Buruh, Ayah, dan aku…

aksi.jpg

Menjelang Magrib

Di sebuah sekretariat serikat kerja perburuhan, sore itu aku duduk-duduk bersama beberapa orang anggota serikat kerja. Hanya duduk bermalas-malasan, sambil sesekali bercanda ataupun berbincang-bincang tak tentu arah. Sementara di depan kami, salah seorang kawan terlihat asyik menonton acara anak di TPI. Awalnya kukira itu film “Eneng dan Kaus Kaki Ajaib”, film yang selalu kutertawakan namun entah mengapa kutonton juga. Tapi ternyata bukan. Film Entong. Dan aku hanya tertawa melihat kawanku yang berusia 30-an itu masih terlihat asyik menyaksikannya.

Yah, menonton televisi memang bukan soal acaranya bagus atau tidak. Tak usah terlalu banyak berdebat tentang hiburan yang mendidik setelah kita menonton acara Misteri Ilahi atau setelah kita melihat banyak ibu yang ‘menjual’ anaknya lewat sebuah kontes menyanyi di sebuah stasiun televisi swasta. Karena memang bodoh jika kita ingin mencari hiburan mendidik lewat stasiun yang dikuasai korporat berbadan tambun itu. Tak usah banyak berfikir lah! Kita hanya tinggal duduk yang manis, lalu menonton. Sesekali boleh juga kita tertawa. Menertawakan kekonyolan kita, atau apa yang kita tonton.

Sore itu aku sesekali bercerita bahwa rata-rata temanku menjadi buruh pabrik setelah keluar dari sekolahnya. Aku memang bukan ingin menceritakan teman-temanku yang tampaknya ‘menikmati’ profesi mereka sebagai buruh, atau salah satu temanku yang senang karena ditaksir salah seorang mandor muda berkebangsaan Cina. Hanya saja aku memang sulit melihat apa yang disebut para intelektual sebagai sebuah bentuk ‘ketertindasan’. Pada wajah-wajah itu, yang setiap gajian sibuk membeli parfum, ponsel, atau sepatu baru (walaupun aku tau mereka membelinya bukan di mall yang mewah, tapi hanya di lapak-lapak depan pabrik tempat mereka bekerja).

Karena itu aku sempat ilfil dan mengurungkan niat saat hendak mewawancarai mereka. “Aduh, meuni carentil kitu! Males euy ngadatanganna oge..” kira-kira begitulah sebabnya sampai aku terpaksa permisi dari tempatku mengamati para buruh yang harus memperlihatkan isi tas pada petugas keamanan sebelum mereka meninggalkan pabrik. Bodoh! Memang apa yang bisa mereka curi?

Akhirnya aku lebih memilih duduk di trotoar depan pabrik, bersama dua orang pengemis tua. Salah satunya buta. Jujur, saat itu aku lebih simpati pada mereka berdua ketimbang para buruh yang siang itu tampak asyik bercanda. Rasanya pikiranku telah mengasosiasikan ketertindasan dengan wajah murung, lelah, dan tak berdaya. Aku sempat lupa bahwa kebahagiaan memang bisa menjelma di mana saja, bahkan di ruang tergalap sekalipun.

Hermawan, advokat dari Perhimpunan Rakyat Pekerja yang saat itu duduk di hadapanku menjelaskan bahwa serikat buruh PT. Kahatex yang pernah kudatangi memang sudah kuat. Sehingga jika ada kebijakan dari perusahaan bisa langsung dikontrol. Itulah sebabnya setiap pekerja memang butuh serikat pekerja. Aku mengangguk setuju. Bagi negara yang pendidikannya rendah seperti saat ini, dan dimana kepala para atasan hanya diisi oleh bagaimana caranya mencapat keuntungan besar, memang sulit membuka ruang diskusi. Hak tawar hanya bisa didapat dengan kekuatan massa, dengan serikat pekerja sebagai penyangganya.

Aku rasa memang ini bukan cuma soal buruh. Ini soal pengkotak-kotakan istilah buruh karyawan, atau pekerja. Ini soal mengapa pemecatan, kontrak kerja, dan gaji yang rendah hanya menjadi masalah buruh. Dan empat tahun yang lalu, ayahku yang mantan pegawai PT Dirgantara Indonesia (PT. DI) itu membuktikannya. Persis seperti apa yang dikatakan mas Hermawan sore itu.

“Karena ada pengkotak-kotakan, mereka merasa aman. Gak mungkin terkena PHK. Waktu kita aksi mereka juga santai-santai aja di kantor. Akhirnya mereka kena PHK juga kan. Giliran itu terjadi, baru mereka aksi dan menuntut solidaritas. Bagus sih, mereka udah sadar. Tapi sayang mereka terlambat. Saat itu mereka baru sadar kalau kemungkinan dipecat bisa terkena pada siapa saja, selama memang hak tawar paling tinggi ada di majikan.”

Lagi-lagi aku harus mengangguk. Hal ini semakin menyadarkanku pada satu hal: setiap orang memang hanya mau berjuang ketika ia merasa hal itu relevan dengan hidupnya. Ketika hal itu dianggap sebagai permasalahannya… Dan tenggelam lah semua orang dengan permasalahannya masing-masing. Kita semua teralienasi.

Oh iya, baru-baru ini aku mendapat tugas menulis feature dengan tema yang absurd: penderitaan. Semua orang berbondong-bondong mewawancarai pengemis, anak jalanan, buruh, atau orang korban PHK. Seakan mahasiswa-mahasiswa itu tau persis bahwa mereka memang menderita. Mereka luput akan satu hal yang menjadi semangat orang-orang seperti itu untuk terus hidup: perjuangan… (aku bisa berbicara seperti ini, karena aku pun bagian dari mereka. Ingat, ayahku pun korban PHK. Tanpa pesangon).

Dan kepada mereka, ingin sekali kukatakan, “Ah, sok tau kalian!”

Iklan

8 Tanggapan to “Buruh, Ayah, dan aku…”

  1. hwaaaa….
    panjang bgt…
    membosankan…
    bertele-tele….
    sowry,, cuma sekedar masukan..
    ^.^v

    berdasrkan penelitian…
    minat baca masyarakat indonesia itu kecil…
    jadi cari tema yg menarik dan tidak membosankan..
    (tadi ja gw ga baca mpe kelar…)
    bosen…

    yahhhh…
    tetep semangat nulis yaw…

  2. anakanjinghitam Says:

    Polling menunjukkan minat baca orang Indonesia kecil. Pantesan aja orang Indonesia pada bego. Hahaha….

  3. bungkusterasi Says:

    Tulisan gw isinya kan gak angin doang. Hahaha…
    Bagi gw ini bukan cuma sekedar tulisan. Ini hidup gw…
    Buat yang baca mah, pilihannya gampang: tinggal duduk. Kalo bosen tinggalin dah!!
    Tapi buat yang ngalamin? Pait cuy!!
    Hahahaha…

  4. aku baru tau ayahmu ex karyawan ptdi.bukannya kmrn gugatannya berhasil yah?klo memang ada persoalan,aku bersedia mendengarkan dan mmbantu mencarikan solusinya.terutama krn memang di kampus juga banyak persoalan..

  5. bungkusterasi Says:

    gugatan gagal lagii gara-gara Kalla.
    yah, sejak kapan sih pemerintah memihak orang kecil? Hehe…

  6. ksatria baja islam keren Says:

    sendirian……tegar…berbeda…pemberani…pembangkang…kuat….mungkin semuanya tak akan terjadi bila kau tak mengalaminya…bila Ayahmu tercinta bukan seorang buruh….tahukah kawan…kita semua buruh sebenarnya…karena kita masih bergantung dari selain Tuhan….kapankah kita mampu berdiri sendiri…mari kita pergi….

  7. bungkusterasi Says:

    sendirian……tegar…berbeda…pemberani…pembangkang…kuat….
    Itu gue? hahahahaha….

  8. wuihhhhhhhhhhhh………..

    gak terasa udah gede y adekku ini…sering nulis pula

    btw
    seperti yang di omongin ama kakakmu si Fiah Qalilah Kamaliah Ahhhh….
    kyknya perlu diperisngkat lagi dh nulisnya..

    kasih gambar!biar cantik gt…

    semangat trus dh…
    ciao

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: