Archive for the Terasi Category

Sudah Lama

Posted in Terasi with tags , on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

20 Februari, 2012

Jakarta

Sudah lama, sudah lama saya meninggalkan kota Jakarta. Tapi masalah waktu mungkin kita akan memiliki perbedaan persepsi makna. Saya bisa mengatakan kalau satu tahun yang lalu adalah waktu yang lama, tapi tidak dengan Anda. berbeda itu biasa.

Selamat tinggal Jakarta.

Sudah lama, sudah lama saya kembali ke Jakarta. Kembali, masalah waktu kini betul-betul diekpresikan berbeda. Saya katakan, tiga bulan yang lalu itu adalah waktu yang lama. Saya menjadi orang yang berbeda.

 

Iklan

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak…

Posted in Terasi, Uncategorized on Februari 15, 2008 by bungkusterasi

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak, maka mungkin aku harus bertanya pada siang itu, saat sebuah tangan menggenggam tanganku. Tanganmu. Memang, memang bukan untuk apa-apa. Hanya untuk dijabat.

Dan kau tersenyum…

Kita bicara soal cinta. Memang bukan berdua. Banyak. Ketika aku di sana dan menjadi sebuah bilangan, menatap setiap orang yang bertutur, membicarakan satu hal. Cinta. Lalu mengapa saat itu hanya aku yang terdiam?

Entahlah… ada yang terasa menyekat dan mencegahku untuk membicarakan sesuatu yang ingin kubagi berdua saja. Denganmu, yang tak pernah mempunyai kontrak apapun. Denganku, yang siang itu masih menjadi sebuah bilangan.

Hari itu siang. Memang tak terik. Tapi mengapa aku malah teringat malam? Sebuah malam, yang kuingat itu adalah hari Senin. Ya, pikiranku malah melayang ke sana. Ke dua malam sebelum ulang tahunmu, dan aku yang sedang berada di sebuah ruangan. Gelap, sambil meraba roll film yang tak bisa disentuh oleh cahaya. Ia tak bersinar, apalagi berwarna. Tak pernah berujar, tapi selalu berbicara tentang sesuatu. Tak menjanjikan keindahan, namun di dalamnya tersimpan sebuah kenangan…

Aku merabanya dengan sangat hati-hati, takut kalau cahaya akan membakar sesuatu yang berada di dalamnya. Seperti seorang bayi kecil yang begitu akan kulindungi, bukan karena jasadnya yang rapuh. Tapi karena dalam kerapuhannya itu, ada sesuatu yang ingin kulindungi. Sebuah cinta. Jikalau cinta itu memang bukan sebuah kontrak…

Karena dalam gulungan itu, yang kini menjadi deretan panjang roll film, ada wajahmu yang sedang tersenyum menatap kamera. Atau menatapku, yang diam-diam mengawasimu di balik lensa kecil itu?

Sudah berjam-jam aku di tempat itu. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi aku masih tetap tinggal. Menyelesaikan potretmu, menembaknya dalam kamar gelap, berharap ada sesosok wajah yang keluar dari sebuah kertas putih. Wajahmu.

Aku ingin menyelesaikannya, dan memberikan potret itu pada seseorang yang dua hari kemudian akan berulang tahun. Aku berharap ia akan senang, saat aku mengatakan bahwa aku yang mengerjakan semua. Mengambil gambarnya, mencucinya dalam sebuah tabung, menembaknya di sebuah kamar gelap, mencetak gambar wajahnya, walau hasilnya tak sempurna. Aku cuma ingin ia tau kalau aku sudah berusaha…

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak, lalu apa arti malam itu? Saat aku begitu ngotot untuk melakukan semuanya sendirian. Di malam yang aku tak meminta apapun darimu, tak membuat kontrak, dan pikiranku hanya padamu saja, yang beribu jarak terpaut denganku saat itu.

Di depan sana Vino masih saja berbicara. Kau juga. Tapi aku masih berpikir, benarkah aku tak tulus? Dan pertanyaan lain yang sama besar juga ikut menghantuiku. Atau apa aku benar-benar tulus? Entahlah….

Rasanya aku menjadi terlalu jahat kalau yang kurasakan ternyata hanya untuk sebuah kontrak. Seakan semua menjadi berpusat pada aku saja, dan kau hanya pelengkap untuk menambal segala yang kurang dari aku. Dan aku akan meninggalkanmu, kalau ternyata kau tak bisa mengisi yang kurang itu. Tapi apa memang seperti itu?

Entahlah… tapi ketika memikirkanmu, seperti Chairil, aku membayangkan sedang berjalan di sebuah pantai dan bayanganmu yang tiba-tiba muncul di sampingku. Kau tersenyum. Tiba-tiba saja kita menjadi begitu sangat dekat…

Seperti kau yang berkata akan berjalan bersamaku, maka aku melihat kau menggenggam tanganku. Bukan untuk dijabat, tapi benar-benar digenggam. Bagiku itu berbicara banyak.

Dan kita kembali berjalan, menghadapi apa yang ada di depan sana. Mungkin yang akan kukatakan saat itu ialah maaf, bukan maksudku untuk membagi nasib…

Namun kau tak berbicara sepatah kata pun. Kau hanya menggeleng pelan dan tersenyum. Genggamanmu semakin erat, seolah berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Bahwa kau masih ada di sampingku, dan belum beranjak pergi…

Karena itu aku menjadi kuat…

Kalian membicarakan tentang kepemilikan dalam cinta. Kalau aku ingin memilikimu, dan kau menganggapnya salah, mungkin ini memang sebuah dosa. Tapi yang kutau, ini cinta…

*****

14 Februari 2008,Untuk seseorang yang ingin selalu kumiliki dalam hati, agar ia tak pernah merasa terkekang…

NB: akhirnya aku tak menyerahkan foto itu. Tiba-tiba saja sebelum aku ingin memberikannya, negatif foto itu hilang. Jadi aku cuma punya foto itu satu. Mungkin Tuhan ingin aku menjaga yang satu itu. Jadi biar aku saja yang menyimpannya…

 

Di Sisi-Sisi Rel Kereta Api Bandung-Jogja

Posted in Terasi on Februari 8, 2008 by bungkusterasi

Apakah bangsa kita sangat miskin? duh, sepertinya itu hanya pertanyaan yang dibuat-buat….(udah deh Fat, ga usah belagak ga tau gitu).

Sumpah gw kaget banget, masa iya sih di desa…pliZ, itu hanya sebuah desa, bukan jakarta, bukan bandung, bukan pula jogja…hanya desa kecil yang masih bisa dihitung jumlah penduduk yang tinggal di sana…

Di saat anak-anak lain pergi ke sekolah, kenapa mereka malah dengan muka yang memelas berdiri di samping keretaku yang sedang berhenti. Meminta-minta, mencari rasa belaskasihan, menarik perhatian…

Terlihat ironis ketika ku melihat di sisi kiriku, anak-anak berseragam merah-putih sedang berjalan beramai-ramai…sambil tertawa riang…ketika kemudian mataku menoleh ke arah sebaliknya, maka hal sebaliknya pulalah yang aku lihat…

“Pak…minta uang pak…Bu minata uang bu…”

Terus-menerus sampai kemudian keretaku berjalan meninggalkan kekecewaan mereka, karena aku yang sok merasa peduli tidak melakukan apapun…Kasian Aku, Kasian Mereka

Seseorang minta restu..

Posted in Terasi on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

Seseorang minta restu. Kemarin, melalui  sms pada ibuku. Ia mau mengikuti ujian masuk universitas di kota. Pagi ini, seseorang datang ke rumahku. Pukul setengah enam, dengan berbaju hitam. Ia minta ayahku mentransfer energi. Biar SPMB-nya lancar, sahutnya…

            Dari balik kain gorden biru aku mengintip mereka. Ayahku, dan seorang teman lama yang sedang meminta energi. Keduanya tampak khusuk. Dengan mata terpejam, ayahku menempelkan tangannya ke pundak temanku. Pundaknya hitam, karena terlapisi baju yang dikenakannya. Sementara temanku, dengan mata terpejam tampak khusuk menengadahkan tangan. Seperti sedang berdoa saja…

            Ini bukan klenik, aku tau. Hanya penyembuhan alami seperti yang biasa kusaksikan di TVRI. Namun aku baru tau, kalau ternyata pengobatan juga manjur untuk kehidupan seseorang. Seseorang yang hendak beranjak ke kota.

            Di televisi, kusaksikan beribu orang sedang mengadu nasibnya untuk masuk ke universitas. Berjuta, malah…Angka kemiskinan memang ternyata hanya statistik. Ia tak bisa dibuktikan jika kita melihat orang-orang yang tidur di sebuah tenda di pinggir rel kereta. Ia juga tak bisa dijabarkan oleh orang-orang yang  berlomba masuk universitas yang nampaknya semakin membludak saja. Inilah Indonesia, kurasa…

            SBA kampusku masih tetap berjubel. Komputernya masih tetap satu. Penanganannya masih tetap lambat, dan seenaknya saja. Bahkan semester kemarin aku sempat dikirimi surat keterangan bahwa aku belum membayar SPP. Tidak tanggung-tanggung, di belakangnya tertera surat pengunduran diri jika aku tak sanggup membayar. Pastinya aku menjadi bulan-bulanan orang tuaku, karena saat SMP aku pernah menyelewengkan uang SPP selama 8 bulan. Kurasa mereka mengira aku melakukannya lagi. Nampaknya mereka belum mengerti bahwa manusia adalah makhluk yang tak stagnan…

            SBA di kampusku malu, karena ternyata aku memang sudah membayar. Kesalahan administrasi, sahut mereka. Dan ternyata di SBA banyak surat bertebaran seperti surat yang dilayangkan padaku. Aneh, kesalahan atau sebuah kebodohan kah? Karena saat aku hendak mengambil kartu UAN, namaku masih tertera sebagai salah seorang mahasiswa yang belum membayar. “SBA emang udah ass hole dari sananya..” aku berseloroh agar tidak emosi.

            Lucu, jika aku ingat salah satu cerita kawan sekampusku yang lain. “Pas masuk ke Unpad, dijanjiin gedung baru. Eh, gak taunya cuma gedung lama punya fakultas farmasi lagi… Padahal aku kan anak MIPA!” temanku pernah bercerita sambil tertawa mengenang masa-masanya. Mau tau kondisinya? Gedung itu ada di depan fakultas Farmasi, dengan lantai bukan keramik yang pecah di sana-sini. Dengan mengenaskan, ia juga bercerita ia harus menggunakan zat yang kadaluarsa untuk praktikum. “Anjrit, maenya urang kudu make hiji mokroskop ku sapuluh urang!” sahutnya mencak-mencak.

            Tapi buat apa mencak-mencak? Yang namanya kampus emang udah ass hole dari sononya! Bahkan seseorang pernah bercerita kalau di tempatnya pernah ada teman yang lulus saat sidang bukan karena skripsinya, tapi karena ia bisa bermain sulap! Dosen sekarang mudah dibohongi, makanya manfaatkanlah.. Toh yang kita incar memang hanya nilai dan gelar kan?

            Lucunya, aku yang kini berafiliasi dengan persma kampusku, beberapa bulan kemarin pernah membuat liputan tentang pembangunan Himendra, rektor lama kampusku yang namanya sulit sekali dieja. Aku sempat bertanya, untuk apa? Seperti biasa, aku menggunakan alasan birokrat kampus mah emang udah ass hole dari sananya! Trus mau apa? Dan dengan entengnya temanku berkata,”Buat review untuk rektor selanjutnya.”

Hahahaha…. !! Aku ingin sekali mengatakan kalau temanku itu naif! Orang yang hanya datang setahun sekali di depan mahasiswa untuk berpidato itu, mana sempat baca laporan mahasiswa? Permisi mas, udah berapa tahun ada di Unpad? Sayangnya dia tak pernah menjawab, karena aku memang tak pernah bertanya….

            Ini, ini kampusku yang setahun sekali menjadi putri yang diperebutkan berjuta pria haus cinta dari berbagai penjuru dunia. Di kampusku ada orang India juga. Dia selalu pakai tutup kepala, yang katanya tak pernah dicuci. Pasti baunya sama seperti sepatuku, sepatu belel yang hanya beberapa kali dicuci.

            “Kenapa ya, masih ada orang yang mau masuk ke Unpad?” suatu kali aku pernah bertanya . Dan Daleu, dosen  dari jurusan antropologi menjawab, “Kampus tuh ibaratnya pabrik pencipta tenaga kerja. Yang dibutuhin mahasiswa sekarang cuma jurusan yang bagus, yang lapangan kerjanya juga bagus. Masalah fasilitas jelek mah, gak jadi soal..” Aku mengangguk. Aku mengerti alasan mengapa semua orang seakan tak peduli…

            Lalu mengapa pagi tadi seseorang minta restu pada ibuku, dan meminta energi dari ayahku? Demi uangkah? Agar ia bisa masuk universitas di kota, hidup sukses dan bahagia…kaya-raya, foya-foya, dan masuk surga… Teuing ah, lieur!!!      

Benarkah Kita Sebuah Bangsa?

Posted in Terasi on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

Ketika berbicara tentang sebuah bangsa, maka kita akan kembali pada polemik yang hingga kini tak ada habisnya. Jika ada yang menganggap bahwa bangsa merupakan sebuah kesatuan, banyak orang mempertanyakan: kesatuan yang mana? Siapa yang merasa bersatu? Apalagi jika kita berbicara tentang kemajuan atau kebangkitan sebuah bangsa: untuk siapakah sebuah bangsa itu bangkit?

            Sebuah bangsa lahir, sebuah bangsa terbentuk, namun kita jarang bertanya untuk apa. Ben Anderson, menyebutkan bahwa sebuah bangsa adalah sebuah komunitas yang digagas, sebuah kebersamaan yang diimajinasikan (imagined community). Karena satu kebetulan sejarah, maka ada satu bangsa yang bernama Indonesia. Kebetulan sejarah itu memang bukan suratan takdir, tapi dalam kebetulan sejarah itu terdapat sekelompok orang yang merasa bernasib sama. Untuk itulah mereka berjuang, mengumandangkan gambaran bahwa yang kebetulan itu bukanlah kebetulan, dan komunitas bersama yang diimpikan itu bukan sekedar gagasan. Mereka punya satu harapan untuk bersama-sama membentuk hidup yang lebih baik. Mungkin karena itulah sebuah bangsa lahir.

            Berbicara tentang apa itu bangsa adalah sebuah wacana yang terlalu muluk untuk kita bicarakan saat ini, mungkin. Pada awalnya memang ada sekelompok orang yang menggagas impian tentang sebuah bangsa. Tapi yang kita saksikan baru-baru ini, ketika sekelompok elemen masyarakat semakin terpisah dengan elemen yang lain tanpa sebuah impian bersama, itulah gambaran bangsa. Orang memang bisa merasa senasib ketika mereka sama-sama menderita,  namun mereka menjadi lupa akan kebersamaan itu ketika mereka punya satu kepentingan tertentu yang biasanya bersifat pribadi. Di sini bangsa tak ubahnya hanya seperti sebuah permainan politik, dengan pameo-nya yang terkenal: “tidak ada lawan ataupun kawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi“. 

Bangsa dan Nasionalisme: Antara Masa Lalu dan Masa Kini

            Mengapa kita masih berbicara tentang sebuah bangsa – apalagi tentang arti dari nasionalisme – tak lain karena memang harus diakui kita masih kurang menyadari tentang bagaimana hidup bersama di bawah satu teritori yang kita cap sebagai bangsa. Tanpa kesadaran itu, yang nampak hanya sekelompok orang yang hidup bersama, namun tak ada kebersamaan di antara mereka.

            Ada yang sedikit berbeda antara nilai bangsa dengan nasionalisme-nya pada awal bangsa ini terbentuk, dengan nasionalisme yang berkecamuk saat ini. Nasionalisme zaman dulu dibentuk dengan sebuah kesadaran untuk saling berbagi dalam komunitas bersama yang disebut bangsa. Kita bisa melihat bagaimana sejumlah anak priayi Jawa yang tengah mencicipi privelese bersekolah tinggi dalam suasana kolonial awal abad ke-20, mampu berbicara tentang nasib rakyat kecil.

            “Sudah sejak dulu, pelajar-pelajar STOVIA telah membicarakan gagasan bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan rakyat kita, terutama rakyat kecil…“ Itulah yang mereka katakan, sekelompok orang yang tidak melarat namun berbicara akan penderitaan rakyat yang tak mereka rasakan. Sementara kalangan priayi tinggi lain mendirikan perkumpulan eksklusif dengan nama Sedya Mulya, mereka yang terkumpul dalam Budi Utomo, tak hanya berbicara tentang “rakyat kecil“, melainkan juga tentang “persaudaraan nasional”. Yakni suatu persatuan umum di Hindia Belanda, “tanpa perbedaan ras, jenis kelamin, ataupun kepercayaan“.

 Jelas apa yang mereka katakan bukan kalimat retoris belaka, seperti yang sering kita lihat saat ini terutama menjelang Pemilu. Mereka merupakan cerminan perasaan untuk ikut memiliki sebuah peninggalan yang kaya. Satu kenangan kolektif tempat berbagi sesal yang membekas, dan meneruskan warisan untuk terus membangun apa yang telah mereka perjuangkan. Mereka adalah orang yang hadir ketika menemukan bahwa sebagai bumi putera, mereka hidup sengsara di bawah ketiak “si menir“.

Namun bagaimana nasionalisme saat ini? Zaki Laidi, dalam A World Wihout Meaning mengatakan bahwa nasionalisme saat ini anti-universalis. Di dalamnya, tak akan ada lagi sekelompok anak priayi Jawa yang mau memikirkan nasib rakyat kecil. Nasionalisme ini tak punya tujuan akhir yang yakin akan bisa diterima kelompok lain.

Kiranya apa yang dikatakan Laidi benar adanya. Apa yang dianggap sah oleh orang Aceh atau Papua tak pernah digagas oleh para birokrat yang tinggal di Jakarta. Nasionalisme jenis ini tak bisa memahami, mengapa harus ada pembangunan di daerah yang bukan menjadi tempat lalu lalang para investor. Ia mengerat-erat yang besar menjadi bagian kecil dengan saling menonjolkan perbedaan masing-masing: antara Jawa dan bukan Jawa, antara birokrat dan rakyat, juga antara “si kaya” dan “si miskin”.

Ia mengangkat tinggi segala hal yang memisahkan diri dari orang lain di dekat kita. Akibatnya, pertalian dengan orang lain hanya dianggap sebagai buatan. Ia palsu, dan kita semakin sulit membedakan mana yang benar-benar murni rasa bersama, dan mana yang topeng belaka.

Nasinalisme ini menampik semua yang universal. Dalam proses antiuniversalitas-nya, banyak manusia yang telah menjadi korban “kebengisan” nasionalisme. Jutaan manusia yang disebut orang Indonesia dibunuh dan diusir dari rumah mereka oleh manusia yang juga disebut orang Indonesia. Daerah-daerah dikerat sesuai dengan kepentingan masing-masing. Ada yang bertugas untuk memproduksi hasil alam, ada juga yang hanya menikmatinya. Yang merasa dirugikan, akhirnya membuat nasionalisme sendiri: menjadi nasionalisme ala Aceh atau nasionalisme ala Papua. Inilah yang terjadi. Satu negeri dengan berjuta nasionalisme.

             Namun sepertinya dari awal memang yang universal dalam sebuah bangsa itu tak pernah ada. Arti kata senasib sepenanggungan, pada zaman penjajahan pun pernah menjadi nisbi. Nyatanya, yang merasa senasib sepenangungan hanyalah orang yang sama-sama menderita. Kaum menak, pengusaha, ataupun pejabat jaman kolonial mungkin tak merasakan itu. Kalaupun ada yang ikut berjuang, mungkin hanya segolongan. Beda lapisan sosial memang kadang berarti beda penderitaan.    

            Kontradiksi semakin melebar jika kita menanyakan, apakah bangsa itu? Sekelompok orang yang tinggal di bawah jembatan layang mungkin menyangsikan keberadaan dirinya dalam sebuah bangsa. Terlalu muluk, bagi mereka yang hanya menumpang hidup di sebuah teritori yang sudah di-cap milik sebuah bangsa. Jika ada hasrat untuk hidup bersama, siapakah yang berhasrat itu? Lagi-lagi, jika kita ingin meminta pendapat kaum miskin yang paling disulitkan sepanjang sejarah, mungkin mereka akan menggeleng. Keinginan mereka telah tenggelam dalam monopoli ukuran yang atas nama bangsa disebut sebagai kepentingan nasional.

            Pada akhirnya mungkin kita pun bingung, karena sebab apakah sebuah bangsa dan negara itu terbentuk? Dan untuk siapa? Namun toh kebingungan itu tak membuat kita berhenti untuk membuat sebuah bangsa itu ada. Kita tinggal memutuskan saja, hendak seperti apa, dan dengan apa kita membentuknya… 

 

 

Buruh, Ayah, dan aku…

Posted in Terasi on Desember 30, 2007 by bungkusterasi

aksi.jpg

Menjelang Magrib

Di sebuah sekretariat serikat kerja perburuhan, sore itu aku duduk-duduk bersama beberapa orang anggota serikat kerja. Hanya duduk bermalas-malasan, sambil sesekali bercanda ataupun berbincang-bincang tak tentu arah. Sementara di depan kami, salah seorang kawan terlihat asyik menonton acara anak di TPI. Awalnya kukira itu film “Eneng dan Kaus Kaki Ajaib”, film yang selalu kutertawakan namun entah mengapa kutonton juga. Tapi ternyata bukan. Film Entong. Dan aku hanya tertawa melihat kawanku yang berusia 30-an itu masih terlihat asyik menyaksikannya.

Yah, menonton televisi memang bukan soal acaranya bagus atau tidak. Tak usah terlalu banyak berdebat tentang hiburan yang mendidik setelah kita menonton acara Misteri Ilahi atau setelah kita melihat banyak ibu yang ‘menjual’ anaknya lewat sebuah kontes menyanyi di sebuah stasiun televisi swasta. Karena memang bodoh jika kita ingin mencari hiburan mendidik lewat stasiun yang dikuasai korporat berbadan tambun itu. Tak usah banyak berfikir lah! Kita hanya tinggal duduk yang manis, lalu menonton. Sesekali boleh juga kita tertawa. Menertawakan kekonyolan kita, atau apa yang kita tonton.

Sore itu aku sesekali bercerita bahwa rata-rata temanku menjadi buruh pabrik setelah keluar dari sekolahnya. Aku memang bukan ingin menceritakan teman-temanku yang tampaknya ‘menikmati’ profesi mereka sebagai buruh, atau salah satu temanku yang senang karena ditaksir salah seorang mandor muda berkebangsaan Cina. Hanya saja aku memang sulit melihat apa yang disebut para intelektual sebagai sebuah bentuk ‘ketertindasan’. Pada wajah-wajah itu, yang setiap gajian sibuk membeli parfum, ponsel, atau sepatu baru (walaupun aku tau mereka membelinya bukan di mall yang mewah, tapi hanya di lapak-lapak depan pabrik tempat mereka bekerja).

Karena itu aku sempat ilfil dan mengurungkan niat saat hendak mewawancarai mereka. “Aduh, meuni carentil kitu! Males euy ngadatanganna oge..” kira-kira begitulah sebabnya sampai aku terpaksa permisi dari tempatku mengamati para buruh yang harus memperlihatkan isi tas pada petugas keamanan sebelum mereka meninggalkan pabrik. Bodoh! Memang apa yang bisa mereka curi?

Akhirnya aku lebih memilih duduk di trotoar depan pabrik, bersama dua orang pengemis tua. Salah satunya buta. Jujur, saat itu aku lebih simpati pada mereka berdua ketimbang para buruh yang siang itu tampak asyik bercanda. Rasanya pikiranku telah mengasosiasikan ketertindasan dengan wajah murung, lelah, dan tak berdaya. Aku sempat lupa bahwa kebahagiaan memang bisa menjelma di mana saja, bahkan di ruang tergalap sekalipun.

Hermawan, advokat dari Perhimpunan Rakyat Pekerja yang saat itu duduk di hadapanku menjelaskan bahwa serikat buruh PT. Kahatex yang pernah kudatangi memang sudah kuat. Sehingga jika ada kebijakan dari perusahaan bisa langsung dikontrol. Itulah sebabnya setiap pekerja memang butuh serikat pekerja. Aku mengangguk setuju. Bagi negara yang pendidikannya rendah seperti saat ini, dan dimana kepala para atasan hanya diisi oleh bagaimana caranya mencapat keuntungan besar, memang sulit membuka ruang diskusi. Hak tawar hanya bisa didapat dengan kekuatan massa, dengan serikat pekerja sebagai penyangganya.

Aku rasa memang ini bukan cuma soal buruh. Ini soal pengkotak-kotakan istilah buruh karyawan, atau pekerja. Ini soal mengapa pemecatan, kontrak kerja, dan gaji yang rendah hanya menjadi masalah buruh. Dan empat tahun yang lalu, ayahku yang mantan pegawai PT Dirgantara Indonesia (PT. DI) itu membuktikannya. Persis seperti apa yang dikatakan mas Hermawan sore itu.

“Karena ada pengkotak-kotakan, mereka merasa aman. Gak mungkin terkena PHK. Waktu kita aksi mereka juga santai-santai aja di kantor. Akhirnya mereka kena PHK juga kan. Giliran itu terjadi, baru mereka aksi dan menuntut solidaritas. Bagus sih, mereka udah sadar. Tapi sayang mereka terlambat. Saat itu mereka baru sadar kalau kemungkinan dipecat bisa terkena pada siapa saja, selama memang hak tawar paling tinggi ada di majikan.”

Lagi-lagi aku harus mengangguk. Hal ini semakin menyadarkanku pada satu hal: setiap orang memang hanya mau berjuang ketika ia merasa hal itu relevan dengan hidupnya. Ketika hal itu dianggap sebagai permasalahannya… Dan tenggelam lah semua orang dengan permasalahannya masing-masing. Kita semua teralienasi.

Oh iya, baru-baru ini aku mendapat tugas menulis feature dengan tema yang absurd: penderitaan. Semua orang berbondong-bondong mewawancarai pengemis, anak jalanan, buruh, atau orang korban PHK. Seakan mahasiswa-mahasiswa itu tau persis bahwa mereka memang menderita. Mereka luput akan satu hal yang menjadi semangat orang-orang seperti itu untuk terus hidup: perjuangan… (aku bisa berbicara seperti ini, karena aku pun bagian dari mereka. Ingat, ayahku pun korban PHK. Tanpa pesangon).

Dan kepada mereka, ingin sekali kukatakan, “Ah, sok tau kalian!”

Luka Itu Mengerikan

Posted in Terasi on Desember 26, 2007 by bungkusterasi

Nani 

Kuingat hari itu hari minggu. Tidak mendung. Suasananya sejuk, berawan, angin sepoi-sepoi bertiup, membuat diri terus merasa nyaman dengan alam. Hari itu, Minggu, 11 Nopember 2007, aku datang ke  kediamannnya, di Kompleks Pasir Jati, Bandung. Sendirian. Tiba pukul empat sore, baru pulang hampir tengah malam. Sendirian.

Nani (42), ibu dua anak, satu suami. Hanyalah perempuan biasa pada awalnya. Sakit yang ia derita membuatku yakin bahwa ia bukanlah seorang perempuan biasa.

Nani menderita kanker payudara stadium empat lanjut. Sudah tiga tahun ia merasakan keganasan dari penyakit ini. Membuatnya sentantiasa akrab dengan kasur, berbaring, dan tak kuat menahan fisik yang semakin berkurang daya tahannya.

Ketika sampai di rumahnya, aku banyak berbicara dengan anak pertamanya, Puspa (20). Ia satu kampus denganku di Unpad, tapi beda jurusan.

Puspa banyak bercerita. Entah. mungkin bisa kukatakan cerita sedih, karena memang membuat mataku berkaca-kaca. Aku ingin menangis, tapi kutahan. Mungkin bisa kukatakan cerita inspirasi, karena memang membuatku merasakan perjuangannya. Mungkin bisa kukatakan cerita yang bagus, karena memang apa yang disampaikannya sangat menarik. Tapi kuyakin, ini tidak bisa kukatakan cerita lucu atau cerita yang menyenangkan, karena aku memang tidak bisa tertawa.

Nani masih enggan untuk diajak bertemu. Kata Puspa, ibundanya ingin beristirahat. Aku tidak keberatan. Menjelang malam, aku merasa sedikit resah. Beberapa keluarga suami Puspa datang. Aku lupa mengatakan, saat ini Puspa sedang hamil tiga bulan. Nani makan malam ditemani keluarga menantunya. Banyak tawa di sana. Saling melempar kata-kata lucu, saling mengejek, terlihat senyum, dan terdengar suara-suara riang, penuh canda tawa.

Tiba saat Nani untuk digantikan perban pada luka di payudara kirinya. Aku meminta izin untuk ikut serta dalam proses itu. Kuingat Puspa berkata, “Belum siap,” itu saja. Aku pasrah, yah…apa boleh buat.

Aku bertanya lagi, merasa kurang puas, “Ibunya ga mau ya….?”

“Bukan begitu, ibu ga masalah. Tapi Fatianya takut ga siap,” jelas Puspa. Ternyata sejak tadi aku salah paham. Bukan ibunya yang belum siap, tapi aku. Seketika kukatakan, “Bismillah, insyallah siap.”

Aku lemas saat itu juga. Saat perban yang melapisi luka itu dibuka. Allahhu akbar. Nani masih bisa tertawa. Beberapa kali ia memang meringis. Pasti sakit. Tapi, sumpah aku tidak bohong, ia benar-benar tersenyum, bahkan tertawa.

Apa yang bisa aku katakan tentang luka itu? Entahlah, kemampuanku untuk mendeskripsikannya mungkin akan terdengar dilebih-lebihkan, atau malah tidak seperti apa yang sebenarnya, tapi aku akan berusaha.  

Payudara kiri Nani sudah tidak ada. tidak ada lagi kulit yang melindungi daging di dalamnya. Ada bagian-bagian yang berwarna putih, bernanah. diakui Nani luka itu seringkali berbau anyir. Seperti kawah gunung berapi. Daging-daging merah, tidak ada kulit yang melapisi, seperti luka koreng yang tak berkesudahan. Mengerikan.

Nani sangat kuat. Nani ingin sembuh. Terus berjuang. Berdoa dan berdoa. Aku berharap yang terbaik untuknya.