Arsip untuk Maret, 2008

Aku ingin….

Posted in Uncategorized on Maret 7, 2008 by bungkusterasi

Aku ingin sekali melarikan diri…Dari diriku, dan segala tentangku. Tapi aku tak menemukan tempat untuk bersembunyi…..

Dilarang minum kopi….

Posted in Uncategorized on Maret 2, 2008 by bungkusterasi

Ayah    : Kopi lagi…kopi lagi…dikasih taunya bandel nih anak!

Aku diem

Ayah    : Skalian aja sama rokoknya Nis!

Aku      : Nantangin, nyuruh, atau ngasih saran? Tapi idenya boleh juga… (dalam hati. Kalo diomongin langsung, takut digorok!)

lebih-keren.gif

Tampaknya di bawah sistem yang tak memperbolehkan perempuan melakukan apapun selain yang digariskan, perempuan juga harus membebaskan dirinya sendiri dari apapun yang mencegahnya untuk melakukan sesuatu hanya karena ia seorang perempuan… (PAM)

Andreas yang Kutemui Waktu Itu…

Posted in Uncategorized on Maret 2, 2008 by bungkusterasi

Foto Andreas yang kuambil dari blognya. Hihihi….

Malam itu Andreas asyik memasak pancake untuk anaknya, ketika aku dan seorang kawan memutuskan untuk bertandang dari Bandung. Di apartemennya, Andreas menyambut kami dengan sangat ramah, walau kedua tangannya tak henti menyiapkan ini dan itu. Anak semata wayangnya yang asyik menonton televisi datang mengambil pancake hangat yang sengaja Andreas buat. Andreas tersenyum senang.

Dua orang yang dikenal malas mandi, malas mendengarkan dosen, dan malas mengerjakan tugas, tiba-tiba saja dengan semangat menggebu ingin bertemu dengan orang-orang yang namanya hanya sering disebut di buku. Bandung – Senayan – Utan Kayu – Senayan – Bandung, rasanya seperti berangkat dari kamar kosan ke kampus.

Kini Andreas duduk di hadapanku. Kaus putihnya senada dengan parasnya yang selalu menimbulkan respek. Sikapnya yang antusias membuat kami merasa sangat diperhatikan. Sorot matanya sangat ramah. Tapi di panasnya malam Jakarta, Andreas malah bercerita tentang keluarganya.

Kecintaan pada anak semata wayangnya, Norman, yang tak bisa ia sembunyikan, mantan istri pertamanya yang tak kunjung ia mengerti, hingga baby sitter Norman yang ternyata dipecat mantan istrinya pagi tadi. “She is the only light, the only candle in the darkness…” Seingatku, itu yang dituliskan Norman pada Komisi Perlindungan Anak tentang baby sitter itu. Dan kini ia telah pergi.

Saat mengungkapkan semuanya, tiba-tiba dalam sorot matanya yang ramah, kulihat ada kepedihan…

Tapi aku memang tak bisa berkata apa-apa. Aku mengutuk diriku karena tak mampu melakukan apapun untuknya. Apa yang mampu kulakukan hanya satu, mengirimkan beberapa pesan singkat ketika aku berada dalam bus, yang mungkin tak akan mengubah apapun baginya.

Sial. Aku malah teringat kepedihanku sendiri. Jalanan masih tampak gelap, dan hanya menyisakan lampu sorot mobil untuk kupandang. Hampa. Untuk menghibur diri, aku mengingat sebuah lagu yang selalu kunyanyikan ketika aku merasa tertekan. Memutar lagu lama itu kembali dalam benakku…

“There’s nothing here for me on this barren road/There’s no one here while the city sleeps and all the shops are closed/Can’t help but think of the times I’ve had with you/Pictures and some memories will have to help me through,”

“Aku cuma seorang ayah yang kerepotan mengurus anak semata wayangnya…” Itu isi sms dari Andreas. Saat itu aku tahu bahwa hidup ini kadang menjadi berat untuk ia lalui dengan segala kemandirian dan prestasinya yang mengagumkan…

*****

Sebelum malam itu aku dan kawanku tersenyum simpul. Sebabnya, siang hari sebelum kami mendatangi apartemen Andreas, secara tak sengaja kami berpapasan dengannya. Kulihat ia berjalan sambil mengapit lengan putranya, Norman. Dua orang itu kemudian berhenti di pinggir jalan sambil menikmati es tebu. Sungguh pemandangan yang semakin sulit didapatkan di pinggiran kota Jakarta. Ah, andai saja kami membawa kamera…

Malamnya kami bertiga berbincang akrab, sambil sesekali diiringi canda tawa. Lengan kirinya yang bertato, tetap saja tak bisa menghapuskan kesan ramah pada orang yang sangat menikmati hidupnya sebagai wartawan ini.

Sesudah bertandang ke kediamannya kami berdua merasa girang. Diemas, terutama. Karena ia sudah memimpikan bertemu Andreas sejak lama. Ia mengucapkan terima kasih pada Andreas, dan berjanji akan menjadi wartawan yang hebat. Tiba-tiba saja ia mengikrarkan diri tidak akan bermalas-malasan seperti yang biasa kami lakukan. Padahal beberapa jam yang lalu aku masih tertawa cekikikan melihat Diemas yang dimarahi ayahnya, karena IPK-nya jeblok.

Aku sendiri memang sangat girang bisa bertemu dengan orang hebat, yang membuatku sadar bahwa masih ada jurnalis yang tidak tunduk hanya pada uang. Jurnalis yang bukan tukang. Jurnalis yang ramah, yang masih sempat membuatkan pancake untuk putra semata wayangnya… Yang paling membuatku girang tentu karena akhirnya aku berani turun menggunakan lift! Padahal sudah beberapa tahun ini aku berusaha menghindar kalau harus berurusan dengan gedung tinggi. Aku sampai melompat-lompat kegirangan dalam lift, saat aku tau aku berhasil mengatasi rasa takutku. Untung saat itu hanya Diemas yang melihat…

Saat itu aku belajar untuk tidak mengizinkan rasa takut menghalangiku menemukan saat-saat terbaik dalam hidup…

*****

Dalam bis,

Malam itu, rasa senang dan sakit bercampur menjadi satu…

Seperti aku yang mengeluarkan air mata ketika tertawa, mungkin bahagia dan rasa sakit memang datang beriringan dari sisi paling misterius dari dalam diri manusia. Ketika memikirkan itu aku jadi teringat ocehan seorang teman. “Trus mau ngapain lagi kalo nggak ketawa-ketawa? Seenggaknya dari situ berarti kita masih punya harapan hidup dan nggak menyerah atau memilih mati…”

Sms terakhirku tak dijawab Andreas. Bosan menunggu, dalam bis aku tertidur sambil tersenyum menyeringai. Hidup memang kadang harus dilawan…