Suatu siang di gedung DPRD…

Gedung pemerintahan itu tampak lengang. Siang itu pintunya terkunci, dan tidak ada wartawan yang biasanya selalu duduk bercengkrama di tangga. Disana memang berisik. Tapi bukan karena aktivitas pegawai negeri yang baru-baru ini muncul di televisi gara-gara kepergok membolos. Suara berisik itu datangnya dari tukang bangunan yang asyik memanggul bata, atau menghancurkan beton-beton di halaman gedung. Entahlah, aku tak tau apa lagi yang harus diperbaiki dari gedung mewah berpagar tinggi itu.

Para kuli bangunan itu tampak lelah, dan juga melupakan satu hal: shalat Jum’at. Ah, andai Tuhan bisa langsung menurunkan rezeki yang cukup pada mereka, mungkin di siang ini mereka sedang berada di dalam mesjid yang sejuk, sambil mendengarkan khotbah yang itu-itu saja. Namun Tuhan nampaknya ingin menunjukkan sesuatu lain. Atau mungkin Tuhan tak ingin kehilangan pengikutnya, sehingga ia tak pernah mencukupkan kebutuhan manusia? Karena kalau sudah cukup, apalagi yang hendak manusia minta? Tapi sayang, Tuhan lupa satu hal. Manusia sekarang lebih suka bekerja daripada terus meminta. Toh ini bukan zaman nabi Musa, saat makanan bisa turun dari langit secara cuma-cuma. Yang diturunkan langit siang itu hanya sengatan matahari yang membuat para wanita bergidik dan enggan menginjakkan kaki ke luar rumah. 

Aku mengikuti saja kemana kakiku ingin melangkah. Berjalan di samping kepongahan gedung pemerintah, yang bahkan untuk melihat ke dalamnya saja aku tak bisa. Ada terpal yang menghalanginya, agar tak ada yang bisa melihat saat mereka bercakap-cakap di taman, atau baru masuk ke kantor menjelang jam 11 siang.

Langkahku tertahan di sebuah persimpangan jalan. Seorang wanita berkerudung putih berpakaian lusuh menyulut sebatang rokok, yang kemudian diikuti pria yang duduk di sebelahnya. Wanita itu tersenyum padaku, dan beberapa saat kemudian aku sudah duduk bersama mereka.

“Tuh di pameran banyak botol kosong!” sahut wanita tua yang duduk di sebelahku. Ternyata ia berbicara pada pria botak bertopi yang saat itu duduk tepat di hadapanku. Tangannya membawa kantong plastik yang mungkin berisi makanan. Karung putih berisi botol aqua yang baru berisi setengah, adalah hasil kerjanya hingga siang itu.

“Ah, ku satpam teu kenging ka ditu!” sahut wanita yang lain. Alasannya sudah bisa kutebak. Pemulung dan orang miskin seperti mereka pasti selalu dicurigai. Tapi ternyata bukan itu yang kudengar. “Satpam juga seneng ngumpulin botol aqua mbak, buat dijual lagi. Sama seperti kita!” sahut pria botak yang ternyata berasal dari Purworejo itu. Dan aku hanya menghela nafas. Berat.

Lampu merah di persimpangan jalan menyala kembali. Seorang pria tua, beserta wanita (yang juga tua) beranjak dari tempat duduknya di sampingku. Mereka langsung mendatangi mobil-mobil, mengulurkan mangkuk kosong yang hanya berisi beberapa kepingan receh. Kepingan itu hanya sekedar pemancing rasa iba dari para pengendara. Di belakang saku celana mereka, entahlah sudah berapa uang yang berhasil mereka kumpulkan. Sambil menadahkan mangkuk, mereka berharap Lebaran akan segera tiba. “Banyak yang ngasih uang soalnya…” sahut mereka penuh harap.

Tapi ini bukan lebaran. Hanya sebuah siang yang panas. Panas siang itu membuat para pengendara enggan membuka jendela mobilnya. Beberapa orang mahasiswa berpakaian rapi lewat tepat di hadapan kami. Di depanku, dan dua orang pemulung yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Mereka berlalu tanpa membungkukkan badan, ataupun menganggukkan kepala. Hanya lewat, yang mengakibatkan pria botak asal Jawa itu harus pindah dari trotoar yang didudukinya. Kami semua menggeleng sambil tertawa, “Dasar mahasiswa!!”. 

Aku pun berlalu, beranjak dari tempat dudukku dan menuruti langkah kakiku lagi. Di depan Gasibu, aku memerhatikan orang-orang yang lalu lalang siang ini. Pria botak tadi lewat di hadapanku. Membawa karung, yang baru terisi setengah. Ia menatapku tanpa sebuah senyuman. Hanya sebuah anggukan. Dan aku membalas anggukannya, sambil ia berlalu pergi. “Semoga beruntung…” sahutku dalam hati.

      

 

 

Iklan

4 Tanggapan to “Suatu siang di gedung DPRD…”

  1. anakanjinghitam Says:

    kehidupan itu memang kejam….
    jadi, ya apa mau dikata, apa yang mau dilaku
    intinya bukan hanya dia yang jadi pengemis
    gw juga pengemis…
    pengemis cinta……

  2. bulan_pemburu Says:

    Ada yang bilang, salah mereka sendiri, kenapa mereka ngincer kerjaan di kota gede, dengan modal pas-pasan?
    Tapi kalo gw sih mikirnya pembangunan yang ada di negeri antah berantah ini emang gak rata. Liat aja perut para pejabat. Ga ada yang rata kan? Buncit semua! Makan makanan yang harusnya jatah mereka jangan-jangan tuh!!
    O iya, satu lagi.
    Siapa bilang mereka miskin??
    Jangan salah loh…
    Di TPA Sarimukti, mereka bisa dapet sampe 50.000 sehari.
    Just pemulung…!!!

  3. bungkusterasi Says:

    KOk ndak ada yang nanggepin wakil rakyatnya sih??

  4. wakil rakyat emang begitu…………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: