengan berkeliling Indonesia bersama dengan becaknya.

Saya bersama dengan teman-teman sekampus, tidak sengaja bertemu dengan Abdurrahim di perempatan Jalan Braga, Bandung. Penampilannya yang Nyentrik Abizzz, membuat dia menjadi pusat perhatian. Bak pejuang, Abdurrahim berpakaian layaknya ABRI, dengan pakaian hijau loreng-loreng. Agar tampak serasi, becaknya ini juga ia cat dengan warna yang seragam.

Walaupun sudah tua, Abdurrahim terus mengenjot pedal becak tanpa kenal lelah. Entah apa yang ingin ia perjuangan saat ini. Sekedar ingin mencari perhatian saja, tampaknya lebih dari itu. Kita tunggu sepak terjangnya.