Arsip untuk Februari, 2008

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak…

Posted in Terasi, Uncategorized on Februari 15, 2008 by bungkusterasi

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak, maka mungkin aku harus bertanya pada siang itu, saat sebuah tangan menggenggam tanganku. Tanganmu. Memang, memang bukan untuk apa-apa. Hanya untuk dijabat.

Dan kau tersenyum…

Kita bicara soal cinta. Memang bukan berdua. Banyak. Ketika aku di sana dan menjadi sebuah bilangan, menatap setiap orang yang bertutur, membicarakan satu hal. Cinta. Lalu mengapa saat itu hanya aku yang terdiam?

Entahlah… ada yang terasa menyekat dan mencegahku untuk membicarakan sesuatu yang ingin kubagi berdua saja. Denganmu, yang tak pernah mempunyai kontrak apapun. Denganku, yang siang itu masih menjadi sebuah bilangan.

Hari itu siang. Memang tak terik. Tapi mengapa aku malah teringat malam? Sebuah malam, yang kuingat itu adalah hari Senin. Ya, pikiranku malah melayang ke sana. Ke dua malam sebelum ulang tahunmu, dan aku yang sedang berada di sebuah ruangan. Gelap, sambil meraba roll film yang tak bisa disentuh oleh cahaya. Ia tak bersinar, apalagi berwarna. Tak pernah berujar, tapi selalu berbicara tentang sesuatu. Tak menjanjikan keindahan, namun di dalamnya tersimpan sebuah kenangan…

Aku merabanya dengan sangat hati-hati, takut kalau cahaya akan membakar sesuatu yang berada di dalamnya. Seperti seorang bayi kecil yang begitu akan kulindungi, bukan karena jasadnya yang rapuh. Tapi karena dalam kerapuhannya itu, ada sesuatu yang ingin kulindungi. Sebuah cinta. Jikalau cinta itu memang bukan sebuah kontrak…

Karena dalam gulungan itu, yang kini menjadi deretan panjang roll film, ada wajahmu yang sedang tersenyum menatap kamera. Atau menatapku, yang diam-diam mengawasimu di balik lensa kecil itu?

Sudah berjam-jam aku di tempat itu. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi aku masih tetap tinggal. Menyelesaikan potretmu, menembaknya dalam kamar gelap, berharap ada sesosok wajah yang keluar dari sebuah kertas putih. Wajahmu.

Aku ingin menyelesaikannya, dan memberikan potret itu pada seseorang yang dua hari kemudian akan berulang tahun. Aku berharap ia akan senang, saat aku mengatakan bahwa aku yang mengerjakan semua. Mengambil gambarnya, mencucinya dalam sebuah tabung, menembaknya di sebuah kamar gelap, mencetak gambar wajahnya, walau hasilnya tak sempurna. Aku cuma ingin ia tau kalau aku sudah berusaha…

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak, lalu apa arti malam itu? Saat aku begitu ngotot untuk melakukan semuanya sendirian. Di malam yang aku tak meminta apapun darimu, tak membuat kontrak, dan pikiranku hanya padamu saja, yang beribu jarak terpaut denganku saat itu.

Di depan sana Vino masih saja berbicara. Kau juga. Tapi aku masih berpikir, benarkah aku tak tulus? Dan pertanyaan lain yang sama besar juga ikut menghantuiku. Atau apa aku benar-benar tulus? Entahlah….

Rasanya aku menjadi terlalu jahat kalau yang kurasakan ternyata hanya untuk sebuah kontrak. Seakan semua menjadi berpusat pada aku saja, dan kau hanya pelengkap untuk menambal segala yang kurang dari aku. Dan aku akan meninggalkanmu, kalau ternyata kau tak bisa mengisi yang kurang itu. Tapi apa memang seperti itu?

Entahlah… tapi ketika memikirkanmu, seperti Chairil, aku membayangkan sedang berjalan di sebuah pantai dan bayanganmu yang tiba-tiba muncul di sampingku. Kau tersenyum. Tiba-tiba saja kita menjadi begitu sangat dekat…

Seperti kau yang berkata akan berjalan bersamaku, maka aku melihat kau menggenggam tanganku. Bukan untuk dijabat, tapi benar-benar digenggam. Bagiku itu berbicara banyak.

Dan kita kembali berjalan, menghadapi apa yang ada di depan sana. Mungkin yang akan kukatakan saat itu ialah maaf, bukan maksudku untuk membagi nasib…

Namun kau tak berbicara sepatah kata pun. Kau hanya menggeleng pelan dan tersenyum. Genggamanmu semakin erat, seolah berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Bahwa kau masih ada di sampingku, dan belum beranjak pergi…

Karena itu aku menjadi kuat…

Kalian membicarakan tentang kepemilikan dalam cinta. Kalau aku ingin memilikimu, dan kau menganggapnya salah, mungkin ini memang sebuah dosa. Tapi yang kutau, ini cinta…

*****

14 Februari 2008,Untuk seseorang yang ingin selalu kumiliki dalam hati, agar ia tak pernah merasa terkekang…

NB: akhirnya aku tak menyerahkan foto itu. Tiba-tiba saja sebelum aku ingin memberikannya, negatif foto itu hilang. Jadi aku cuma punya foto itu satu. Mungkin Tuhan ingin aku menjaga yang satu itu. Jadi biar aku saja yang menyimpannya…

 

Di Sisi-Sisi Rel Kereta Api Bandung-Jogja

Posted in Terasi on Februari 8, 2008 by bungkusterasi

Apakah bangsa kita sangat miskin? duh, sepertinya itu hanya pertanyaan yang dibuat-buat….(udah deh Fat, ga usah belagak ga tau gitu).

Sumpah gw kaget banget, masa iya sih di desa…pliZ, itu hanya sebuah desa, bukan jakarta, bukan bandung, bukan pula jogja…hanya desa kecil yang masih bisa dihitung jumlah penduduk yang tinggal di sana…

Di saat anak-anak lain pergi ke sekolah, kenapa mereka malah dengan muka yang memelas berdiri di samping keretaku yang sedang berhenti. Meminta-minta, mencari rasa belaskasihan, menarik perhatian…

Terlihat ironis ketika ku melihat di sisi kiriku, anak-anak berseragam merah-putih sedang berjalan beramai-ramai…sambil tertawa riang…ketika kemudian mataku menoleh ke arah sebaliknya, maka hal sebaliknya pulalah yang aku lihat…

“Pak…minta uang pak…Bu minata uang bu…”

Terus-menerus sampai kemudian keretaku berjalan meninggalkan kekecewaan mereka, karena aku yang sok merasa peduli tidak melakukan apapun…Kasian Aku, Kasian Mereka