Benarkah Kita Sebuah Bangsa?

Ketika berbicara tentang sebuah bangsa, maka kita akan kembali pada polemik yang hingga kini tak ada habisnya. Jika ada yang menganggap bahwa bangsa merupakan sebuah kesatuan, banyak orang mempertanyakan: kesatuan yang mana? Siapa yang merasa bersatu? Apalagi jika kita berbicara tentang kemajuan atau kebangkitan sebuah bangsa: untuk siapakah sebuah bangsa itu bangkit?

            Sebuah bangsa lahir, sebuah bangsa terbentuk, namun kita jarang bertanya untuk apa. Ben Anderson, menyebutkan bahwa sebuah bangsa adalah sebuah komunitas yang digagas, sebuah kebersamaan yang diimajinasikan (imagined community). Karena satu kebetulan sejarah, maka ada satu bangsa yang bernama Indonesia. Kebetulan sejarah itu memang bukan suratan takdir, tapi dalam kebetulan sejarah itu terdapat sekelompok orang yang merasa bernasib sama. Untuk itulah mereka berjuang, mengumandangkan gambaran bahwa yang kebetulan itu bukanlah kebetulan, dan komunitas bersama yang diimpikan itu bukan sekedar gagasan. Mereka punya satu harapan untuk bersama-sama membentuk hidup yang lebih baik. Mungkin karena itulah sebuah bangsa lahir.

            Berbicara tentang apa itu bangsa adalah sebuah wacana yang terlalu muluk untuk kita bicarakan saat ini, mungkin. Pada awalnya memang ada sekelompok orang yang menggagas impian tentang sebuah bangsa. Tapi yang kita saksikan baru-baru ini, ketika sekelompok elemen masyarakat semakin terpisah dengan elemen yang lain tanpa sebuah impian bersama, itulah gambaran bangsa. Orang memang bisa merasa senasib ketika mereka sama-sama menderita,  namun mereka menjadi lupa akan kebersamaan itu ketika mereka punya satu kepentingan tertentu yang biasanya bersifat pribadi. Di sini bangsa tak ubahnya hanya seperti sebuah permainan politik, dengan pameo-nya yang terkenal: “tidak ada lawan ataupun kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi“. 

Bangsa dan Nasionalisme: Antara Masa Lalu dan Masa Kini

            Mengapa kita masih berbicara tentang sebuah bangsa – apalagi tentang arti dari nasionalisme – tak lain karena memang harus diakui kita masih kurang menyadari tentang bagaimana hidup bersama di bawah satu teritori yang kita cap sebagai bangsa. Tanpa kesadaran itu, yang nampak hanya sekelompok orang yang hidup bersama, namun tak ada kebersamaan di antara mereka.

            Ada yang sedikit berbeda antara nilai bangsa dengan nasionalisme-nya pada awal bangsa ini terbentuk, dengan nasionalisme yang berkecamuk saat ini. Nasionalisme zaman dulu dibentuk dengan sebuah kesadaran untuk saling berbagi dalam komunitas bersama yang disebut bangsa. Kita bisa melihat bagaimana sejumlah anak priayi Jawa yang tengah mencicipi privelese bersekolah tinggi dalam suasana kolonial awal abad ke-20, mampu berbicara tentang nasib rakyat kecil.

            “Sudah sejak dulu, pelajar-pelajar STOVIA telah membicarakan gagasan bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan rakyat kita, terutama rakyat kecil…“ Itulah yang mereka katakan, sekelompok orang yang tidak melarat namun berbicara akan penderitaan rakyat yang tak mereka rasakan. Sementara kalangan priayi tinggi lain mendirikan perkumpulan eksklusif dengan nama Sedya Mulya, mereka yang terkumpul dalam Budi Utomo, tak hanya berbicara tentang “rakyat kecil“, melainkan juga tentang “persaudaraan nasional”. Yakni suatu persatuan umum di Hindia Belanda, “tanpa perbedaan ras, jenis kelamin, ataupun kepercayaan“.

 Jelas apa yang mereka katakan bukan kalimat retoris belaka, seperti yang sering kita lihat saat ini terutama menjelang Pemilu. Mereka merupakan cerminan perasaan untuk ikut memiliki sebuah peninggalan yang kaya. Satu kenangan kolektif tempat berbagi sesal yang membekas, dan meneruskan warisan untuk terus membangun apa yang telah mereka perjuangkan. Mereka adalah orang yang hadir ketika menemukan bahwa sebagai bumi putera, mereka hidup sengsara di bawah ketiak “si menir“.

Namun bagaimana nasionalisme saat ini? Zaki Laidi, dalam A World Wihout Meaning mengatakan bahwa nasionalisme saat ini anti-universalis. Di dalamnya, tak akan ada lagi sekelompok anak priayi Jawa yang mau memikirkan nasib rakyat kecil. Nasionalisme ini tak punya tujuan akhir yang yakin akan bisa diterima kelompok lain.

Kiranya apa yang dikatakan Laidi benar adanya. Apa yang dianggap sah oleh orang Aceh atau Papua tak pernah digagas oleh para birokrat yang tinggal di Jakarta. Nasionalisme jenis ini tak bisa memahami, mengapa harus ada pembangunan di daerah yang bukan menjadi tempat lalu lalang para investor. Ia mengerat-erat yang besar menjadi bagian kecil dengan saling menonjolkan perbedaan masing-masing: antara Jawa dan bukan Jawa, antara birokrat dan rakyat, juga antara “si kaya” dan “si miskin”.

Ia mengangkat tinggi segala hal yang memisahkan diri dari orang lain di dekat kita. Akibatnya, pertalian dengan orang lain hanya dianggap sebagai buatan. Ia palsu, dan kita semakin sulit membedakan mana yang benar-benar murni rasa bersama, dan mana yang topeng belaka.

Nasinalisme ini menampik semua yang universal. Dalam proses antiuniversalitas-nya, banyak manusia yang telah menjadi korban “kebengisan” nasionalisme. Jutaan manusia yang disebut orang Indonesia dibunuh dan diusir dari rumah mereka oleh manusia yang juga disebut orang Indonesia. Daerah-daerah dikerat sesuai dengan kepentingan masing-masing. Ada yang bertugas untuk memproduksi hasil alam, ada juga yang hanya menikmatinya. Yang merasa dirugikan, akhirnya membuat nasionalisme sendiri: menjadi nasionalisme ala Aceh atau nasionalisme ala Papua. Inilah yang terjadi. Satu negeri dengan berjuta nasionalisme.

             Namun sepertinya dari awal memang yang universal dalam sebuah bangsa itu tak pernah ada. Arti kata senasib sepenanggungan, pada zaman penjajahan pun pernah menjadi nisbi. Nyatanya, yang merasa senasib sepenangungan hanyalah orang yang sama-sama menderita. Kaum menak, pengusaha, ataupun pejabat jaman kolonial mungkin tak merasakan itu. Kalaupun ada yang ikut berjuang, mungkin hanya segolongan. Beda lapisan sosial memang kadang berarti beda penderitaan.    

            Kontradiksi semakin melebar jika kita menanyakan, apakah bangsa itu? Sekelompok orang yang tinggal di bawah jembatan layang mungkin menyangsikan keberadaan dirinya dalam sebuah bangsa. Terlalu muluk, bagi mereka yang hanya menumpang hidup di sebuah teritori yang sudah di-cap milik sebuah bangsa. Jika ada hasrat untuk hidup bersama, siapakah yang berhasrat itu? Lagi-lagi, jika kita ingin meminta pendapat kaum miskin yang paling disulitkan sepanjang sejarah, mungkin mereka akan menggeleng. Keinginan mereka telah tenggelam dalam monopoli ukuran yang atas nama bangsa disebut sebagai kepentingan nasional.

            Pada akhirnya mungkin kita pun bingung, karena sebab apakah sebuah bangsa dan negara itu terbentuk? Dan untuk siapa? Namun toh kebingungan itu tak membuat kita berhenti untuk membuat sebuah bangsa itu ada. Kita tinggal memutuskan saja, hendak seperti apa, dan dengan apa kita membentuknya… 

 

 

Iklan

5 Tanggapan to “Benarkah Kita Sebuah Bangsa?”

  1. kita memang sebuah bangsa yang dulunya memang benar2 sebuah bangsa yang bangkit dari keterpurukan penjajahan..
    tetapi semakin lama kita hidup, kebangsaaan kita bukan lagi bisa terbilang bangsa tetapi hanya sekelompk besar manusia yang mempunyai kepentingan masing-masing dan itu terwujud dengan fenomena yang dapat dilihat tiap hari dimana kalangan rakyat kecil selalu menjadi pemenuh hasrat dan dahaga matrealisme kalangan atas yang tamak tetapi mengatasnamakan “bangsa”

    tetapi..pada akhirnya bangsa ini harus tetap ada dan dipertahankan jika kita tidak ingin kembali terpuruk untuk terjun lagi ke masa penjajahan seperti dahulu…….hanya dengan sisa-sisa kepahlawanan dan kebesaran jiwa warganyalah yang masih sadar bangsa ini dapat bertahan untuk tidak lagi terjerumus bahkan terkubur bersama puing-puing kemerdekaan yang tidak akan dapat kita raih kedua kalinya nanti….

    karena bangsa ini akan tetap ada jikalau anda setelah membaca artikel ini dpat tergugah hatinya unyuk bisa kembali mempertahankan “kebangsaaan” ini mulai dari diri anda sendiri, dari hal yang paling remeh ( sekedar peduli pada orang lain ),
    sekarang dan seterusnya…..

    semoga bangsa ini tetap ada……..

  2. bungkusterasi Says:

    jadi apa solusinya menurut Nuan? rubah sistem, penggal para korporat, atau…..HILANGKAN SAJA NEGARA? Hahahaha…bercanda bo!!

  3. wah…
    setuju bgt tuh ma komen dari nuan..

    kita sebgai bangsa – yg mulai dipertanyakan keberadaannya sebagai bangsa – harus mulai menyadari bahwa kita ini ADA!!!
    dan harus menyadari bahwa kita harus bertransformasi menjadi suatu kesatuan yang solid..

    maju terus…

  4. HITAM…,GELAP…,layar server kembali kosong menatap nanar sistem bangsat
    sang Alengka!? apalagi dgn pintamu akan tenggapanku. Otak ini makin tak tertolong….,DINGIN sejenak terhenti lalu kabur tak beratur.hanya satu yang tak beranjak——(PARADOKS & ANTOLOGi).
    Tentang penganiayaan,penindasan, rampok dan penganngguran yang kesadaran,
    Tentang terusirnya anak2 lapar disudut jalan dan simiskin yang yang kalah mendapat perhatian.
    Tentang miliaran dana-dana pemilihan
    Tentang cekikikan dewan yang berbagi tunjangan
    Tentang ejekan dan tawanya saat rapat2 kantukan
    Tentang hilangnya rasa persaudaraan saat gencarnya pembantaian
    Tentang tuan birokrat yang berhasil menyumpal mulut anjing2 mahasiswa piaraan.
    Tentang kemanusiaan makhluk yang congkak menentang regulasi tuhan.
    Tentang….,tentang matinya hidup dan kehidupan.DAMN IT……,!!!

    Sampai kapan Alengka ini beranggap kebodohan adalah kewajaran

    Aku, Kamu,dan K-Lian MELAWAN atas alasan itu,………I Hope?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: