Andreas yang Kutemui Waktu Itu…

Foto Andreas yang kuambil dari blognya. Hihihi….

Malam itu Andreas asyik memasak pancake untuk anaknya, ketika aku dan seorang kawan memutuskan untuk bertandang dari Bandung. Di apartemennya, Andreas menyambut kami dengan sangat ramah, walau kedua tangannya tak henti menyiapkan ini dan itu. Anak semata wayangnya yang asyik menonton televisi datang mengambil pancake hangat yang sengaja Andreas buat. Andreas tersenyum senang.

Dua orang yang dikenal malas mandi, malas mendengarkan dosen, dan malas mengerjakan tugas, tiba-tiba saja dengan semangat menggebu ingin bertemu dengan orang-orang yang namanya hanya sering disebut di buku. Bandung – Senayan – Utan Kayu – Senayan – Bandung, rasanya seperti berangkat dari kamar kosan ke kampus.

Kini Andreas duduk di hadapanku. Kaus putihnya senada dengan parasnya yang selalu menimbulkan respek. Sikapnya yang antusias membuat kami merasa sangat diperhatikan. Sorot matanya sangat ramah. Tapi di panasnya malam Jakarta, Andreas malah bercerita tentang keluarganya.

Kecintaan pada anak semata wayangnya, Norman, yang tak bisa ia sembunyikan, mantan istri pertamanya yang tak kunjung ia mengerti, hingga baby sitter Norman yang ternyata dipecat mantan istrinya pagi tadi. “She is the only light, the only candle in the darkness…” Seingatku, itu yang dituliskan Norman pada Komisi Perlindungan Anak tentang baby sitter itu. Dan kini ia telah pergi.

Saat mengungkapkan semuanya, tiba-tiba dalam sorot matanya yang ramah, kulihat ada kepedihan…

Tapi aku memang tak bisa berkata apa-apa. Aku mengutuk diriku karena tak mampu melakukan apapun untuknya. Apa yang mampu kulakukan hanya satu, mengirimkan beberapa pesan singkat ketika aku berada dalam bus, yang mungkin tak akan mengubah apapun baginya.

Sial. Aku malah teringat kepedihanku sendiri. Jalanan masih tampak gelap, dan hanya menyisakan lampu sorot mobil untuk kupandang. Hampa. Untuk menghibur diri, aku mengingat sebuah lagu yang selalu kunyanyikan ketika aku merasa tertekan. Memutar lagu lama itu kembali dalam benakku…

“There’s nothing here for me on this barren road/There’s no one here while the city sleeps and all the shops are closed/Can’t help but think of the times I’ve had with you/Pictures and some memories will have to help me through,”

“Aku cuma seorang ayah yang kerepotan mengurus anak semata wayangnya…” Itu isi sms dari Andreas. Saat itu aku tahu bahwa hidup ini kadang menjadi berat untuk ia lalui dengan segala kemandirian dan prestasinya yang mengagumkan…

*****

Sebelum malam itu aku dan kawanku tersenyum simpul. Sebabnya, siang hari sebelum kami mendatangi apartemen Andreas, secara tak sengaja kami berpapasan dengannya. Kulihat ia berjalan sambil mengapit lengan putranya, Norman. Dua orang itu kemudian berhenti di pinggir jalan sambil menikmati es tebu. Sungguh pemandangan yang semakin sulit didapatkan di pinggiran kota Jakarta. Ah, andai saja kami membawa kamera…

Malamnya kami bertiga berbincang akrab, sambil sesekali diiringi canda tawa. Lengan kirinya yang bertato, tetap saja tak bisa menghapuskan kesan ramah pada orang yang sangat menikmati hidupnya sebagai wartawan ini.

Sesudah bertandang ke kediamannya kami berdua merasa girang. Diemas, terutama. Karena ia sudah memimpikan bertemu Andreas sejak lama. Ia mengucapkan terima kasih pada Andreas, dan berjanji akan menjadi wartawan yang hebat. Tiba-tiba saja ia mengikrarkan diri tidak akan bermalas-malasan seperti yang biasa kami lakukan. Padahal beberapa jam yang lalu aku masih tertawa cekikikan melihat Diemas yang dimarahi ayahnya, karena IPK-nya jeblok.

Aku sendiri memang sangat girang bisa bertemu dengan orang hebat, yang membuatku sadar bahwa masih ada jurnalis yang tidak tunduk hanya pada uang. Jurnalis yang bukan tukang. Jurnalis yang ramah, yang masih sempat membuatkan pancake untuk putra semata wayangnya… Yang paling membuatku girang tentu karena akhirnya aku berani turun menggunakan lift! Padahal sudah beberapa tahun ini aku berusaha menghindar kalau harus berurusan dengan gedung tinggi. Aku sampai melompat-lompat kegirangan dalam lift, saat aku tau aku berhasil mengatasi rasa takutku. Untung saat itu hanya Diemas yang melihat…

Saat itu aku belajar untuk tidak mengizinkan rasa takut menghalangiku menemukan saat-saat terbaik dalam hidup…

*****

Dalam bis,

Malam itu, rasa senang dan sakit bercampur menjadi satu…

Seperti aku yang mengeluarkan air mata ketika tertawa, mungkin bahagia dan rasa sakit memang datang beriringan dari sisi paling misterius dari dalam diri manusia. Ketika memikirkan itu aku jadi teringat ocehan seorang teman. “Trus mau ngapain lagi kalo nggak ketawa-ketawa? Seenggaknya dari situ berarti kita masih punya harapan hidup dan nggak menyerah atau memilih mati…”

Sms terakhirku tak dijawab Andreas. Bosan menunggu, dalam bis aku tertidur sambil tersenyum menyeringai. Hidup memang kadang harus dilawan…

Iklan

10 Tanggapan to “Andreas yang Kutemui Waktu Itu…”

  1. Divan Semesta Says:

    Kamu punya bakat. Saya tidak punya alasan untuk tuliskan sesuatu yang membuat down.

    Setiap manusia yang pengen organisasikan pikirannya dengan tulisan pasti punya kelemahan dalam karakter atau gaya tulisannya (saya tidak mengatakan idenya karena permasalahan ide lain lagi.
    Saya menyukai karakter tulisan ayu utami atau essaynya seno (cerpennya tidak) dan mengenai tulisan kamu, karakternya sudah bagus.

    Saya liat kamu bisa mengembang jauh, ketimbang orang lain yang saya liat tulisan ke depannya akan stagnan karena dia berkutat pada hal-hal yang tidak universal.

    Kamu punya masa depan. Tulisanmu saya perhatikan terus berkutat kepada masalah kemanusiaan yang nyamudra (saya pun terus berusaha seperti itu), tapi jangan lupa… dibawah bendera apa ide kemanusiaanmu kau kibarkan?

    Dalam tulisan yang salah satu teksnya bicara: bagaimana kalau aku menemukan pelangi lain? dan kau mendapat jawaban yang indah dari temanmu, di sana kamu sudah bersikap sejatinya sebagai seorang pencari kebenaran. bukan hanya pencari, tetapi berusaha/belajar konsisten ketika menemukannya.

    Itulah yang akan menjaga tulisanmu untuk bertanggung jawab nantinya ketika berhadapan dengan sang pencipta.
    Jangan sampai kamu malu, cemas ketika tulisan yang kita buat susa-susah ternyata malah membuat malu di hadapan Allah.

    Demikianlah.

    Ah, saya jadi ketawa sendiri dengan komentar yang terkesan mengkotbahi ini. 🙂

  2. wadahkataku Says:

    kalo kataku Norman masih tergolong anak yang beruntung karena ia masih memiliki seorang ayah seperti bung Andreas…masih byk list anak di Komnas HAM atau Panti asuhan lainnya yang nasibnya lebih mengenaskan dr itu…Sadar dan Bergerak Kawan….

  3. hmmm….great article, thanks for share it

  4. saya juga bangga mengenal mereka, anak beranak itu. mmm…sekaligus malu kalo inget saya belum bikin tulisan apa2, padahal saya udah berguru banyak pada mas AH

  5. nisa!!!
    akhirnya cita2mu tercapai!!!
    selamat2, tapi jangan sebarkan aliran sesatu ke ank2 ye,wakakakakakka!!

  6. bagaimana bisa impian mu itu sekarang berada di kelopak mata?? bagaimana bisa angan2 mu itu kini menjadi kebuncahan bahagia?? dari dia yang hebat, dari dia yang luar biasa, kau belajar, berazam dan bersyukur, bahwa dunia masih berpihak pada mu, dan tuhan masih mau menjawab keinginan2 mu, hingga ke hal yang kecil…

    http://www.callmeai.wordpress.com

  7. bungkusterasi Says:

    dee_209 berkata:
    nisa!!!
    akhirnya cita2mu tercapai!!!
    selamat2, tapi jangan sebarkan aliran sesatu ke ank2 ye,wakakakakakka!!

    Nisa:
    Cita-cita apaan? Cakrie tuh yang paling seneng. Cita-cita gw kan pengen jadi orang kaya. Tapi ga pernah kesampean. Hahaha….
    Hooooiiii…..knapa kalian menyebut gw penyebar aliran sesat? BUkannya lw nyong, yang bikin aliran baru. Al-Qiyadah al-Qasidah. Wakakakak…!!!!

  8. Lha ini saya baru ketemu dia juga.

  9. KSATRIA JENGKOL Says:

    woi, ngaku2 al-qiyadah al qosidah lo….
    hak patennya kan ada di gw

  10. Cie… seneng bgt. Akhirnya lo bisa turun pake lift juga. Lo gak pengen jd wartawan kyk cakri juga? Stop faking lah. Tengkiu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: