3. Tips Mengisi Waktu Pasca Ujian

Posted in fiksi on Februari 14, 2016 by bungkusterasi

Kondisi kelas hari ini sepi. Mulai banyak teman-teman yang sudah malas datang ke sekolah. Setelah ujian kelulusan selesai, kelakuan siswa kelas 3 SMA di sekolah sudah seperti bos kecil. Banyak gaya, dan berasa yang punya sekolahan. Btw, I’m part of them. Hahaha. Urusan badan kecil tidak jadi penghalang. Kelas 2 minggir, kelas 1 jangan coba-coba main ke lantai atas.

Dua bulan lagi waktu yang tersisa saat memakai baju putih abu ini. Rasanya aneh geli-geli lucu gimana gitu. Btw, masa SMA saya tidak menjadi masa yang mungkin kebanyakan orang bilang masa yang paling indah. Mungkin kebanyakan orang bohong, yang bilang atau ngaku-ngaku masa SMA-nya merupakan masa luar biasa dan sulit dilupakan. SMA saya datar, ya begitu saja rasanya. Seperti martabak tiga telur, bukan martabak istimewa dengan tambahan telur dan daging. Dan perasaan saya, saya ga sendiri. Saya menjadi saksi atas kedataran hidup teman-teman SMA lainnya. Ga ada urusan bolos membolos, juga pacaran.

Hidup saya penuh dengan pergi pagi, belajar dan bermain di sekolah, lalu pulang jam 4 sore. Berulang, tapi entah mengapa tak pernah terasa bosan. Mungkin karena masa ini adalah masa ngecengin teman.

Walaupun ga pacaran, tapi suka sama temen sekelas yang udah punya pacar ga dilarang kan? Inilah yang bikin saya semangat tiap jam 6 pagi udah berangkat dari rumah. Tiga tahun sekolah, empat orang yang saya kecengin. Tahun pertama, namanya Budi. Anak kelas 1-10. Saya kelas 1-1. Pacar Budi di kelas yang sama dengan saya. Tahun kedua, namanya Yudha, satu kelas. Belum punya pacar, tapi saya tau kalau dia suka sama Rosita, teman sekelas saya yang lain. Wong Yudha curhat ke saya, yang duduk tepat di depannya. Rosita duduk di kursi paling depan. Maklum, perempuan teladan ini adalah siswa berprestasi yang biasa ikut olimpiade SMA. Tahun ketiga, namanya Ridwan. Nama alim, kelakuan badboy. Ridwan adalah kecengan semua perempuan di SMAN 87 Jakarta. Saya hanya bagian remah-remah yang ga jelas. Dan Surya menyusup di bagian akhir, duduk sebangku dengan Ridwan.

Hari ini saya masuk ke sekolah, dan pulang sebelum jam 12, karena seluruh guru kelas 3 sedang sibuk mengurus hasil ujian. Kerjaan di sekolah hanya obrol-obrol ga jelas, bahas rencana kuliah, dan nonton teman-teman main bola. Sayang tidak ada pihak yang bertanggung jawab sama urusan hura-hura atau creating a happy memory gitu saat kita udah dalam masa menunggu pengumuman kelulusan. Sekolah kenapa cuma genjot siswanya buat lulus doang ya, selesai ujian trus hilang deh perhatiannya.

Tips Mengisi Waktu Pasca Ujian

  • Kelompok anak rajin bakalan memilih mengisi waktunya dengan mereview soal-soal ujian. Dan, hello, saya bagian dari kelompok ini, for your information.
  • Kalian yang malas, coba ikuti langkah kami yang rajin-rajin ini. Langkah ini berguna banget bagi kamu-kamu yang akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
  • Review soal juga efektif buat kamu yang malas ikut les pemantapan. Karena itu, sempatkanlah untuk tetap belajar tepat setelah ujian usai.
  • Kalau udah review, kamu mesti hang-out. Makan di KFC atau nonton bioskop rasanya masih mampu kan. Sebaiknya habiskan waktu dengan teman-teman SMA semaksimal mungkin, karena saat kuliah, dunianya sudah berbeda.

2. Tips Mecahin Jerawat Tanpa Bekas

Posted in fiksi on Februari 14, 2016 by bungkusterasi

Memang saya yang ke-GR-an ternyata. Setelah liat-liat saya berbulan-bulan, eh Surya malah jadian sama temen saya, yang duduknya ga jauh-jauh amat dari saya. Posisi bangu dia sedikit menyerong ke depan. Saya sedikit curiga, apa jangan-jangan mata Surya juling ya? Pasti dia juling dan cacingan. Dia tuh sebenernya melihat ke saya atau ke Lala sih? Ngeselin abis.

Surya memiliki wajah yang tidak bisa dibilang jelek. Tapi saya sepakat sama temen sebangku saya, Egi yang bilang kalau dia itu ga cakep. Atau bahasa lainnya standar. Dia memiliki beberapa bekas jerawat di pipinya. Sepertinya jumlah jerawat di pipi kanan sedikit lebih banyak. Dia cukup tinggi bila dibandingkan teman-teman laki-laki lainnya.

Sementara saya yang berbadan mungil ini, akan tampak seperti keponakannya kalau berdiri bersisian. Sebaliknya, Lala itu lebih tinggi, dan MUNGKIN lebih cantik dari saya. Wajah saya? Mmm, cukup manis dengan rambut lurus sedikit bergelombang di bawah. Ini pendapat pribadinya.

Egi berbisik saat pelajaran Pak Suryo, guru bahasa inggris kami. “Surya beliin Lala boneka katanya kemarin.”

Saya nahan napas, berusaha mengontrol emosi. “Trus,” respon saya terlihat tertarik tapi dengan ekspresi datar.

“Kayanya mereka jadian deh. Soalnya Lala nerima bonekanya,” balas Egi.

Saya tidak banyak merespon. Rasanya pengen jambak rambut Surya dan mencet jerawat mateng di bawah hidungnya.

Tips Mecahin Jerawat Tanpa Bekas

  • Jangan dipecahin. Plis, kalau ga mau meninggalkan bekas ya biarkan dia pecah dengan alami. Pecah dengan sendirinya.
  • Kalau tangan lo rese, ya apa mau dikata. Saya tau banget bagaimana susahnya menahan gejolak dan hasrat mecahin jerawat. Tiap menjelang kedatangan tamu bulanan, selalu saja ada benjolan nangkring di dagu atau jidat.
  • Keluarkan seluruh isi penyakit di dalam jerawat itu dengan tangan yang sudah bersih.
  • Jika sudah keluar, kompres dengan handuk dingin yang dilapisi es. Itu dilakukan agar pori-pori kulit tidak membesar.
  • Jangan heran kalau esoknya kamu akan melihat bercak merah dipipimu. Ga usah takut, biarkan. Semakin dipikirkan, malah akan menimbulkan datangnya jerawat baru.
  • Ada bekas merah sedikit itu wajar, syukuri. Kan tadi saya sudah bilang kalau jangan dipecahin. Salah siapa sekarang?
  • Pilihan terakhir. Gunakan tenaga ahli! Facial di salon atau ke dokter kulit. Ah, tapi mahal kawan. Ga usah terlalu khwatir sama jerawat. Banyak kok orang jerawatan yang tetep kelihatan kece.

1. Tips PDKT

Posted in fiksi on Februari 14, 2016 by bungkusterasi

Laki-laki bernama Surya itu sudah cari-cari perhatian hampir 4 bulan lamanya. Entah karena saya yang merasa terlalu baper atau dia yang merasa tidak yakin dengan perasaannya. Ujung-ujungnya, saya merasa digantung, bahkan sebelum yakin apakah Surya itu memang sedang PDKT sama saya atau lagi cacingan.

Saya yakin dan memang melihat dia yang suka curi-curi pandang saat di kelas. Bahasa curi-curi pandang ini masih populer di awal tahun 2000-an. Sepanjang pelajaran sejarah, dia nengok ke kiri terus. Kebetulan saya memang duduk di sebelah kiri dia, selisih 2 meja. Kadang saya pura-pura menjatuhkan pensil, hanya untuk mencari bukti kalau laki-laki berjerawat itu memang lagi ngeliatin saya. Pernah juga saya iseng bertanya catatan kepada Egi, teman sebangku yang duduk di sebelah kanan saya. Teng, dan mata kami bertemu. Eh, malah saya yang salting. Surya lalu senyum-senyum sendiri. Gitu aja terus berbulan-bulan, dengan banyak kejadian geje lainnya. Tak terasa, 3 bulan lagi tiba masa kelulusan.

Tips PDKT

• Sebelum memutuskan untuk PDKT, baiknya yakin dengan perasaan diri sendiri dulu. Jangan pas di tengah-tengah lalu mundur, padahal belum ditolak.
• Plis, PDKT ga usah lama-lama, satu bulan juga udah cukup. Kalau kelamaan, bisa-bisa disalip angkot sebelah. Percuma kan sudah bawa sedan tiap hari.
• Jangan keseringan senyum-senyum sendiri. Bikin kesel yang liatnya, khususnya saya.
• Jadi, kamu suka apa ngga sih? Mau jadian atau cuma iseng aja? Ini nih yang bikin cewe-cewe menggalau.
• Tetapkan target. Mau jadian, sahabatan, kakak-adean, atau TTM (teman tapi mesra).
• Siapkan mental untuk nembak. Ini yang penting. Jangan mental buat ditolak. Urusan ditolak belakangan, yang utama nembak dulu.
• Modal. Jangan cuma liat-liat doang. Di dunia ini ga ada yg gratis. Liat-liat mesti bayar. Ajak cewenya jalan kek, nonton kek, atau kasih kado setidaknya, apa kek. Padahal saya ultah ke-18 kemarin, dan Surya malah ngeledekin di depan kantin bu Maryam sang penjual mie ayam. Sial.

SORE HARI CERIA, BERSEPEDA RIA

Posted in bungkus with tags on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

20/12/2010, Senin

Hari minggu kemarin saya jalan-jalan

Dengan anak-anak naik sepeda beriringan

Pergi ke laut sambil balapan

Menyenangkan sekaligus melelahkan

 

Kami mengayuh pedal sekuat tenaga

Setengah jam naik sepeda

Menuju laut  jauh di sebelah sana

Waktu berlalu tidak terasa

 

Sudah sampai di persimpangan jalan

Turun dari sepeda berjalan perlahan

Laut ada di hadapan

Anak-anak mulai berlari tidak sabaran

 

Laut di sini berbeda

Tidak seperti yang tampak dalam layar kaca

Pasir pun tidak ada

Pohon bakau dan lumpur menghiasinya

 

Bila diinjak kaki tenggelam

Berjalan sulit kaki tertahan

Anak-anak riang sudah paham

Saya bingung keluar jeritan

 

Ada Rusdi, Ahmadi, dan Fizi

Ditambah Asa, Lilis dan Yuni

Lana, Jihan, juga Heru terus mengikuti

Kami bersenandung tiada henti

 

Ombak naik air laut pasang

Berat hati memaksa pulang

Walaupun tawa sempat hilang

Berjanji akan kembali, membuat mereka menjadi riang

 

Kami pulang menyusuri jalan berbeda

Naik sepeda menikmati senja

Senyum tersulam menatap mereka

Mengisi masa dengan tawa

 

Rasa hati mulai berdesir

Melewati hari yang akan berakhir

Rasa syukur terus terukir

Singkat kisah di Bantan Air

 

NB: Sebagai informasi, masyarakat di Bengkalis alias masyarakat melayu sangat mahir berpantun. Sebenarnya saya tidak begitu pandai, tapi saya sangat ingin mencoba, yahhhh…ternyata alhamdulillah, setelah satu bulan, bisa selesai juga…hehehe…

Ini pantun yang saya buat satu tahun yang lalu, saat saya masih bertugas di desa Bantan Air, Kabupaten Bengkalis, Riau. Semoga kalian dapat merasakan kebahagian yang tertuang di dalamnya, karena saya pun masih dapat merasakannya, sampai saat ini.

Saya dan Indonesia Mengajar

Posted in bungkus with tags on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

06/11/2010, 23:07, Sabtu (curhatan lama)

Akhirnya secara jelas dan saya rasakan langsung bukti bahwa di dunia ini jelas ga ada yang namanya sebuah kebetulan. Apa yang saya lewati saat ini, kita lewati, bener-benar sebuah ketetapan yang sudah ditakdirkan buat kita semua.  Saya ingin berbagi dan bercerita tentang pengalaman hidup saya yang baru-baru ini saya alami.

Pertama kali saya tau kalau dengan bodohnya saya telah melewatkan masa pendaftaran S2, saya pun menjadi bingung harus melakukan apa. Apa yang harus saya kerjakan? Sementara saat itu ratu, ega, juga dina (sahaabat-sahabat yang selalu saya sayangi) udah pada kerja, dan saya yang sebelumnya dengan keyakinan penuh berencana untuk melanjutkan S2, tapi juga secara bodohnya malah tidak tau sama sekali informasi tentang masa pendaftaran, yang juga secara yakin untuk tidak bekerja karena yakin akan langsung melanjutkan sekolah lagi tanpa ada jeda kerja sebelumnya, merasa santai saja saat tau kalian orang-orang terdekat saya udah pada ada kerjaan, sementara saya belom. Tapi itu semua berubah, dan saya panik seketika saat kesadaran itu datang. Saat tau saya ga ada kerjaan, dan kalian semua udah pada kerja.

Dan suatu yang saat itu masih saya sebut sebagai kebetulan, datang untuk pertama kali. Sore itu, setelah janjian sama ega untuk pergi ke DU (daerah bandung) melihat jadwal S2 sekaligus jdawal pendaftaran, saya  sama ega juga janjian ketemuan sama ratu. Masih dengan perasaan BeTe akibat batal melanjutkan S2 dan kesulitan untuk merancang kehidupan saya sebelumnya, karena tiba-tiba keluar dari peta yang sudah saya rancang. Hari itu, di kosan lo, anof (salah satu teman) datang dengan informasi adanya gerakan indonesia mengajar yang mengirim guru-guru ke daerah pelosok.

Saya yakin ratu dan ega tau persis bagaimana hasrat saya yang begitu besar untuk menjadi guru, dan saat tau itu adalah di pelosok, maka itu menjadi bonus lebih buat saya. Terlebih lagi habis membaca buku sakola rimba, saya dengan ratu begitu ketagihan untuk bisa seperti itu.

Informasi itu merupakan sebuah takdir pertama yang begitu saya sadari keberadannya. Dengan yakin, saya langsung positif buat daftar kegiatan tersebut tapi tidak pernah yakin untuk benar-benar diterima. Saya pernah bilang sama ega kalo penyesalan terbesar saya adalah kalau sampai terlambat untuk mengirimkan draf pendaftaran ke indonesia mengajar. Karena ya,,,,masa saya harus mengulangi kesalahan yang sama seperti saya yang gagal karena terlambat mendaftar untuk S2 sebelumnya. Tapi jujur, saya ga pernah berpikir kalau benar-benar akan diterima. Saya hanya berharap minimal saya lolos tahap pertama, yah, paling tidak itu sudah cukup (pikir saya waktu itu). Secara ya, dengan sadar saya juga tau kalau lawan saya dominan banyak anak itb juga, jadi yo ga perlu terlalu ngotot.

Dan benar, subhanallah, saya ga tau bagaimana menggambarkan kegembiraan  rasa degdegan saya juga ketakutan merayap sekaligus dalam diri saya saat tau kalau saya lolos tahap demi tahap dalam seleksinya. Saya lolos. Benar ini jawaban atas doa-doa saya selama ini. Ega, apakah lo masih inget waktu saya cerita bahkan sampai menangis waktu tau sastri mengajar di daerah tertinggal di kepulauan seribu? Waktu saya cerita bagaimana irinya saya saat ka fiah (kakak saya tersayang) yang menjadi guru, ratu menjadi guru, lalu ega yang akhirnya mendapat pekerjaan menjadi guru.

Doa ini panjang, saya minta bahkan sempat saya relakan dan saya anggap hilang saat saya mencoba merasa ikhlas untuk menerima diri saya yang nyatanya masuk dan belajar di jurusan jurnalistik, yang pasti hampir tidak mungkin buat masuk ke profesi guru. Tapi hal itu berubah perlahan, saat satu demi satu orang-orang terdekat saya menjadi guru.  Dan doa itu muncul lagi, meminta lagi untuk diberikan kesempatan bisa menjadi guru.

Kejadian itu terjadi sekali lagi. Saya ingat saat kontrak pekerjaan dikirimkan dalam format soft copy, rasanya lucu dan aneh saat membaca isi kontrak tersebut. Dalam kontrak dituliskan bahwa kontrak ini berlaku mulai dari saya diberangkatkan ke daerah pada tanggal 10 nop 2010 sampai 10 nop 2011. 10 nopember adalah hari spesial buat saya, hari kelahiran, hari ulang tahun. Saya tertawa-tawa sendiri. Dalam hati mulai merasa yakin bahwa ini merupakan takdir bagi saya. Dalam hati saya bilang, ko bisa pas gitu…hehehe

Tapi hal itu tidak berhenti di sana. Saat ditetapkan waktu untuk penandatanganan kontrak, saya sudah tau sebelumnya kalau harus melakukan pelatihan dulu selama dua bulan di daerah bogor. Pemberitahuan secara detil baru diberitahukan saat hari tanda tangan kontrak tersebut. Masuklah saya ke dalam ruangan. Saya diminta untuk membaca kontrak dan petunjuk pelatihan secara seksama. Halaman petunjuk peta mengenai alamat pelatihan ditulis di halaman paling belakang. Dan saya kembali tertawa saat tau bahwa pelatihan akan dilakukan di pancawati, tempat saya KKN hampir 2,5 tahun yang lalu. Oke, saya kembali ke tempat di mana saya pernah melakukan pengabdian masyarakat sekaligus pada masa KKN itu pula pertama kali saya melakukan dan terlibat dalam pengajaran.

Oke, di pancawati. Bus saya berangkat, bersama 50 teman-teman baru (tidak termasuk nisa). Mengulang perjalnan ke desa, sekaligus bernostalgia, karena saya memang belum pernah main ke desa, sejak kkn saya berakhir dulu. Melewati jalan yang dua bulan penuh dulu selalu saya lewati. Bus saya terus jalan, dan jantung saya kembali berdetak. Bus saya berhenti tidak sampai seratus meter dari rumah yang pernah saya tinggali dulu. Sementara asrama yang menjadi tempat pelatihan ini benar-benar berada tepat di belakang rumah kontrakan saya saat kkn dulu. Sebagai informasi, jalan pancawati itu sangat panjang, ibarat perjalanan dari unpad ke cinunuk, mungkin sampai cibiru (hampir 4-5km). Artinya jauh, dan di sepanjang jalan itu, baik di sisi kiri atau kanan jalan, berjejer banyak tempat yang mungkin bisa dijadikan asrama pelatihan. Tapi, bus saya berhenti tepat di bangunan terdekat dari rumah kontrakan saya dulu.

Masih ada satu hal lagi, yang saya pikir mungkin masih ada kelanjutannya lagi….dalam masa pelatihan selama dua bulan di sini, ada satu pekan di mana kami (pengajar muda – sebutan pekerjaan saya) diminta untuk mengajar di sd-sd yang ada di sini, yang berjumlah 10 sd. Setiap sd nantinya akan diisi 5 pengajar muda yang akan mengajar full di sana selama seminggu. Dari sepuluh sd, saya kembali dipertemukan dengan sd yang dulu menjadi tempat saya melakukan pengajaran saat saya kkn dulu. Dari sepluh sd, saya cuma pernah mengajar dulu di satu sd saat kkn dulu, dan kembali saat saya melihat jadwal yang disusun panitia indonesia mengajar, saya menemukan nama saya tertera dan di kolom di sbelahnya tertulis nama sd yang sama saat saya pernah mengajar di sana saat kkn lalu.

Sejak kebetulan kedua sebenarnya saya sudah yakin kalau ini merupakan takdir diri saya. Seiring dengan begitu banyaknya kebetulan yang ikut menjadi bagian dalam proses ini, saya harap ini merupakan tanda dari Allah kalau apa yang saya kerjakan sekarang benar adalah jalan hidup saya. Saya ga pernah merasakan kebetulan sebanyak ini sebelumnya, dan saya selalu bilang bahwa indonesia mengajar ini adalah jodoh terbesar dalam hidup saya.

Berjodoh

Posted in Uncategorized on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

2 Februari, 2012

Nisa,

Saya tidak tahu mengapa saya selalu berada dekat dengannya. Saya tidak pernah berusaha untuk menjalin hubungan dengan seorang Nisa. Pernah, saya ingat satu kali, dan cukup satu kali itu saja. Saya tidak ingat pernah merasa begitu tertarik untuk mengenal seorang pribadi sepertinya. Tanpa disadari, hubungan ini tercipta dengan sendirinya. Hubungan ini bukan muncul karena sistem simbiosis mutualisme yang kita kenal dalam pelajaran IPA. Saya yakin kami tidak merasa saling diuntungkan satu sama lain juga tidak saling merugikan. Betul kamu tidak merasa dirugikan dengan hubungan ini kan Nis? Ini hanya sangkaan saya saja.

Jodoh ini bermula sejak  saya bertanya padanya di suatu sore saat sedang mengisi lembar KRS pertama di bangku kuliah, tujuh tahun yang lalu. Saya katakan pada Nisa, “Ke kamar mandi yu!” Responnya saat itu, “Ngga ah.” Nisa langsung berbalik badan. Saya yakin dan saya ingat betul  kalau saat itu saya memutuskan untuk tidak akan berteman dengannya, seorang yang super cuek dan tidak ramah. Bukan karena saya takut pergi ke kamar mandi sendiri, lalu kemudian saya mengajak Nisa yang kebetulan duduk di depan saya. Saya hanya merasa perlu menjalin interaksi dengan seseorang dan bukankah itu hal umum untuk mengajak perempuan lainnya untuk menghabiskan waktu bersama berjalan ke kamar mandi?

Keputusan untuk mengajak dia ternyata salah, karena membuat saya telah menggunting ikatan awal yang mungkin saja terbentuk, karena sejak itu saya betul-betul merasa tidak perlu berteman dengannya. Tapi entah bagaimana, entah siapa, dan entah kenapa, pada akhirnya kami betul-betul terikat dalam sebuah pertemanan. Mungkinkah saya yang dengan khilafnya memulai kembali hubungan ini, atau kah Nisa? Sudah tidak penting lagi saat ini.

Kalau kalian berpikir hubungan kami sangat dekat, mungkin kalian yang salah mempersepsikan makna “teman”. Teman berdiskusi, karena Nisa itu cerdas, dia banyak membaca. Teman satu kelompok, karena Nisa itu cukup bertanggung jawab, dia bisa diandalkan. Teman satu blog, karena Nisa itu pandai menulis, dia ahlinya. Teman mengumpat, karena Nisa itu lelah, sama dengan saya. Teman satu nasib, karena Nisa itu mengekori saya, membuat kami berada dalam satu perahu yang sama.

Berada dalam satu ruang kelas yang sama selama 4 setengah tahun kuliah, ternyata tidak cukup membuat ikatan ini menjadi longgar.  Dengan mengagetkan saya, Nisa kembali datang memutuskan untuk ikut bergabung dalam sebuah gerakan yang sama dengan saya. Saat itu, saya sedang membuka sebuah website. Duduk bersila di lorong kantor jurusan Jurnalistik. Nisa datang mendekat dan menanyakan apa yang sedang saya lakukan. Kalau saja seandainya ia tidak bertanya, saya juga tidak mempunyai kewajiban untuk memberitahukan dia mengenai kegiatan yang sedang saya lakukan saat itu. Hal ini murni karena ia bertanya, jadi saya pun dengan santainya menjawab, “Mau apply ke Indonesia Mengajar.” Dan kami pun kembali bertemu di perahu yang sama. Kami sama-sama berlayar.

Sedang apa Nis?

Sudah Lama

Posted in Terasi with tags , on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

20 Februari, 2012

Jakarta

Sudah lama, sudah lama saya meninggalkan kota Jakarta. Tapi masalah waktu mungkin kita akan memiliki perbedaan persepsi makna. Saya bisa mengatakan kalau satu tahun yang lalu adalah waktu yang lama, tapi tidak dengan Anda. berbeda itu biasa.

Selamat tinggal Jakarta.

Sudah lama, sudah lama saya kembali ke Jakarta. Kembali, masalah waktu kini betul-betul diekpresikan berbeda. Saya katakan, tiga bulan yang lalu itu adalah waktu yang lama. Saya menjadi orang yang berbeda.