Arsip untuk Februari, 2012

SORE HARI CERIA, BERSEPEDA RIA

Posted in bungkus with tags on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

20/12/2010, Senin

Hari minggu kemarin saya jalan-jalan

Dengan anak-anak naik sepeda beriringan

Pergi ke laut sambil balapan

Menyenangkan sekaligus melelahkan

 

Kami mengayuh pedal sekuat tenaga

Setengah jam naik sepeda

Menuju laut  jauh di sebelah sana

Waktu berlalu tidak terasa

 

Sudah sampai di persimpangan jalan

Turun dari sepeda berjalan perlahan

Laut ada di hadapan

Anak-anak mulai berlari tidak sabaran

 

Laut di sini berbeda

Tidak seperti yang tampak dalam layar kaca

Pasir pun tidak ada

Pohon bakau dan lumpur menghiasinya

 

Bila diinjak kaki tenggelam

Berjalan sulit kaki tertahan

Anak-anak riang sudah paham

Saya bingung keluar jeritan

 

Ada Rusdi, Ahmadi, dan Fizi

Ditambah Asa, Lilis dan Yuni

Lana, Jihan, juga Heru terus mengikuti

Kami bersenandung tiada henti

 

Ombak naik air laut pasang

Berat hati memaksa pulang

Walaupun tawa sempat hilang

Berjanji akan kembali, membuat mereka menjadi riang

 

Kami pulang menyusuri jalan berbeda

Naik sepeda menikmati senja

Senyum tersulam menatap mereka

Mengisi masa dengan tawa

 

Rasa hati mulai berdesir

Melewati hari yang akan berakhir

Rasa syukur terus terukir

Singkat kisah di Bantan Air

 

NB: Sebagai informasi, masyarakat di Bengkalis alias masyarakat melayu sangat mahir berpantun. Sebenarnya saya tidak begitu pandai, tapi saya sangat ingin mencoba, yahhhh…ternyata alhamdulillah, setelah satu bulan, bisa selesai juga…hehehe…

Ini pantun yang saya buat satu tahun yang lalu, saat saya masih bertugas di desa Bantan Air, Kabupaten Bengkalis, Riau. Semoga kalian dapat merasakan kebahagian yang tertuang di dalamnya, karena saya pun masih dapat merasakannya, sampai saat ini.

Iklan

Saya dan Indonesia Mengajar

Posted in bungkus with tags on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

06/11/2010, 23:07, Sabtu (curhatan lama)

Akhirnya secara jelas dan saya rasakan langsung bukti bahwa di dunia ini jelas ga ada yang namanya sebuah kebetulan. Apa yang saya lewati saat ini, kita lewati, bener-benar sebuah ketetapan yang sudah ditakdirkan buat kita semua.  Saya ingin berbagi dan bercerita tentang pengalaman hidup saya yang baru-baru ini saya alami.

Pertama kali saya tau kalau dengan bodohnya saya telah melewatkan masa pendaftaran S2, saya pun menjadi bingung harus melakukan apa. Apa yang harus saya kerjakan? Sementara saat itu ratu, ega, juga dina (sahaabat-sahabat yang selalu saya sayangi) udah pada kerja, dan saya yang sebelumnya dengan keyakinan penuh berencana untuk melanjutkan S2, tapi juga secara bodohnya malah tidak tau sama sekali informasi tentang masa pendaftaran, yang juga secara yakin untuk tidak bekerja karena yakin akan langsung melanjutkan sekolah lagi tanpa ada jeda kerja sebelumnya, merasa santai saja saat tau kalian orang-orang terdekat saya udah pada ada kerjaan, sementara saya belom. Tapi itu semua berubah, dan saya panik seketika saat kesadaran itu datang. Saat tau saya ga ada kerjaan, dan kalian semua udah pada kerja.

Dan suatu yang saat itu masih saya sebut sebagai kebetulan, datang untuk pertama kali. Sore itu, setelah janjian sama ega untuk pergi ke DU (daerah bandung) melihat jadwal S2 sekaligus jdawal pendaftaran, saya  sama ega juga janjian ketemuan sama ratu. Masih dengan perasaan BeTe akibat batal melanjutkan S2 dan kesulitan untuk merancang kehidupan saya sebelumnya, karena tiba-tiba keluar dari peta yang sudah saya rancang. Hari itu, di kosan lo, anof (salah satu teman) datang dengan informasi adanya gerakan indonesia mengajar yang mengirim guru-guru ke daerah pelosok.

Saya yakin ratu dan ega tau persis bagaimana hasrat saya yang begitu besar untuk menjadi guru, dan saat tau itu adalah di pelosok, maka itu menjadi bonus lebih buat saya. Terlebih lagi habis membaca buku sakola rimba, saya dengan ratu begitu ketagihan untuk bisa seperti itu.

Informasi itu merupakan sebuah takdir pertama yang begitu saya sadari keberadannya. Dengan yakin, saya langsung positif buat daftar kegiatan tersebut tapi tidak pernah yakin untuk benar-benar diterima. Saya pernah bilang sama ega kalo penyesalan terbesar saya adalah kalau sampai terlambat untuk mengirimkan draf pendaftaran ke indonesia mengajar. Karena ya,,,,masa saya harus mengulangi kesalahan yang sama seperti saya yang gagal karena terlambat mendaftar untuk S2 sebelumnya. Tapi jujur, saya ga pernah berpikir kalau benar-benar akan diterima. Saya hanya berharap minimal saya lolos tahap pertama, yah, paling tidak itu sudah cukup (pikir saya waktu itu). Secara ya, dengan sadar saya juga tau kalau lawan saya dominan banyak anak itb juga, jadi yo ga perlu terlalu ngotot.

Dan benar, subhanallah, saya ga tau bagaimana menggambarkan kegembiraan  rasa degdegan saya juga ketakutan merayap sekaligus dalam diri saya saat tau kalau saya lolos tahap demi tahap dalam seleksinya. Saya lolos. Benar ini jawaban atas doa-doa saya selama ini. Ega, apakah lo masih inget waktu saya cerita bahkan sampai menangis waktu tau sastri mengajar di daerah tertinggal di kepulauan seribu? Waktu saya cerita bagaimana irinya saya saat ka fiah (kakak saya tersayang) yang menjadi guru, ratu menjadi guru, lalu ega yang akhirnya mendapat pekerjaan menjadi guru.

Doa ini panjang, saya minta bahkan sempat saya relakan dan saya anggap hilang saat saya mencoba merasa ikhlas untuk menerima diri saya yang nyatanya masuk dan belajar di jurusan jurnalistik, yang pasti hampir tidak mungkin buat masuk ke profesi guru. Tapi hal itu berubah perlahan, saat satu demi satu orang-orang terdekat saya menjadi guru.  Dan doa itu muncul lagi, meminta lagi untuk diberikan kesempatan bisa menjadi guru.

Kejadian itu terjadi sekali lagi. Saya ingat saat kontrak pekerjaan dikirimkan dalam format soft copy, rasanya lucu dan aneh saat membaca isi kontrak tersebut. Dalam kontrak dituliskan bahwa kontrak ini berlaku mulai dari saya diberangkatkan ke daerah pada tanggal 10 nop 2010 sampai 10 nop 2011. 10 nopember adalah hari spesial buat saya, hari kelahiran, hari ulang tahun. Saya tertawa-tawa sendiri. Dalam hati mulai merasa yakin bahwa ini merupakan takdir bagi saya. Dalam hati saya bilang, ko bisa pas gitu…hehehe

Tapi hal itu tidak berhenti di sana. Saat ditetapkan waktu untuk penandatanganan kontrak, saya sudah tau sebelumnya kalau harus melakukan pelatihan dulu selama dua bulan di daerah bogor. Pemberitahuan secara detil baru diberitahukan saat hari tanda tangan kontrak tersebut. Masuklah saya ke dalam ruangan. Saya diminta untuk membaca kontrak dan petunjuk pelatihan secara seksama. Halaman petunjuk peta mengenai alamat pelatihan ditulis di halaman paling belakang. Dan saya kembali tertawa saat tau bahwa pelatihan akan dilakukan di pancawati, tempat saya KKN hampir 2,5 tahun yang lalu. Oke, saya kembali ke tempat di mana saya pernah melakukan pengabdian masyarakat sekaligus pada masa KKN itu pula pertama kali saya melakukan dan terlibat dalam pengajaran.

Oke, di pancawati. Bus saya berangkat, bersama 50 teman-teman baru (tidak termasuk nisa). Mengulang perjalnan ke desa, sekaligus bernostalgia, karena saya memang belum pernah main ke desa, sejak kkn saya berakhir dulu. Melewati jalan yang dua bulan penuh dulu selalu saya lewati. Bus saya terus jalan, dan jantung saya kembali berdetak. Bus saya berhenti tidak sampai seratus meter dari rumah yang pernah saya tinggali dulu. Sementara asrama yang menjadi tempat pelatihan ini benar-benar berada tepat di belakang rumah kontrakan saya saat kkn dulu. Sebagai informasi, jalan pancawati itu sangat panjang, ibarat perjalanan dari unpad ke cinunuk, mungkin sampai cibiru (hampir 4-5km). Artinya jauh, dan di sepanjang jalan itu, baik di sisi kiri atau kanan jalan, berjejer banyak tempat yang mungkin bisa dijadikan asrama pelatihan. Tapi, bus saya berhenti tepat di bangunan terdekat dari rumah kontrakan saya dulu.

Masih ada satu hal lagi, yang saya pikir mungkin masih ada kelanjutannya lagi….dalam masa pelatihan selama dua bulan di sini, ada satu pekan di mana kami (pengajar muda – sebutan pekerjaan saya) diminta untuk mengajar di sd-sd yang ada di sini, yang berjumlah 10 sd. Setiap sd nantinya akan diisi 5 pengajar muda yang akan mengajar full di sana selama seminggu. Dari sepuluh sd, saya kembali dipertemukan dengan sd yang dulu menjadi tempat saya melakukan pengajaran saat saya kkn dulu. Dari sepluh sd, saya cuma pernah mengajar dulu di satu sd saat kkn dulu, dan kembali saat saya melihat jadwal yang disusun panitia indonesia mengajar, saya menemukan nama saya tertera dan di kolom di sbelahnya tertulis nama sd yang sama saat saya pernah mengajar di sana saat kkn lalu.

Sejak kebetulan kedua sebenarnya saya sudah yakin kalau ini merupakan takdir diri saya. Seiring dengan begitu banyaknya kebetulan yang ikut menjadi bagian dalam proses ini, saya harap ini merupakan tanda dari Allah kalau apa yang saya kerjakan sekarang benar adalah jalan hidup saya. Saya ga pernah merasakan kebetulan sebanyak ini sebelumnya, dan saya selalu bilang bahwa indonesia mengajar ini adalah jodoh terbesar dalam hidup saya.

Berjodoh

Posted in Uncategorized on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

2 Februari, 2012

Nisa,

Saya tidak tahu mengapa saya selalu berada dekat dengannya. Saya tidak pernah berusaha untuk menjalin hubungan dengan seorang Nisa. Pernah, saya ingat satu kali, dan cukup satu kali itu saja. Saya tidak ingat pernah merasa begitu tertarik untuk mengenal seorang pribadi sepertinya. Tanpa disadari, hubungan ini tercipta dengan sendirinya. Hubungan ini bukan muncul karena sistem simbiosis mutualisme yang kita kenal dalam pelajaran IPA. Saya yakin kami tidak merasa saling diuntungkan satu sama lain juga tidak saling merugikan. Betul kamu tidak merasa dirugikan dengan hubungan ini kan Nis? Ini hanya sangkaan saya saja.

Jodoh ini bermula sejak  saya bertanya padanya di suatu sore saat sedang mengisi lembar KRS pertama di bangku kuliah, tujuh tahun yang lalu. Saya katakan pada Nisa, “Ke kamar mandi yu!” Responnya saat itu, “Ngga ah.” Nisa langsung berbalik badan. Saya yakin dan saya ingat betul  kalau saat itu saya memutuskan untuk tidak akan berteman dengannya, seorang yang super cuek dan tidak ramah. Bukan karena saya takut pergi ke kamar mandi sendiri, lalu kemudian saya mengajak Nisa yang kebetulan duduk di depan saya. Saya hanya merasa perlu menjalin interaksi dengan seseorang dan bukankah itu hal umum untuk mengajak perempuan lainnya untuk menghabiskan waktu bersama berjalan ke kamar mandi?

Keputusan untuk mengajak dia ternyata salah, karena membuat saya telah menggunting ikatan awal yang mungkin saja terbentuk, karena sejak itu saya betul-betul merasa tidak perlu berteman dengannya. Tapi entah bagaimana, entah siapa, dan entah kenapa, pada akhirnya kami betul-betul terikat dalam sebuah pertemanan. Mungkinkah saya yang dengan khilafnya memulai kembali hubungan ini, atau kah Nisa? Sudah tidak penting lagi saat ini.

Kalau kalian berpikir hubungan kami sangat dekat, mungkin kalian yang salah mempersepsikan makna “teman”. Teman berdiskusi, karena Nisa itu cerdas, dia banyak membaca. Teman satu kelompok, karena Nisa itu cukup bertanggung jawab, dia bisa diandalkan. Teman satu blog, karena Nisa itu pandai menulis, dia ahlinya. Teman mengumpat, karena Nisa itu lelah, sama dengan saya. Teman satu nasib, karena Nisa itu mengekori saya, membuat kami berada dalam satu perahu yang sama.

Berada dalam satu ruang kelas yang sama selama 4 setengah tahun kuliah, ternyata tidak cukup membuat ikatan ini menjadi longgar.  Dengan mengagetkan saya, Nisa kembali datang memutuskan untuk ikut bergabung dalam sebuah gerakan yang sama dengan saya. Saat itu, saya sedang membuka sebuah website. Duduk bersila di lorong kantor jurusan Jurnalistik. Nisa datang mendekat dan menanyakan apa yang sedang saya lakukan. Kalau saja seandainya ia tidak bertanya, saya juga tidak mempunyai kewajiban untuk memberitahukan dia mengenai kegiatan yang sedang saya lakukan saat itu. Hal ini murni karena ia bertanya, jadi saya pun dengan santainya menjawab, “Mau apply ke Indonesia Mengajar.” Dan kami pun kembali bertemu di perahu yang sama. Kami sama-sama berlayar.

Sedang apa Nis?

Sudah Lama

Posted in Terasi with tags , on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

20 Februari, 2012

Jakarta

Sudah lama, sudah lama saya meninggalkan kota Jakarta. Tapi masalah waktu mungkin kita akan memiliki perbedaan persepsi makna. Saya bisa mengatakan kalau satu tahun yang lalu adalah waktu yang lama, tapi tidak dengan Anda. berbeda itu biasa.

Selamat tinggal Jakarta.

Sudah lama, sudah lama saya kembali ke Jakarta. Kembali, masalah waktu kini betul-betul diekpresikan berbeda. Saya katakan, tiga bulan yang lalu itu adalah waktu yang lama. Saya menjadi orang yang berbeda.