Berjodoh

2 Februari, 2012

Nisa,

Saya tidak tahu mengapa saya selalu berada dekat dengannya. Saya tidak pernah berusaha untuk menjalin hubungan dengan seorang Nisa. Pernah, saya ingat satu kali, dan cukup satu kali itu saja. Saya tidak ingat pernah merasa begitu tertarik untuk mengenal seorang pribadi sepertinya. Tanpa disadari, hubungan ini tercipta dengan sendirinya. Hubungan ini bukan muncul karena sistem simbiosis mutualisme yang kita kenal dalam pelajaran IPA. Saya yakin kami tidak merasa saling diuntungkan satu sama lain juga tidak saling merugikan. Betul kamu tidak merasa dirugikan dengan hubungan ini kan Nis? Ini hanya sangkaan saya saja.

Jodoh ini bermula sejak  saya bertanya padanya di suatu sore saat sedang mengisi lembar KRS pertama di bangku kuliah, tujuh tahun yang lalu. Saya katakan pada Nisa, “Ke kamar mandi yu!” Responnya saat itu, “Ngga ah.” Nisa langsung berbalik badan. Saya yakin dan saya ingat betul  kalau saat itu saya memutuskan untuk tidak akan berteman dengannya, seorang yang super cuek dan tidak ramah. Bukan karena saya takut pergi ke kamar mandi sendiri, lalu kemudian saya mengajak Nisa yang kebetulan duduk di depan saya. Saya hanya merasa perlu menjalin interaksi dengan seseorang dan bukankah itu hal umum untuk mengajak perempuan lainnya untuk menghabiskan waktu bersama berjalan ke kamar mandi?

Keputusan untuk mengajak dia ternyata salah, karena membuat saya telah menggunting ikatan awal yang mungkin saja terbentuk, karena sejak itu saya betul-betul merasa tidak perlu berteman dengannya. Tapi entah bagaimana, entah siapa, dan entah kenapa, pada akhirnya kami betul-betul terikat dalam sebuah pertemanan. Mungkinkah saya yang dengan khilafnya memulai kembali hubungan ini, atau kah Nisa? Sudah tidak penting lagi saat ini.

Kalau kalian berpikir hubungan kami sangat dekat, mungkin kalian yang salah mempersepsikan makna “teman”. Teman berdiskusi, karena Nisa itu cerdas, dia banyak membaca. Teman satu kelompok, karena Nisa itu cukup bertanggung jawab, dia bisa diandalkan. Teman satu blog, karena Nisa itu pandai menulis, dia ahlinya. Teman mengumpat, karena Nisa itu lelah, sama dengan saya. Teman satu nasib, karena Nisa itu mengekori saya, membuat kami berada dalam satu perahu yang sama.

Berada dalam satu ruang kelas yang sama selama 4 setengah tahun kuliah, ternyata tidak cukup membuat ikatan ini menjadi longgar.  Dengan mengagetkan saya, Nisa kembali datang memutuskan untuk ikut bergabung dalam sebuah gerakan yang sama dengan saya. Saat itu, saya sedang membuka sebuah website. Duduk bersila di lorong kantor jurusan Jurnalistik. Nisa datang mendekat dan menanyakan apa yang sedang saya lakukan. Kalau saja seandainya ia tidak bertanya, saya juga tidak mempunyai kewajiban untuk memberitahukan dia mengenai kegiatan yang sedang saya lakukan saat itu. Hal ini murni karena ia bertanya, jadi saya pun dengan santainya menjawab, “Mau apply ke Indonesia Mengajar.” Dan kami pun kembali bertemu di perahu yang sama. Kami sama-sama berlayar.

Sedang apa Nis?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: