Archive for the Uncategorized Category

Berjodoh

Posted in Uncategorized on Februari 20, 2012 by bungkusterasi

2 Februari, 2012

Nisa,

Saya tidak tahu mengapa saya selalu berada dekat dengannya. Saya tidak pernah berusaha untuk menjalin hubungan dengan seorang Nisa. Pernah, saya ingat satu kali, dan cukup satu kali itu saja. Saya tidak ingat pernah merasa begitu tertarik untuk mengenal seorang pribadi sepertinya. Tanpa disadari, hubungan ini tercipta dengan sendirinya. Hubungan ini bukan muncul karena sistem simbiosis mutualisme yang kita kenal dalam pelajaran IPA. Saya yakin kami tidak merasa saling diuntungkan satu sama lain juga tidak saling merugikan. Betul kamu tidak merasa dirugikan dengan hubungan ini kan Nis? Ini hanya sangkaan saya saja.

Jodoh ini bermula sejak  saya bertanya padanya di suatu sore saat sedang mengisi lembar KRS pertama di bangku kuliah, tujuh tahun yang lalu. Saya katakan pada Nisa, “Ke kamar mandi yu!” Responnya saat itu, “Ngga ah.” Nisa langsung berbalik badan. Saya yakin dan saya ingat betul  kalau saat itu saya memutuskan untuk tidak akan berteman dengannya, seorang yang super cuek dan tidak ramah. Bukan karena saya takut pergi ke kamar mandi sendiri, lalu kemudian saya mengajak Nisa yang kebetulan duduk di depan saya. Saya hanya merasa perlu menjalin interaksi dengan seseorang dan bukankah itu hal umum untuk mengajak perempuan lainnya untuk menghabiskan waktu bersama berjalan ke kamar mandi?

Keputusan untuk mengajak dia ternyata salah, karena membuat saya telah menggunting ikatan awal yang mungkin saja terbentuk, karena sejak itu saya betul-betul merasa tidak perlu berteman dengannya. Tapi entah bagaimana, entah siapa, dan entah kenapa, pada akhirnya kami betul-betul terikat dalam sebuah pertemanan. Mungkinkah saya yang dengan khilafnya memulai kembali hubungan ini, atau kah Nisa? Sudah tidak penting lagi saat ini.

Kalau kalian berpikir hubungan kami sangat dekat, mungkin kalian yang salah mempersepsikan makna “teman”. Teman berdiskusi, karena Nisa itu cerdas, dia banyak membaca. Teman satu kelompok, karena Nisa itu cukup bertanggung jawab, dia bisa diandalkan. Teman satu blog, karena Nisa itu pandai menulis, dia ahlinya. Teman mengumpat, karena Nisa itu lelah, sama dengan saya. Teman satu nasib, karena Nisa itu mengekori saya, membuat kami berada dalam satu perahu yang sama.

Berada dalam satu ruang kelas yang sama selama 4 setengah tahun kuliah, ternyata tidak cukup membuat ikatan ini menjadi longgar.  Dengan mengagetkan saya, Nisa kembali datang memutuskan untuk ikut bergabung dalam sebuah gerakan yang sama dengan saya. Saat itu, saya sedang membuka sebuah website. Duduk bersila di lorong kantor jurusan Jurnalistik. Nisa datang mendekat dan menanyakan apa yang sedang saya lakukan. Kalau saja seandainya ia tidak bertanya, saya juga tidak mempunyai kewajiban untuk memberitahukan dia mengenai kegiatan yang sedang saya lakukan saat itu. Hal ini murni karena ia bertanya, jadi saya pun dengan santainya menjawab, “Mau apply ke Indonesia Mengajar.” Dan kami pun kembali bertemu di perahu yang sama. Kami sama-sama berlayar.

Sedang apa Nis?

mereka bilang SEMANGAT!

Posted in Uncategorized on Maret 4, 2009 by bungkusterasi

ini tulisan gw, curhatan gw, bukan nisa…hehehe melanjutkan blog milik bersama ^_^

catatan orang yang kelelahan

beberapa hari yang lalu, gw stress! pernah lo merasa tidak memiliki arti? itu yang gw rasain saat itu. tidak memiliki arti untuk orang lain, bahkan setelah lo udah ngasih semuanya: pikiran, tenaga, juga materi. semuanya! (apalagi yang bisa gw kasih? karena udah semuanya). juga tidak memiliki arti buat diri sendiri, karena gw ngerasa apa yang udah gw lakuin, semuanya tak memiliki arti, sia-sia, gw ga berguna.

kebanyakan orang berpikir: itulah gunanya kita memiliki teman, sahabat, keluarga, juga pacar (hehe, gw ga punya pacar deng). mereka berusaha menyemangati kita, sesuai dengan fungsinya. dan betapa mereka begitu berarti di saat kita dalam kondisi yang paling parah. tapi, itu tidak gw rasakan. bagi gw, itu menyiksa.

gw tidak butuh semangat: “Semangat! Kamu bisa”, “gw yakin lo kuat, Semangat!”, “oyo fat, Semangat! lw bukan orang yang lemah”, “blablabla, Semangat! lalalalala”.  semangat itu berubah menjadi siksaan. gw pun berpikir: “oooo gw harus lebih berusaha lagi”, “gw mampu, ini masih belum cukup”. al hasil, gw terkapar.

“tali itu harus dikundurkan,” sayang, begitu seharusnyagw lelah. Semagnat! (terus tarik, biar putus sekalian!) itu maksudnya?!! kalian cukup bilang, dan seharusnya kalian bilang: “udah fat, udah cukup”, “kamu sudah cukup berusaha”, “istirahat”. itu yang gw butuh kan. 

kepada teman-teman yang dengan cinta kasihnya terus menopangku dan menyemangatiku. maaf… gw tidak paham

Aku ingin….

Posted in Uncategorized on Maret 7, 2008 by bungkusterasi

Aku ingin sekali melarikan diri…Dari diriku, dan segala tentangku. Tapi aku tak menemukan tempat untuk bersembunyi…..

Dilarang minum kopi….

Posted in Uncategorized on Maret 2, 2008 by bungkusterasi

Ayah    : Kopi lagi…kopi lagi…dikasih taunya bandel nih anak!

Aku diem

Ayah    : Skalian aja sama rokoknya Nis!

Aku      : Nantangin, nyuruh, atau ngasih saran? Tapi idenya boleh juga… (dalam hati. Kalo diomongin langsung, takut digorok!)

lebih-keren.gif

Tampaknya di bawah sistem yang tak memperbolehkan perempuan melakukan apapun selain yang digariskan, perempuan juga harus membebaskan dirinya sendiri dari apapun yang mencegahnya untuk melakukan sesuatu hanya karena ia seorang perempuan… (PAM)

Andreas yang Kutemui Waktu Itu…

Posted in Uncategorized on Maret 2, 2008 by bungkusterasi

Foto Andreas yang kuambil dari blognya. Hihihi….

Malam itu Andreas asyik memasak pancake untuk anaknya, ketika aku dan seorang kawan memutuskan untuk bertandang dari Bandung. Di apartemennya, Andreas menyambut kami dengan sangat ramah, walau kedua tangannya tak henti menyiapkan ini dan itu. Anak semata wayangnya yang asyik menonton televisi datang mengambil pancake hangat yang sengaja Andreas buat. Andreas tersenyum senang.

Dua orang yang dikenal malas mandi, malas mendengarkan dosen, dan malas mengerjakan tugas, tiba-tiba saja dengan semangat menggebu ingin bertemu dengan orang-orang yang namanya hanya sering disebut di buku. Bandung – Senayan – Utan Kayu – Senayan – Bandung, rasanya seperti berangkat dari kamar kosan ke kampus.

Kini Andreas duduk di hadapanku. Kaus putihnya senada dengan parasnya yang selalu menimbulkan respek. Sikapnya yang antusias membuat kami merasa sangat diperhatikan. Sorot matanya sangat ramah. Tapi di panasnya malam Jakarta, Andreas malah bercerita tentang keluarganya.

Kecintaan pada anak semata wayangnya, Norman, yang tak bisa ia sembunyikan, mantan istri pertamanya yang tak kunjung ia mengerti, hingga baby sitter Norman yang ternyata dipecat mantan istrinya pagi tadi. “She is the only light, the only candle in the darkness…” Seingatku, itu yang dituliskan Norman pada Komisi Perlindungan Anak tentang baby sitter itu. Dan kini ia telah pergi.

Saat mengungkapkan semuanya, tiba-tiba dalam sorot matanya yang ramah, kulihat ada kepedihan…

Tapi aku memang tak bisa berkata apa-apa. Aku mengutuk diriku karena tak mampu melakukan apapun untuknya. Apa yang mampu kulakukan hanya satu, mengirimkan beberapa pesan singkat ketika aku berada dalam bus, yang mungkin tak akan mengubah apapun baginya.

Sial. Aku malah teringat kepedihanku sendiri. Jalanan masih tampak gelap, dan hanya menyisakan lampu sorot mobil untuk kupandang. Hampa. Untuk menghibur diri, aku mengingat sebuah lagu yang selalu kunyanyikan ketika aku merasa tertekan. Memutar lagu lama itu kembali dalam benakku…

“There’s nothing here for me on this barren road/There’s no one here while the city sleeps and all the shops are closed/Can’t help but think of the times I’ve had with you/Pictures and some memories will have to help me through,”

“Aku cuma seorang ayah yang kerepotan mengurus anak semata wayangnya…” Itu isi sms dari Andreas. Saat itu aku tahu bahwa hidup ini kadang menjadi berat untuk ia lalui dengan segala kemandirian dan prestasinya yang mengagumkan…

*****

Sebelum malam itu aku dan kawanku tersenyum simpul. Sebabnya, siang hari sebelum kami mendatangi apartemen Andreas, secara tak sengaja kami berpapasan dengannya. Kulihat ia berjalan sambil mengapit lengan putranya, Norman. Dua orang itu kemudian berhenti di pinggir jalan sambil menikmati es tebu. Sungguh pemandangan yang semakin sulit didapatkan di pinggiran kota Jakarta. Ah, andai saja kami membawa kamera…

Malamnya kami bertiga berbincang akrab, sambil sesekali diiringi canda tawa. Lengan kirinya yang bertato, tetap saja tak bisa menghapuskan kesan ramah pada orang yang sangat menikmati hidupnya sebagai wartawan ini.

Sesudah bertandang ke kediamannya kami berdua merasa girang. Diemas, terutama. Karena ia sudah memimpikan bertemu Andreas sejak lama. Ia mengucapkan terima kasih pada Andreas, dan berjanji akan menjadi wartawan yang hebat. Tiba-tiba saja ia mengikrarkan diri tidak akan bermalas-malasan seperti yang biasa kami lakukan. Padahal beberapa jam yang lalu aku masih tertawa cekikikan melihat Diemas yang dimarahi ayahnya, karena IPK-nya jeblok.

Aku sendiri memang sangat girang bisa bertemu dengan orang hebat, yang membuatku sadar bahwa masih ada jurnalis yang tidak tunduk hanya pada uang. Jurnalis yang bukan tukang. Jurnalis yang ramah, yang masih sempat membuatkan pancake untuk putra semata wayangnya… Yang paling membuatku girang tentu karena akhirnya aku berani turun menggunakan lift! Padahal sudah beberapa tahun ini aku berusaha menghindar kalau harus berurusan dengan gedung tinggi. Aku sampai melompat-lompat kegirangan dalam lift, saat aku tau aku berhasil mengatasi rasa takutku. Untung saat itu hanya Diemas yang melihat…

Saat itu aku belajar untuk tidak mengizinkan rasa takut menghalangiku menemukan saat-saat terbaik dalam hidup…

*****

Dalam bis,

Malam itu, rasa senang dan sakit bercampur menjadi satu…

Seperti aku yang mengeluarkan air mata ketika tertawa, mungkin bahagia dan rasa sakit memang datang beriringan dari sisi paling misterius dari dalam diri manusia. Ketika memikirkan itu aku jadi teringat ocehan seorang teman. “Trus mau ngapain lagi kalo nggak ketawa-ketawa? Seenggaknya dari situ berarti kita masih punya harapan hidup dan nggak menyerah atau memilih mati…”

Sms terakhirku tak dijawab Andreas. Bosan menunggu, dalam bis aku tertidur sambil tersenyum menyeringai. Hidup memang kadang harus dilawan…

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak…

Posted in Terasi, Uncategorized on Februari 15, 2008 by bungkusterasi

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak, maka mungkin aku harus bertanya pada siang itu, saat sebuah tangan menggenggam tanganku. Tanganmu. Memang, memang bukan untuk apa-apa. Hanya untuk dijabat.

Dan kau tersenyum…

Kita bicara soal cinta. Memang bukan berdua. Banyak. Ketika aku di sana dan menjadi sebuah bilangan, menatap setiap orang yang bertutur, membicarakan satu hal. Cinta. Lalu mengapa saat itu hanya aku yang terdiam?

Entahlah… ada yang terasa menyekat dan mencegahku untuk membicarakan sesuatu yang ingin kubagi berdua saja. Denganmu, yang tak pernah mempunyai kontrak apapun. Denganku, yang siang itu masih menjadi sebuah bilangan.

Hari itu siang. Memang tak terik. Tapi mengapa aku malah teringat malam? Sebuah malam, yang kuingat itu adalah hari Senin. Ya, pikiranku malah melayang ke sana. Ke dua malam sebelum ulang tahunmu, dan aku yang sedang berada di sebuah ruangan. Gelap, sambil meraba roll film yang tak bisa disentuh oleh cahaya. Ia tak bersinar, apalagi berwarna. Tak pernah berujar, tapi selalu berbicara tentang sesuatu. Tak menjanjikan keindahan, namun di dalamnya tersimpan sebuah kenangan…

Aku merabanya dengan sangat hati-hati, takut kalau cahaya akan membakar sesuatu yang berada di dalamnya. Seperti seorang bayi kecil yang begitu akan kulindungi, bukan karena jasadnya yang rapuh. Tapi karena dalam kerapuhannya itu, ada sesuatu yang ingin kulindungi. Sebuah cinta. Jikalau cinta itu memang bukan sebuah kontrak…

Karena dalam gulungan itu, yang kini menjadi deretan panjang roll film, ada wajahmu yang sedang tersenyum menatap kamera. Atau menatapku, yang diam-diam mengawasimu di balik lensa kecil itu?

Sudah berjam-jam aku di tempat itu. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi aku masih tetap tinggal. Menyelesaikan potretmu, menembaknya dalam kamar gelap, berharap ada sesosok wajah yang keluar dari sebuah kertas putih. Wajahmu.

Aku ingin menyelesaikannya, dan memberikan potret itu pada seseorang yang dua hari kemudian akan berulang tahun. Aku berharap ia akan senang, saat aku mengatakan bahwa aku yang mengerjakan semua. Mengambil gambarnya, mencucinya dalam sebuah tabung, menembaknya di sebuah kamar gelap, mencetak gambar wajahnya, walau hasilnya tak sempurna. Aku cuma ingin ia tau kalau aku sudah berusaha…

Kalau cinta memang hanya sebuah kontrak, lalu apa arti malam itu? Saat aku begitu ngotot untuk melakukan semuanya sendirian. Di malam yang aku tak meminta apapun darimu, tak membuat kontrak, dan pikiranku hanya padamu saja, yang beribu jarak terpaut denganku saat itu.

Di depan sana Vino masih saja berbicara. Kau juga. Tapi aku masih berpikir, benarkah aku tak tulus? Dan pertanyaan lain yang sama besar juga ikut menghantuiku. Atau apa aku benar-benar tulus? Entahlah….

Rasanya aku menjadi terlalu jahat kalau yang kurasakan ternyata hanya untuk sebuah kontrak. Seakan semua menjadi berpusat pada aku saja, dan kau hanya pelengkap untuk menambal segala yang kurang dari aku. Dan aku akan meninggalkanmu, kalau ternyata kau tak bisa mengisi yang kurang itu. Tapi apa memang seperti itu?

Entahlah… tapi ketika memikirkanmu, seperti Chairil, aku membayangkan sedang berjalan di sebuah pantai dan bayanganmu yang tiba-tiba muncul di sampingku. Kau tersenyum. Tiba-tiba saja kita menjadi begitu sangat dekat…

Seperti kau yang berkata akan berjalan bersamaku, maka aku melihat kau menggenggam tanganku. Bukan untuk dijabat, tapi benar-benar digenggam. Bagiku itu berbicara banyak.

Dan kita kembali berjalan, menghadapi apa yang ada di depan sana. Mungkin yang akan kukatakan saat itu ialah maaf, bukan maksudku untuk membagi nasib…

Namun kau tak berbicara sepatah kata pun. Kau hanya menggeleng pelan dan tersenyum. Genggamanmu semakin erat, seolah berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Bahwa kau masih ada di sampingku, dan belum beranjak pergi…

Karena itu aku menjadi kuat…

Kalian membicarakan tentang kepemilikan dalam cinta. Kalau aku ingin memilikimu, dan kau menganggapnya salah, mungkin ini memang sebuah dosa. Tapi yang kutau, ini cinta…

*****

14 Februari 2008,Untuk seseorang yang ingin selalu kumiliki dalam hati, agar ia tak pernah merasa terkekang…

NB: akhirnya aku tak menyerahkan foto itu. Tiba-tiba saja sebelum aku ingin memberikannya, negatif foto itu hilang. Jadi aku cuma punya foto itu satu. Mungkin Tuhan ingin aku menjaga yang satu itu. Jadi biar aku saja yang menyimpannya…